TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR - Kamis (6/8/2026) siang seharusnya menjadi perjalanan biasa bagi para penumpang speedboat Sekatak AAA. Ada yang hendak pulang, membawa keluarga pindah rumah, hingga mengantar orang tua berobat ke Tarakan.
Namun, perjalanan dari Pelabuhan Kayan II Tanjung Selor menuju Pelabuhan Tengkayu I Tarakan itu berubah menjadi kepanikan setelah speedboat terbakar di perairan Desa Salimbatu, Kecamatan Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Bagi para korban yang selamat, kejadian tersebut meninggalkan cerita berbeda-beda. Ada yang terbangun karena kepanikan, ada yang harus menyelamatkan anak dan keluarganya, hingga seorang anak yang harus memastikan ayahnya yang sedang sakit ikut keluar dari kapal.
Salah satunya diceritakan Reski, penumpang yang duduk di bagian belakang speedboat. Ia pertama kali menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika mencium aroma menyengat seperti karet terbakar.
"Awalnya mencium bau seperti karet terbakar gitu. ABK keluar lihat posisi, ternyata sudah keluar asap," ujar Reski.
Anak buah kapal (ABK) kemudian mengambil alat pemadam api ringan (APAR) untuk mencoba mengatasi sumber api. Namun, menurut Reski, upaya tersebut tidak berhasil meredakan kobaran.
"ABK pergi ambil semprotan warna merah (APAR) ternyata tidak sanggup. Pas disemprot, api malah naik semua," tuturnya.
Dalam hitungan waktu, kepanikan menyebar ke seluruh kabin. Para penumpang bergerak menuju bagian depan kapal untuk menyelamatkan diri. Bahkan, menurut Reski, ABK belum sempat memberikan imbauan karena para penumpang sudah lebih dulu menyadari bahaya.
Asap tebal membuat mereka tak lagi berpikir panjang. Ketika speedboat berhasil diarahkan mendekati tepian, para penumpang langsung berupaya keluar dan sebagian melompat ke pinggir perairan.
Baca juga: Nakhoda Ambil Inisiatif Kandaskan Speedboat, Permudah Penyelamatan Penumpang
Di tengah kepanikan yang sama, Mira, 29 tahun, menghadapi situasi yang tak kalah menegangkan bersama suami dan buah hatinya.
Sesampainya di Pelabuhan Kayan II setelah dievakuasi, Mira terlihat berjalan tanpa alas kaki. Sang suami menuntunnya sembari menggendong anak mereka. Wajahnya masih pucat, sementara syok akibat kejadian tersebut belum sepenuhnya hilang.
Mira mengatakan dirinya dan keluarga selamat, meski anaknya mengalami luka kecil seperti goresan.
"Alhamdulillah tidak ada luka, hanya tadi anak luka kecil macam goresan," katanya.
Menurut Mira, api muncul dari bagian belakang speedboat setelah mesin tiba-tiba mati. Asap dan percikan api kemudian membuat suasana di dalam kabin berubah kacau.
"Posisi di dalam kabin sudah sangat panik. Tadi banyak orang yang sadar pas kebakaran jadi langsung panik. Saat kebakaran kita sibuk menyelamatkan diri sendiri saja masing-masing," ujarnya.
Bagi keluarga Mira, musibah itu terasa semakin berat karena perjalanan tersebut bukan sekadar bepergian. Mereka merupakan rombongan keluarga asal Biduk Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang hendak pindah rumah ke Nunukan.
Perjalanan pertama Mira menggunakan speedboat itu justru berakhir dengan seluruh barang bawaan mereka hangus terbakar.
Baju yang melekat di badan dan beberapa helai pakaian yang tersimpan dalam kantong kresek menjadi sebagian kecil barang yang masih tersisa.
Cerita berbeda datang dari Angga, warga Kabupaten Berau lainnya. Ia menaiki speedboat tersebut bersama sang ayah yang sedang sakit untuk dirujuk ke RSUD Dr. H. Jusuf SK Tarakan.
Saat kejadian, Angga sedang tertidur atau memejamkan mata di dalam kabin. Ia tersentak setelah mendengar kepanikan penumpang dan melihat asap tebal mengepul.
"Saya posisi pejam mata dan kaget, tiba-tiba situasi sudah pada panik. Saya tidak melihat apinya, tahunya asap tebal mengepul ke atas, ya sudah langsung keluar semua," kata Angga.
Namun, di tengah kepanikan itu, Angga tidak bisa langsung menyelamatkan diri. Ia harus memastikan sang ayah yang sedang sakit dapat dievakuasi.
Sang ayah tidak mampu bergerak sendiri sehingga penumpang dan ABK bersama-sama menggendongnya menuju bagian pinggir kapal.
"Saat kejadian, bapak dievakuasi dengan digendong bareng-bareng menuju pinggir karena posisi sakit dan mau dirujuk ke Rumah Sakit. Karena posisi bapak sedang sakit jadi tidak bisa evakuasi diri sendiri," tuturnya.
Setelah berhasil keluar dari speedboat, Angga dan sang ayah bersama penumpang lainnya dievakuasi menggunakan armada berukuran lebih kecil menuju tempat aman.
Nyawa mereka memang terselamatkan. Tetapi hampir seluruh barang milik Angga tidak ikut kembali bersamanya.
Tas, dompet, hingga surat rujukan sang ayah untuk keperluan pengobatan ikut terbakar.
"Barang-barang sudah habis. Semua barang di dalam tas, dompet, hingga surat rujukan bapak ikut terbakar di dalam. Tapi alhamdulillahnya kita semua selamat," ucapnya.
Sang ayah kemudian melanjutkan perjalanan ke Tarakan menggunakan speedboat lain bersama anggota keluarga. Sementara Angga memilih tinggal sementara untuk mengurus berbagai dampak musibah tersebut.
Bagi Angga, kejadian itu juga meninggalkan ketakutan tersendiri. Speedboat Sekatak AAA merupakan armada speedboat pertama yang pernah ia naiki.
Pengalaman pertama tersebut justru membuatnya trauma untuk kembali menggunakan transportasi air.
"Jujur saya trauma, karena ini baru pertama kali naik speed. Jadi saya tidak tahu nanti masih berani naik speed lagi atau tidak," pungkasnya.
(*)