BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kondisi terbaru warga Tanjung Tanahlaut Kalsel yang alami kesulitan air bersih, sumur bor terbatas.
Persediaan air bersih mulai menjadi persoalan bagi warga Desa Tanjung, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan.
Memasuki musim yang membuat sumber air semakin terbatas. Warga di sejumlah dusun mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk aktivitas sehari-hari.
Kepala Desa Tanjung, Sukandar, mengatakan kondisi paling terasa saat ini terjadi di Dusun 3.
Baca juga: Temukan Anomali Distribusi BBM Subsidi di Kalsel, Pansus Lakukan Pendalaman dan Kumpulkan Data
Baca juga: Api Kepung Kampus 2 UIN Antasari, Sebanyak 119 Karhutla di Banjarbaru Hanguskan 664 Hektare
Di kawasan tersebut terdapat sekitar 600 jiwa yang bergantung pada sumber air yang jumlahnya terbatas.
“Di Dusun 3 itu ada satu titik sumur bor, lokasinya di lingkungan masjid. Itu dulu dari anggota dewan," ujar Sukandar, Selasa (11/8/2026).
Persoalannya, tidak semua warga memilih mengambil air dari sumur bor yang berada di kawasan masjid itu.
Umumnya warga sungkan mengambil air di lingkungan masjid tersebut karenakhawatir penggunaan air dalam jumlah besar akan berdampak pada meningkatnya konsumsi listrik masjid.
Sebagian warga akhirnya memilih mencari sumber air alternatif dengan melangsir air dari sumur bor di dusun tetangga seperti di Dusun 4 yang lokasinya cukup jauh.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik sumur bor tersebut, warga juga harus bergotong royong melalui iuran.
Kondisi ini, menurut Sukandar, telah berlangsung sekitar setengah bulan terakhir. Kekurangan air bersih juga mulai dirasakan warga di Dusun 5. Termasuk Dusun 4.
Sementara Dusun 6 yang berada di ujung desa relatif masih aman. Menariknya, meski lokasinya berdekatan dengan kawasan pegunungan, kondisi sumber air di wilayah tersebut justru cukup baik.
“Di Dusun 6 masih aman. Ternyata daerah yang berbatu itu airnya masih bagus,” kata Sukandar.
Sukandar mengungkapkan, idealnya setiap dusun memiliki sekitar lima unit sumur bor untuk menunjang kebutuhan air warga.
Namun, pada kenyataannya rata-rata dusun saat ini hanya memiliki sekitar dua titik sumur bor.
Kesenjangan tersebut membuat sejumlah wilayah lebih rentan ketika sumber air mulai berkurang.
Persoalan pemerataan juga menjadi perhatian pemerintah desa. Sepanjang tahun ini, telah ada pembangunan sumur bor baru melalui paket kegiatan dari wakil rakyat.
Namun, menurut Sukandar, lokasi pembangunan sumur bor tersebut justru berdekatan dengan sumur bor yang sudah ada. Hal ini juga berimplikasi pada keluhan warga.
Karena itu, pemerintah desa berharap pembangunan fasilitas air bersih ke depan tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah sumur bor, tetapi juga memperhatikan pemetaan kebutuhan dan pemerataan lokasi.
“Ke depan kami berharap kegiatan seperti ini bisa dikoordinasikan dengan pemerintah desa. Perlu dibuat desain atau pemetaan terlebih dahulu, sehingga penempatannya lebih tepat, terutama di lokasi yang memang masih sangat kekurangan sumur bor,” tuturnya.
Bagi warga Desa Tanjung, persoalan air bersih bukan sekadar tentang tersedianya sumur bor.
Jarak sumber air, kemampuan warga mengambil air, hingga biaya listrik untuk mengoperasikan pompa menjadi persoalan lain yang harus diperhitungkan.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)