TRIBUNJAKARTA.COM - Politisi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth mengapresiasi Soekarno Cup 2026 yang digelar di Jawa Timur pada 8 hingga 24 Agustus 2026.
Perhelatan tersebut mempertemukan talenta-talenta muda sepak bola dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut pria yang akrab disapa Bang Kent itu, kehadiran Soekarno Cup 2026 harus dipandang lebih dari sekadar kompetisi olahraga.
Turnamen tersebut dinilai dapat menjadi ruang penting untuk menemukan, mengasah, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak muda Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
"Menurut saya, Soekarno Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ini adalah panggung bagi anak-anak muda Indonesia untuk berani bermimpi, berani berkompetisi, dan menunjukkan bahwa dari berbagai daerah di Indonesia ada begitu banyak talenta sepak bola yang luar biasa," ujar Kennneth, Selasa (11/8/2026).
Kenneth menilai, pembinaan sepak bola harus dimulai sejak usia muda dan dilakukan secara konsisten.
Menurut Kenneth, Indonesia memiliki banyak anak berbakat yang membutuhkan ruang kompetisi, fasilitas, pelatih, pendampingan, serta kesempatan untuk berkembang.
"Kalau kita ingin sepak bola Indonesia berbicara lebih banyak di tingkat Asia bahkan dunia, maka pembinaannya harus dimulai dari bawah. Jangan hanya mencari pemain ketika sudah jadi.
Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat anak-anak muda punya ruang untuk tumbuh dan berkembang," bebernya.
Dalam konteks tersebut, Kenneth juga menilai keberadaan klub-klub yang serius membangun pembinaan usia muda memiliki peran penting.
Salah satunya melalui Banteng Jakarta FC, yang menurutnya dapat menjadi bagian dari upaya membangun wadah pembinaan sepak bola yang lebih terarah, khususnya bagi talenta-talenta muda di Jakarta dan sekitarnya.
"Banteng Jakarta FC juga harus kita dorong menjadi bagian dari ekosistem pembinaan itu. Klub bukan hanya tempat bermain dan bertanding, tetapi juga harus menjadi tempat anak-anak muda belajar disiplin, membangun mental, memahami kerja sama tim, dan mendapatkan jalur pembinaan yang jelas," ujar Anggota DPRD DKI Jakarta itu.
Menurutnya, semangat membangun sepak bola tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan turnamen. Kompetisi seperti Soekarno Cup harus memiliki kesinambungan dengan proses pembinaan di klub, sekolah, akademi, maupun komunitas sepak bola.
"Kompetisi itu penting untuk mengukur kemampuan pemain. Tetapi setelah kompetisi selesai, harus ada proses berikutnya. Di situlah klub, akademi, sekolah sepak bola dan berbagai wadah pembinaan seperti Banteng Jakarta FC bisa mengambil peran untuk memastikan talenta-talenta muda ini terus berkembang," ujarnya.
Dia juga mengapresiasi semangat Soekarno Cup yang membawa semangat Bung Karno sebagai bagian dari identitas turnamen.
Bagi Kenneth, semangat tersebut memiliki makna penting karena olahraga dapat menjadi salah satu sarana membangun karakter generasi muda dan memperkuat rasa persatuan.
"Bung Karno selalu mengajarkan kepada kita tentang keberanian bermimpi besar, persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap Indonesia. Nilai-nilai itu sangat relevan dengan olahraga. Di lapangan, kita belajar disiplin, kerja sama, menghormati lawan, menerima kekalahan, dan tidak cepat puas ketika meraih kemenangan," tuturnya.
Kenneth berharap para peserta Soekarno Cup 2026 tidak hanya mengejar trofi, tetapi juga menjadikan turnamen tersebut sebagai pengalaman berharga untuk membangun mental dan karakter.
"Jangan hanya berpikir bagaimana mendapatkan piala. Jadikan setiap pertandingan sebagai proses belajar. Menang itu penting, tetapi karakter, disiplin, kerja keras, sportivitas, dan semangat pantang menyerah jauh lebih penting untuk perjalanan kalian ke depan," ujar Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII itu.
Menurutnya, kompetisi usia muda seperti Soekarno Cup juga dapat menjadi jembatan bagi para pemain untuk menuju jenjang yang lebih tinggi.
Dia berharap talenta-talenta yang muncul dari turnamen tersebut mendapat perhatian dan pembinaan lanjutan sehingga tidak berhenti setelah kompetisi berakhir.
"Kita ingin setelah Soekarno Cup selesai, anak-anak ini tidak kemudian selesai juga perjalanan mereka. Justru harus menjadi awal. Yang punya potensi harus dibina, yang membutuhkan pendampingan harus diberikan pendampingan, dan mereka harus diberikan kesempatan untuk masuk ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi," tuturnya.
Kenneth mengatakan, keberadaan klub seperti Banteng Jakarta FC juga dapat menjadi salah satu mata rantai dalam proses tersebut.
Menurutnya, pembinaan sepak bola membutuhkan jalur yang jelas sejak pemain mengenal sepak bola, mengikuti kompetisi usia muda, masuk ke klub, hingga memiliki kesempatan untuk tampil di level yang lebih tinggi.
"Kalau kita bicara pembinaan yang berkelanjutan, kita harus membangun jalurnya. Anak-anak mulai dari sekolah atau akademi, kemudian mendapatkan pengalaman kompetisi, masuk ke klub, dibina secara profesional, dan kalau memang memiliki kemampuan, diberikan kesempatan untuk naik ke level berikutnya. Banteng Jakarta FC bisa menjadi salah satu bagian dari perjalanan itu," ungkapnya.
Dia pun mengajak pemerintah, federasi, klub, sekolah, akademi sepak bola, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem sepak bola nasional yang sehat dan berkelanjutan.
"Tidak mungkin sepak bola Indonesia bisa maju kalau hanya dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah punya peran, federasi punya peran, klub punya peran, sekolah dan akademi punya peran, dunia usaha juga punya peran. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa duduk bersama dan memiliki visi yang sama untuk masa depan sepak bola Indonesia," tegasnya.
Kenneth berharap Soekarno Cup dapat menjadi agenda pembinaan yang berkelanjutan dan terus melahirkan talenta-talenta baru dari berbagai penjuru Tanah Air.
Dia juga berharap klub-klub di berbagai daerah, termasuk Banteng Jakarta FC, semakin aktif membuka ruang bagi anak-anak muda untuk berkembang.
"Indonesia tidak pernah kekurangan anak muda berbakat. Yang harus kita pastikan adalah mereka mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkembang. Jangan sampai anak dari daerah yang memiliki bakat luar biasa tidak bisa berkembang hanya karena keterbatasan fasilitas atau akses," ungkapnya.
Dia pun meminta para pemain muda yang mengikuti Soekarno Cup 2026 untuk menikmati setiap proses dan tidak takut untuk memiliki cita-cita besar.
"Bermimpilah setinggi mungkin. Jangan takut mengatakan bahwa suatu hari kalian ingin bermain untuk Timnas Indonesia, bermain di klub besar, bahkan membawa nama Indonesia ke pentas internasional. Semua mimpi besar selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba dan bekerja keras," ucapnya.
Kennneth menambahkan, semangat olahraga juga sejalan dengan semangat kemerdekaan yang tengah diperingati bangsa Indonesia. Menurutnya, generasi muda harus mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan karya nyata.
"Kalau dahulu para pendahulu kita berjuang merebut kemerdekaan, sekarang tugas generasi muda adalah mengisi kemerdekaan itu dengan prestasi. Salah satunya melalui olahraga. Kita ingin melihat anak-anak muda Indonesia berdiri di lapangan dengan membawa semangat Merah Putih dan membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain," jelasnya.
Karena itu, dia berharap Soekarno Cup 2026 tidak berhenti sebagai sebuah turnamen, tetapi benar-benar meninggalkan warisan bagi pembinaan sepak bola Indonesia.
Menurutnya, sinergi antara kompetisi, klub, akademi, sekolah, pemerintah, dan masyarakat harus terus diperkuat agar semakin banyak anak muda memiliki jalan untuk mewujudkan cita-citanya.
"Harapan saya sederhana, dari Soekarno Cup ini lahir pemain-pemain hebat, tetapi lebih dari itu, lahir generasi muda yang punya karakter, disiplin, sportivitas, rasa persatuan, dan kecintaan kepada Indonesia. Banteng Jakarta FC dan klub-klub lainnya juga harus menjadi bagian dari gerakan pembinaan itu. Kalau semua bergerak bersama, kita bukan hanya sedang mencetak pemain sepak bola, tetapi juga sedang membangun generasi emas Indonesia," tutupnya.