TRIBUNNEWSMAKER.COM - Konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini berpotensi membuka front baru di jalur pelayaran Laut Merah.
Kelompok Houthi di Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap kapal komersial di kawasan tersebut.
Rentetan serangan dalam beberapa pekan terakhir menyasar sejumlah kapal yang memiliki kaitan dengan Arab Saudi.
Namun, serangan terbaru pada Selasa (11/8/2026) menjadi perhatian karena dilaporkan menewaskan tiga awak kapal.
Salah satu korban disebut merupakan warga negara Indonesia (WNI).
Kapal Tihamah, berbendera Tanzania, dilaporkan diserang saat berlayar dari Salalah, Oman, menuju Djibouti.
Insiden tersebut terjadi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Jika laporan korban jiwa ini terkonfirmasi, serangan tersebut menjadi salah satu insiden paling serius dalam eskalasi terbaru terhadap kapal komersial.
Houthi hingga kini belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Tihamah.
Meski demikian, rangkaian serangan sebelumnya menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap pelayaran di kawasan Laut Merah.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena Laut Merah merupakan salah satu jalur penting perdagangan global yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Baca juga: Selat Hormuz Jadi Kunci Damai Iran-AS, Teheran Pasang Syarat, Trump Tuntut Ganti Rugi 50 Tahun
Seperti diketahui, kelompok Houthi di Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap kapal komersial, terutama kapal yang memiliki kaitan dengan Arab Saudi.
Serangan terbaru terjadi pada Selasa (11/8/2026) terhadap Tihamah, kapal kargo dan multipurpose berbendera Tanzania yang sedang berlayar dari Salalah, Oman, menuju Djibouti.
Sumber dari penjaga pantai Yaman dan pemerintah setempat menyebut tiga awak kapal tewas, terdiri dari dua warga Pakistan dan satu warga Indonesia.
Tribunnews.com belum memperoleh konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri atas laporan ini.
Kelompok Houthi belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Namun, insiden ini menjadi salah satu serangan paling serius dalam eskalasi terbaru di kawasan karena untuk pertama kalinya dalam rangkaian serangan terhadap kapal komersial dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan terdapat korban jiwa.
Serangan tersebut terjadi di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Posisi geografisnya membuat selat ini sangat penting bagi perdagangan global karena menjadi salah satu jalur yang menghubungkan kawasan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi meningkatkan penggunaan rudal, drone, dan kapal permukaan tanpa awak (unmanned surface vessels/USV) untuk mengancam lalu lintas kapal di sekitar Laut Merah.
Kapal berbendera atau memiliki hubungan dengan Arab Saudi menjadi salah satu sasaran utama.
Pada 22 Juli, kapal tanker berbendera Saudi Encelia dan kapal yang terkait dengan Saudi, Layla, dilaporkan menjadi sasaran. Encelia mengalami kebakaran di bagian haluan setelah terkena serangan, tetapi tidak ada korban jiwa.
Pada hari yang sama, kapal NCC Masa, yang juga memiliki hubungan dengan Saudi, mengalami kerusakan pada lambung setelah diserang ketika melintas di Laut Merah. Kapal tersebut kemudian melanjutkan perjalanan.
Serangan kembali terjadi pada 28 Juli ketika tanker minyak berbendera Saudi, NCC Ghazal, dilaporkan menjadi sasaran rudal balistik. Pemantauan UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut awak kapal mendengar ledakan, tetapi seluruh kru dilaporkan selamat.
Rentetan serangan tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap kapal komersial tidak hanya terbatas di sekitar Bab el-Mandeb, tetapi mulai menjangkau wilayah Laut Merah yang lebih luas.
Pada 4 Agustus, kapal berbendera India MSV Faize Noore Oliya terkena proyektil di sekitar perairan Yaman, sebelah selatan Al Hudaydah.
Kapal yang membawa muatan komersial itu kemudian terbalik dan tenggelam. Sebanyak 14 awak kapal, terdiri dari 13 warga India dan seorang warga Yaman, berhasil diselamatkan oleh otoritas Yaman dan dibawa ke Mokha.
Houthi tidak langsung mengklaim serangan tersebut, sementara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menuding kelompok tersebut sebagai pelakunya.
Sehari kemudian, tanker berbendera Saudi NCC Wafa menjadi sasaran serangan rudal di dekat Yanbu, wilayah utara Laut Merah. Pada hari yang sama, Houthi juga mengklaim menyerang kapal minyak Saudi Daisy di Teluk Aden menggunakan rudal balistik.
Aktivitas Houthi juga tidak hanya menyasar kapal. Pada akhir Juli hingga awal Agustus, muncul laporan mengenai serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan industri minyak Saudi di Jizan dan Yanbu.
Sebuah serangan drone juga dilaporkan menyasar kompleks kilang di Jazan pada awal Agustus. Sejumlah serangan disebut berhasil dicegat atau digagalkan.
Houthi sebelumnya menyatakan bahwa aksi terhadap kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Saudi merupakan bagian dari blokade terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut mengeklaim langkah itu sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pengepungan terhadap Yaman, tuduhan yang ditolak pemerintah Saudi.
Serangan terhadap Tihamah menjadi perhatian khusus karena menimbulkan korban jiwa di kalangan awak kapal.
Kapal tersebut dilaporkan mengalami kerusakan berat. Adanya kemungkinan serangan lanjutan juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan operasi penyelamatan.
Hingga laporan ini disusun, Houthi belum menyatakan keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Karena itu, atribusi serangan masih perlu dicermati berdasarkan hasil penyelidikan lebih lanjut.
Namun, rangkaian insiden sebelumnya memperlihatkan pola yang semakin jelas: lalu lintas kapal di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb kembali menghadapi risiko keamanan yang meningkat.
Eskalasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari konflik yang lebih luas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Houthi merupakan kelompok bersenjata yang didukung Iran dan sebelumnya telah menggunakan serangan terhadap kapal sebagai instrumen tekanan dalam konflik regional.
Setelah mengalami jeda, kelompok tersebut kembali melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Israel pada akhir Maret 2026, dengan alasan mendukung Iran dalam menghadapi serangan AS dan Israel.
Ada pula laporan mengenai koordinasi antara Iran dan Houthi, termasuk dugaan kehadiran penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Sanaa.
Namun, tingkat dan bentuk koordinasi tersebut tetap menjadi isu yang diperdebatkan.
Keterlibatan Houthi membuat konflik tidak hanya berlangsung di daratan Iran, Israel, atau kawasan Teluk, tetapi turut menyentuh jalur perdagangan internasional.
Laut Merah dan Selat Hormuz kini memiliki keterkaitan strategis yang semakin kuat.
Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Ketika lalu lintas di selat tersebut terganggu akibat konflik, sebagian pelaku perdagangan dan energi semakin bergantung pada jalur alternatif melalui Laut Merah dan Bab el-Mandeb.
Masalahnya, jalur alternatif tersebut kini juga menghadapi ancaman serangan Houthi.
Akibatnya, gangguan di satu jalur dapat meningkatkan tekanan pada jalur lainnya.
Kapal yang tetap berlayar melalui kawasan berisiko menghadapi premi asuransi perang yang lebih tinggi, sementara sebagian operator memilih mengubah rute meski hal itu berarti menambah waktu dan biaya perjalanan.
Situasi ini menjadikan Laut Merah bukan sekadar medan konflik antara Houthi dan lawan-lawannya, tetapi juga salah satu titik tekanan terhadap perdagangan dan aliran energi global.
Dengan meningkatnya serangan terhadap kapal yang terkait dengan Saudi, munculnya korban jiwa dalam serangan terbaru, serta keterlibatan berbagai aktor regional, Laut Merah berpotensi menjadi salah satu front penting dalam konflik Timur Tengah yang semakin melebar.
(TribunNewsmaker.com/Tribunnews)