Kisah Son Mokoginta, Keluarga Korban Drag Race Upai Kotamobagu, Istri dan Adiknya Meninggal: Pedih
Indry Panigoro August 12, 2026 07:32 AM

TIDAK ada yang benar-benar siap menerima kehilangan.

Terlebih ketika kehilangan itu datang dua kali, hampir bersamaan.

Bagi Son Mokoginta, Minggu (9/8/2026) menjadi hari yang mungkin akan terus ia ingat sepanjang hidupnya.

Warga Desa Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, itu kehilangan dua orang yang sangat dicintainya dalam satu peristiwa.

Istrinya, Rugaina Manangin, meninggal dunia.

Adiknya, Biyo Mokoagow, juga meninggal dunia.

Keduanya menjadi korban dalam peristiwa tabrakan maut saat drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

Dua kabar duka datang pada hari yang sama.

Dan Son harus menerimanya sekaligus.

Saat ditemui Tribunmanado.com di rumahnya di Bilalang, Selasa (11/8/2026), Son tampak berusaha tegar.

Tidak ada tangisan yang pecah.

Tidak ada air mata yang mengalir.

Namun berkali-kali tangan kanannya menunjuk ke bagian dada, seolah di sanalah seluruh rasa sakit itu bersarang.

"Pedih, sulit bagi saya untuk melalui ini semua," ucap Son.
Kalimat itu keluar dengan suara yang berat.

Ia tidak banyak bergerak.

Wajahnya menyimpan kesedihan yang dalam.

Bagi Son, kehilangan tersebut bukan sekadar kabar duka.

Istri yang selama ini mendampinginya pergi secara mendadak.

Adiknya pun menyusul pada hari yang sama.

Belum selesai menerima kenyataan itu, Son kembali diuji oleh kabar kecelakaan yang menimpa salah seorang anaknya.

Sang anak mengalami kecelakaan lalu lintas ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit saat hendak melihat ibunya.

Namun perjalanan tersebut justru berubah menjadi musibah lain bagi keluarga mereka.

TRAGEDI - Situasi di TKP tempat terjadinya tragedi Drag Race di Jalan A.P. Mokoginta, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, Selasa (11/8/2026). Mobil tergelincir dan terseret sejauh 30 meter.
TRAGEDI - Situasi di TKP tempat terjadinya tragedi Drag Race di Jalan A.P. Mokoginta, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, Selasa (11/8/2026). Mobil tergelincir dan terseret sejauh 30 meter. (Tribun Manado/Rizali Posumah)

Ponsel Istri yang Membawa Kabar Duka

Son bahkan tidak mengetahui sejak awal bahwa istrinya menjadi korban.

Ia tidak mendengar kabar itu langsung dari Rugaina.

Yang datang justru sebuah telepon dari nomor milik istrinya.

Son mengira orang di seberang telepon adalah istrinya.

Ternyata bukan.

"Yang bicara adalah seseorang yang meminta agar mengambil ponsel itu di panitia, rupanya ponsel itu terjatuh saat kecelakaan," kata Son.

Saat itu Son belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi.

Tak lama kemudian, kabar yang jauh lebih menyakitkan datang.

Rugaina meninggal dunia.

Son bergegas ke rumah sakit.

Namun sesampainya di sana, perempuan yang selama ini menjadi istrinya sudah tidak ada lagi.

Belum selesai dengan duka itu, kabar berikutnya datang.

Adiknya, Biyo Mokoagow, juga meninggal dunia dalam peristiwa yang sama.

Dalam hitungan waktu, Son kehilangan dua anggota keluarga yang begitu dekat dengannya.
Satu hari.

Dua kehilangan.

Satu keluarga yang harus menanggung duka berlapis.

Bahkan Rumah Duka Harus Dibagi

Kematian Rugaina dan Biyo juga membawa situasi yang tidak mudah bagi keluarga besar mereka.

Dua keluarga yang sama-sama kehilangan harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang mereka cintai pergi dalam peristiwa yang sama.

Rumah duka pun harus berbagi.

Duka yang datang bersamaan membuat keluarga besar mereka harus saling menguatkan di tengah kehilangan yang belum sempat mereka pahami sepenuhnya.

Bagi Son, hari-hari setelah kejadian itu terasa berbeda.

Ia mengaku bahkan sulit menikmati hal-hal sederhana.

"Mau makan rasanya sulit," katanya.

Kalimat pendek itu menggambarkan betapa berat hari-hari yang sedang dilaluinya.

Hidup tetap berjalan.

Tetapi bagi Son, sebagian dari hidup itu seakan berhenti pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Berikut update identitas 8 korban meninggal:

1.Risna Longkun: Perempuan, Desa Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow

2. Harianti Mokoginta: Perempuan, Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow

3. Lisma Mokoginta: Perempuan, 38 tahun, Bilalang III, Kabupaten Bolaang Mongondow

4. Ali Ponamon: Laki-laki, 65 tahun, Desa Pontodon, Kota Kotamobagu

5. Bio Mokoagow: Perempuan, 74 tahun, Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow

6. Nilawati Mokodongan: Perempuan, Pontodon Induk, Kota Kotamobagu

7. Rugaina Manangin: Perempuan, Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow

8. Ali Jojang: Laki-laki, Bilalang 4, Kabupaten Bolaang Mongondow

Korban Luka

Dirawat di RS Monompia, Kabupaten Bolaang Mongondow:

1.Murdani Pobela : Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

2.Arhan Mokoginta : Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

3.Rapiska Mokodongan : Genggulang (luka berat)

4.Enjelia Lito : Bilalang 3, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

5.Prasetio Mokodongan : Pontodon, Kota Kotamobagu (luka ringan)

Dirujuk ke RSUD Kandou Manado:

1.Nur Almira Pobela : Perempuan, Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

2.Hadi Toisi : Pangian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

3.Rina Longkun : Bilalang Baru, Kabupaten Bolaang Mongondow (luka berat)

4. Muksin Dondo, Laki-laki, Pontodon Timur, Kota Kotamobagu (luka berat)

5. Djohar Mokoginta, Laki-laki

Kronologi Kejadian

Insiden maut tersebut terjadi pada drag bike yang berlangsung di Kelurahan Ipai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

Berjarak sekitar 184 km dari Kota Manado, ibu kota Sulawesi Utara. 

Kejadian Minggu 9 Agustus 2026 sekitar pukul 16.00 WITA. 

Turnamen ini tercatat diikuti 590 starter kelas sepeda motor dan 337 starter kelas mobil.

Sementara mobil yang mengalami kecelakaan tersebut diketahui adalah pebalap dari tim Pangeran 05 McJoe bernama Tian Ngantung.

Ia turun di kelas Free For All (FFA) menggunakan mobil Honda Jazz.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Tian awalnya melaju seperti biasa dalam lintasan balap. 

Tidak terlihat adanya kendala saat mobil melaju menuju garis finis.

Namun, setelah melewati garis finis dan memasuki area pengereman sekitar 100 meter, mobil tersebut mengalami crash dan kemudian menabrak sejumlah penonton yang berdiri di sisi arena.

Benturan tersebut menyebabkan sejumlah penonton menjadi korban.

Pasca-insiden, pelaksanaan drag race di lokasi tersebut dihentikan. 

Para korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. 

Polisi juga sudah mengamankan mobil jenis Honda Jazz yang terlibat tragedi drag race. 

Mobil milik tim Pangeran 05 McJoe yang dikendarai Tian Ngantung itu kini berada di Mapolres Kota Kotamobagu.

Ketua panitia drag race Lucky Sugeha sempat terlihat mendatangi para korban di RS. 

Lucky Sugeha menegaskan siap bertanggungjawab atas musibah itu. 

Ia juga akan menanggung sepenuhnya biaya pengobatan para korban di rumah sakit. (Art)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.