BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Di tengah derasnya permainan digital yang kerap membawa budaya dari luar, tiga orang dari SMA Anugrah Tanjungpandan, Belitung, memilih membuat permainan dengan cerita yang justru berangkat dari halaman rumah sendiri.
Karya inipun menjadi satu-satunya wakil Provinsi Babel pada Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2026 di Bali pada Oktober mendatang.
Lybel (Last Key Belitung), demikian sebuah game berbasis Android yang mengajak pemain menjelajahi sekaligus mengenal kekayaan budaya Belitung yang dibuat tim SMA Anugrah Tanjungpandan.
Bukan sekadar hiburan, permainan ini dirancang sebagai media pembelajaran bagi generasi muda.
Karya tersebut mengantarkan dua siswa, Felix Delfran Liu dan Meivie Elincia, bersama guru pembimbing Ferlianus Waruwu menjadi satu-satunya wakil Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2026 di Bali pada Oktober mendatang.
Bagi Felix, ide membuat Lybel berawal dari kegelisahan melihat masih terbatasnya pengetahuan generasi muda terhadap budaya daerah.
“Kami membuat game ini karena masih kurangnya literasi mengenai kebudayaan Belitung. Melalui Lybel, kami ingin membantu masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih mudah mengenal dan mengingat budaya Belitung,” ujar Felix, Senin (11/8/2026).
Nama Lybel merupakan singkatan dari Last Key Belitung. Nama itu dimaknai sebagai “kunci terakhir” untuk menjaga sekaligus mengenalkan budaya daerah melalui teknologi digital.
Game tersebut dikerjakan selama sekitar tiga bulan. Tim memulai dari penyusunan proposal, kemudian merancang visual hingga melakukan coding.
Seluruh proses dikerjakan sendiri dengan biaya sekitar Rp3 juta.
Ide tersebut muncul ketika mereka mencari konsep untuk mengikuti FIKSI.
Mereka kemudian melihat game sebagai sarana yang dapat menjembatani teknologi dengan pengenalan budaya.
“Kami melihat potensi budaya Belitung sebenarnya sangat besar, tetapi pemahaman masyarakat terhadap budaya itu masih perlu ditingkatkan. Karena itu kami memilih membuat game sebagai media edukasi,” kata Felix.
Perjalanan menuju tingkat nasional juga tidak mudah.
Lybel harus bersaing dalam kompetisi yang diikuti sekitar 3.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Seleksi kemudian mengerucut menjadi 60 tim sebelum tim SMA Anugrah masuk dalam lima tim yang lolos ke tahap berikutnya di Bali.
“Jadi dari lima tim yang tersisa, kami salah satunya yang akan bertanding di Oktober nanti di Bali,” ujar siswa kelas X tersebut.
Felix sebelumnya juga pernah membawa nama Bangka Belitung dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia dan meraih medali perunggu.
Kini, ia kembali mendapat kesempatan memperkenalkan daerahnya melalui karya digital.
Dukungan pun datang dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Saat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung berkunjung, tim membuat video dukungan sekaligus mendapat bantuan untuk keberangkatan ke Bali.
“Melalui game interaktif ini, para pelajar diharapkan lebih mudah memahami dan mengenal berbagai budaya Belitung,” ujarnya.
Lybel memiliki dua fitur utama, yakni mode petualangan dan kuis.
Pada mode petualangan, pemain berperan sebagai pemuda Belitung yang menjelajahi sejumlah lokasi dan mengenal berbagai unsur budaya.
Latar permainan bahkan menampilkan ikon daerah seperti Bundaran Batu Satam dan Pulau Kelayang.
Pemain tidak bisa sekadar melewati narasi.
Informasi yang disajikan menjadi petunjuk untuk memecahkan teka-teki dan membuka level berikutnya.
“Setiap teks harus dibaca. Dari sanalah pemain mendapatkan petunjuk agar bisa melanjutkan permainan. Jadi bukan hanya bermain, tetapi juga belajar membaca dan memahami informasi,” kata Ferlianus.
Adapun mode kuis menghadirkan pertanyaan seputar Belitung, mulai dari nama pulau, tradisi masyarakat hingga kekayaan budaya lokal.
Unsur budaya seperti Beripat Beregong juga dimasukkan ke dalam permainan.
Ferlianus berharap Lybel menjadi bukti bahwa teknologi digital tidak harus menjauhkan generasi muda dari budaya lokal.
Sebaliknya, teknologi dapat digunakan sebagai jembatan untuk membuat warisan budaya lebih dekat dengan anak-anak dan remaja.
“Dengan cara seperti ini kami berharap budaya Belitung tetap hidup, dikenal, dan dipelajari oleh generasi berikutnya,” ujarnya. (Bangkapos.com/Dede Suhendar)