Evaluator UNESCO Coba Membatik di Merangin, Terpukau Teknik Ecoprint Srikandi
asto s August 12, 2026 11:04 AM

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Suasana hangat, ceria, dan penuh kekaguman mewarnai kunjungan dua evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp) ke Rumah Batik dan Ecoprint Kelompok Srikandi di Desa Markeh, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Selasa (11/8/2026).

Prof Yongmun Jeon dari Jeju Island UNESCO Global Geopark, Korea Selatan, dan Nicolas Klee dari Monts D'Ardèche UNESCO Global Geopark, Prancis, tampak antusias saat mencoba langsung proses pembuatan batik lokal.

Kunjungan lapangan tersebut tidak hanya diisi dengan melihat koleksi batik cap dan batik tulis.

Kedua evaluator juga diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan batik cap, batik tulis, dan ecoprint.

Momen menarik terjadi saat proses penempelan motif daun pada kain ecoprint.

Ketika diminta menginjak kain agar pigmen daun menempel sempurna, Jeon dan Nicolas justru menginjak kain sambil menari.

Aksi spontan tersebut memicu tawa para pengrajin dan warga yang hadir di lokasi.

Setelah proses penempelan pigmen selesai, kain ecoprint kemudian dikukus atau direbus.

Proses tersebut kembali menarik perhatian kedua evaluator UNESCO.

“Baru di sini saya melihat ada batik yang dibuat dengan cara dikukus,” ujar Yongmun Jeon.

Di sela kegiatan membatik, Yongmun Jeon juga menanyakan sejauh mana keberadaan Geopark Merangin memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Pengelola Batik Srikandi, Meri Diastuti, mengatakan keberadaan Geopark Merangin memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Sangat berdampak. Masyarakat yang terlibat mendapatkan tambahan pemasukan dari hasil penjualan batik ini. Pihak Geopark Merangin dan Universitas Jambi juga banyak memberikan bantuan berupa pelatihan ecoprint hingga pendampingan pemasaran,” ujarnya.

Meri menjelaskan, Rumah Batik dan Ecoprint Srikandi kini juga menjadi pusat edukasi bagi TP-PKK, Dekranasda, hingga sekolah.

Kerajinan tersebut juga mulai menarik wisatawan mancanegara dari berbagai negara, di antaranya Thailand, Maroko, dan Jepang.

Melihat potensi tersebut, Nicolas Klee mengusulkan agar promosi kerajinan lokal diperluas ke tingkat internasional melalui program pertukaran budaya.

“Setahu saya, geopark di Thailand juga memiliki kegiatan serupa dan berhasil menarik banyak minat wisatawan. Bagaimana jika kelompok di sini melakukan pertukaran budaya atau studi banding ke geopark di Thailand?” tuturnya.

Pihak pengelola menyambut positif gagasan yang disampaikan evaluator asal Prancis tersebut.

Meri Diastuti berharap gagasan pertukaran budaya itu dapat direalisasikan dengan dukungan para pemangku kepentingan di daerah.

“Saran itu akan menjadi catatan kami dan mudah-mudahan bisa difasilitasi oleh Badan Pengelola Geopark Merangin,” pungkasnya. (Tribunjambi.com/Frengky Widarta)

Baca juga: Drone Terbang di Atas Kepala, Penambang Emas Ilegal di Geopark Merangin Tunggang Langgang

Baca juga: Daftar 6 Kabupaten di Jambi Rawan Karhutla, Ratusan Hektar Lahan Hangus Terbakar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.