TRIBUNJAMBI.COM – Prospek perdamaian di Timur Tengah anatra Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membentur tembok tebal.
Presiden AS, Donald Trump, menaikkan tensi konfrontasi diplomasi dengan melayangkan tuntutan balasan.
Permintaan itu agar Teheran membayar kompensasi atas kerugian jiwa dan materiil yang dialami AS selama puluhan tahun konflik.
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Donald Trump menegaskan tuntutan tersebut dilayangkan sebagai respons langsung atas syarat ganti rugi perang yang sebelumnya diajukan oleh tim negosiasi Iran dalam pembahasan pembukaan Selat Hormuz.
Presiden Trump menyebut Iran harus bertanggung jawab penuh atas ribuan warga Amerika Serikat yang tewas maupun terluka.
Secara spesifik, ia menyoroti jejak serangan bom pinggir jalan (IED) yang merenggut nyawa prajurit AS, tragedi pemboman kapal perang USS Cole, serta serangkaian operasi militer kawasan yang dinilainya didalangi oleh mendiang Komandan Pasukan Quds IRGC, Jenderal Qasem Soleimani.
Tak berhenti di situ, melansir laporan The Guardian, Trump turut mendesak Iran membayar kompensasi kepada keluarga para demonstran yang menjadi korban tindakan keras rezim Teheran selama beberapa dekade.
Donald Trump mengeklaim ratusan ribu warga sipil telah menjadi korban kebijakan pemerintah Iran selama lima dekade terakhir, termasuk korban yang berjatuhan sepanjang lima bulan eskalasi militer belakangan ini.
Langkah ofensif Washington ini menjadi serangan balik atas posisi tawar Teheran.
Baca juga: Ujian AI di Medan Perang: IRGC Sebut Teknologi AS Gagal Tundukkan Iran
Baca juga: Kualitas Udara di Indonesia Hari Ini: Pontianak Sangat Tidak Sehat, Jambi Sensitif
Sebelumnya, pemerintah Iran menjadikan isu ganti rugi kerusakan infrastruktur militer dan ekonomi akibat gempuran AS serta Israel—beserta jatuhnya ribuan korban jiwa—sebagai syarat mutlak pembukaan kembali Selat Hormuz.
Akibat saling lempar tuntutan kompensasi perang ini, perundingan pembukaan jalur laut yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia tersebut terancam runtuh total.
Klaim berulang dari Trump dan pejabat senior AS yang menyebut kesepakatan damai kian dekat kini bertolak belakang dengan realita diplomasi di lapangan.
Namun, eskalasi saling tuntut ini dipastikan memperlebar jurang kompromi, mengunci potensi kesepakatan damai dalam waktu dekat, sekaligus memperpanjang periode ketidakpastian pasar energi global.
Baca juga: DLH Muaro Jambi Kerahkan 11 Truk Bersihkan TPS Liar di Nava Village Mendalo
Baca juga: Curi Perhiasan 70 Mayam, Pria di Bungo Jambi Ditangkap Polisi
Baca juga: Bupati Merangin M Syukur Ajak Warga Manfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis