Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Tanggul Sungai Sekunder Gude-Ploso ambrol dan rusak selama sekitar dua tahun.
Warga Dusun Jombang Krajan, Desa/Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, pun kini terpaksa memperbaiki sendiri.
Baca juga: Pertontonkan Gerakan Tak Pantas, Peserta Gerak Jalan Pria Cosplay Wanita di Bangkalan Tuai Kecaman
Kerusakan tanggul yang berada di sebelah utara Pabrik Gula Jombang Baru tersebut membuat warga khawatir banjir kembali masuk ke permukiman saat debit sungai meningkat.
Alih-alih menunggu perbaikan dari instansi berwenang, warga memilih bergotong royong memperbaiki tanggul menggunakan uang pribadi.
Dalam sepekan terakhir, warga mulai melakukan perbaikan di titik tanggul yang rusak.
Salah seorang warga menjadi pemodal untuk membeli material.
Terhitung, hingga Selasa (11/8/2026) kemarin, biaya material yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp2,5 juta.
Pekerjaan tersebut belum sepenuhnya rampung dan rencananya akan dilanjutkan dengan rabat beton.
Warga setempat, Masrukin (65) mengatakan, kerusakan tanggul bukan baru terjadi.
Kondisinya telah berlangsung sekitar dua tahun dan semakin parah akibat terus tergerus aliran air.
"Ambrolnya sudah lama, sudah sekitar dua tahunan," ucap Masrukin dalam keterangan yang ditulis Tribunjatim.com, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, sejumlah bagian pelengsengan tanggul telah berlubang.
Air yang masuk melalui bagian tersebut membuat struktur tanggul semakin terkikis hingga mengalami ambles.
Dampaknya bukan hanya mengancam tanggul, saat sungai meluap, air juga pernah masuk ke rumah warga.
Ketinggian genangan berbeda-beda, di beberapa titik air mencapai lutut, sedangkan di lokasi lain disebut bisa mencapai sekitar 1 meter.
"Kalau yang sini masih satu dengkul, tapi kalau di sana bisa sampai sekitar satu meter," ujarnya melanjutkan.
Warga memperkirakan, kerusakan tanggul Sungai Gude-Ploso membentang hingga sekitar 200 meter.
Sedikitnya 10 rumah atau sekitar 15 kepala keluarga (KK) berada di kawasan yang berpotensi terdampak, apabila air sungai kembali meluap melalui bagian tanggul yang rusak.
Kondisi tersebut membuat warga memilih bergerak sebelum kerusakan semakin parah.
Masrukin mengatakan, laporan mengenai kondisi tanggul telah disampaikan melalui RT.
Namun, hingga perbaikan dilakukan secara swadaya, warga mengaku belum melihat adanya penanganan di lokasi.
"Sudah laporan ke RT, katanya diteruskan dan menghubungi sana, tapi belum ada tindak lanjut. Daripada menunggu dan nanti banjir lagi, akhirnya diperbaiki sendiri," katanya melanjutkan.
Perbaikan tanggul dilakukan dengan cara gotong royong.
Warga menyumbangkan tenaga, sementara kebutuhan material dibeli menggunakan dana pribadi.
Salah seorang warga yang ikut membiayai perbaikan, Suwadi mengatakan, dana yang telah dikeluarkan untuk material mencapai sekitar Rp2,5 juta.
"Materialnya sudah sekitar Rp2,5 juta. Ini belum selesai, nantinya dirabat beton," katanya.
Menurut Suwadi, kondisi tanggul yang sebelumnya rata kini berubah menjadi miring karena terus tergerus air.
"Awalnya rata, tapi tergerus air akhirnya miring. Tengahnya berlubang dan ambles," ungkapnya.
Warga khawatir kerusakan akan semakin parah ketika debit Sungai Gude-Ploso kembali meningkat.
Apalagi, kawasan tersebut telah beberapa kali mengalami banjir akibat luapan sungai.
Ketua RT 2 RW 1 Dusun Jombang Krajan, Imam, membenarkan bahwa persoalan kerusakan tanggul telah disampaikan kepada pemerintah desa.
"Saya sudah sampaikan ke kepala desa. Katanya juga sudah dilaporkan, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," beber Imam.
Menurut Imam, keputusan warga melakukan perbaikan secara swadaya dilakukan untuk mencegah kerusakan semakin parah sekaligus mengurangi risiko banjir.
"Ini warga akhirnya swadaya memperbaiki sendiri supaya tidak terjadi banjir lagi dan jebolnya tidak semakin parah," jelasnya.
Baca juga: PG Meritjan Kediri Jadi Tuan Rumah Konsolidasi PT SGN, Kejar Target Revolusi 888
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Imam Bustomi mengatakan, penanganan Sungai Sekunder Gude-Ploso berada di luar kewenangan Pemkab Jombang.
"Sungai Sekunder Gude-Ploso, kewenangan BBWS Brantas," kata Imam Bustomi dalam keterangan yang diterima.
Konfirmasi kemudian dilakukan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas terkait kondisi tanggul dan kemungkinan penanganannya.
Namun, saat didatangi di kantor BBWS Brantas di Jalan Patimura Nomor 100, Jombatan, Jombang, belum diperoleh keterangan.
Salah seorang penjaga menyampaikan bahwa pimpinan BBWS Brantas sedang berada di Surabaya.
Warga pun berharap kerusakan tanggul sepanjang sekitar 200 meter tersebut segera mendapat penanganan permanen.
Perbaikan swadaya yang dilakukan warga menjadi langkah darurat untuk menghadapi ancaman banjir.
Namun, dengan panjang kerusakan dan jumlah rumah yang berada di sekitar lokasi, warga menilai, perbaikan permanen tetap diperlukan agar kekhawatiran banjir tidak terus menghantui setiap kali debit Sungai Gude-Ploso meningkat.