SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Terpisah oleh bentangan Pegunungan Bukit Barisan, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bengkulu berdiri sebagai dua tetangga erat di bagian selatan Pulau Sumatera.
Keduanya dikaruniai kekayaan alam yang melimpah. Sumsel tersohor sebagai lumbung energi nasional yang ditopang batu bara, minyak, dan gas bumi.
Sementara itu, Bengkulu mengandalkan denyut komoditas perkebunan, potensi maritim yang menghadap Samudra Hindia, serta keanggunan wisata sejarahnya.
Namun, di balik potensi ekonomi dan kekayaan alam yang melimpah tersebut, bagaimana potret kesejahteraan dan tingkat kemiskinan masyarakat di kedua wilayah serumpun ini?
Baca juga: Adu Tangguh Pasar Kerja Dua Tetangga: TPT Sumsel Cenderung Melandai, Jambi Unggul Sektor Formal
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Rabu (12/8/2026) menunjukkan tren positif di mana angka kemiskinan di kedua daerah sama-sama mengalami penurunan.
Kendati demikian, Sumsel berhasil mencatatkan penurunan yang lebih signifikan hingga menembus angka satu digit, sementara Bengkulu masih berjuang menahan laju beban pengeluaran pokok rumah tangga miskinnya.
Di atas kertas, upaya penuntasan kemiskinan di Bumi Sriwijaya menunjukkan hasil yang cukup progresif.
Per Maret 2026, persentase penduduk miskin di Sumsel berhasil ditekan ke angka 9,50 persen.
Baca juga: Adu PAD 2 Daerah di Sumatera: Pesisir Barat Andalkan Laut, OKU Bertumpu pada Bumi
Angka ini turun cukup tajam sebesar 0,35 persen poin jika dibandingkan dengan posisi September 2025.
Secara kuantitas, jumlah warga miskin di Sumsel berkurang sebanyak 28,3 ribu jiwa, sehingga kini berada di angka 869,97 ribu orang.
Penurunan angka kemiskinan di Sumsel ini terjadi secara merata, baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan:
Perkotaan: Tingkat kemiskinan berada di angka 8,48 persen (turun 0,43 persen poin dari September 2025).
Perdesaan: Tingkat kemiskinan melandai ke posisi 10,13 persen (turun 0,30 persen poin dari September 2025).
Menyeberang ke Bumi Rafflesia, Provinsi Bengkulu mencatatkan angka kemiskinan sebesar 11,83 persen per Maret 2026.
Angka ini mengalami penurunan tipis sebesar 0,05 persen poin dibandingkan kondisi September 2025 yang berada di level 11,88 persen.
Secara jumlah, penduduk miskin di Bengkulu saat ini tercatat sebanyak 250,11 ribu orang, hanya berkurang sekitar 80 jiwa (dari sebelumnya 250,19 ribu orang) dalam rentang enam bulan.
Data BPS juga membedah struktur Garis Kemiskinan (GK) di Provinsi Bengkulu yang menyentuh Rp 735.745 per kapita per bulan.
Menariknya, porsi terbesar penentu garis kemiskinan ini didominasi oleh kelompok makanan:
Garis Kemiskinan Makanan: Rp 540.519 (73,47 persen)
Garis Kemiskinan Bukan Makanan: Rp 195.226 (26,53 persen)
Dominasi porsi makanan yang mencapai lebih dari 73 persen menegaskan bahwa gejolak harga bahan pokok menjadi faktor paling krusial yang menentukan rentannya daya beli masyarakat di Bengkulu.
Secara rata-rata, setiap rumah tangga miskin di Bengkulu dihuni oleh 4,55 anggota keluarga.
Hal ini mengodekan bahwa sebuah rumah tangga di Bengkulu dikategorikan miskin apabila memiliki total pengeluaran di bawah Rp 3.347.640 per rumah tangga per bulan.
Dua provinsi tetangga ini terus memacu program pengentasan kemiskinan dengan dinamika masing-masing.
Sumsel berfokus memelihara tren penurunan satu digit lewat pemerataan pembangunan kota-desa, sementara Bengkulu diuji untuk menjaga stabilitas harga pangan agar beban hidup rumah tangga miskin tidak semakin terhimpit.