SERAMBINEWS.COM - Aksi rahasia Presiden AS Donald Trump yang diam-diam berganti pesawat saat meninggalkan Turki usai menghadiri KTT NATO menuai sorotan tajam.
Langkah ekstrem tersebut diambil demi menghindari potensi serangan rudal dan ancaman pembunuhan dari kelompok yang terafiliasi dengan Iran, sekaligus memicu krisis kepercayaan terhadap keandalan sistem pertahanan armada kepresidenan Air Force One.
Berdasarkan laporan yang diungkap Axios, operasi pertukaran pesawat tersebut berlangsung secara amat tertutup. Trump dipindahkan dari pesawat utama menuju pesawat berukuran lebih kecil dengan menyelinap melalui truk katering penerbangan.
Berikut adalah beberapa fakta kunci terkait operasi rahasia tersebut:
Baca juga: Kecelakaan Maut, 7 Korban Meninggal Tertimpa Pohon di Pidie, Pemerintah Didesak Bertanggung Jawab
Keputusan menjadikan pesawat berpenumpang wartawan dan pejabat senior sebagai umpan mengundang gelombang kecaman keras dari pengamat sejarah kepresidenan dan komunitas pers independen.
Sistem press pool sistem pengawalan jurnalis yang telah berjalan sejak akhir abad ke-19 dirancang agar pers selalu mendampingi presiden guna menyajikan laporan yang objektif kepada publik.
Pakar sejarah kepresidenan AS, Garrett Graff, menilai tindakan Gedung Putih mengelabui wartawan sebagai tindakan yang sangat langka dan melampaui batas etika.
"Bahwa Gedung Putih membohongi korps pers secara keseluruhan mengenai keberadaan presiden, itu adalah ambang batas baru yang telah dilanggar," ujar Graff kepada CNN.
Graff juga menyoroti risiko keselamatan yang sangat tinggi bagi para wartawan yang ditinggalkan di dalam pesawat awal. Mengingat ancaman serangan bersifat nyata, area pesawat utama tersebut berpotensi menjadi sasaran target utama di udara.
Kritik senada juga dilontarkan oleh salah satu wartawan kepresidenan Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya:
Secara teknis dalam protokol militer AS, kode panggil Air Force One bukanlah merujuk pada satu fisik pesawat khusus, melainkan kode panggil radio bagi pesawat Angkatan Udara AS mana pun yang sedang membawa Presiden AS. Selama penerbangan dari Turki, pesawat utama tetap mengoperasikan kode panggil kepresidenan meskipun Trump berada di pesawat lain.
Hingga saat ini, Asosiasi Koresponden Gedung Putih (WHCA) yang dipimpin oleh Jacqui Heinrich dilaporkan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penutupan akses informasi tersebut.
Baca juga: Parlemen Iran Godok Aturan Baru, Kapal Negara Musuh Dilarang Masuk Teluk
Menanggapi riuh kritikan mengenai ancaman serangan rudal dan operasi penyamaran pesawat tersebut, Donald Trump memberikan respons yang terkesan santai saat dikonfirmasi oleh awak media.
"Saya selalu menjadi target nomor satu mereka. Tapi jika sesuatu terjadi pada saya, kalian juga ikut bersama saya," ujar Trump.
Sementara itu, pihak Gedung Putih menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan nyawa Presiden AS merupakan prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar, terutama di tengah tingginya dinamika ancaman keamanan internasional di kawasan Timur Tengah.
(Serambinews.com/Tribunnews.com)