TRIBUNJOGJA.COM- Lulus kuliah belum tentu langsung tahu harus ke mana. Sudah bekerja pun belum tentu merasa berada di tempat yang tepat.
Di usia 20-an, ada yang masih mencari pekerjaan, ada yang mulai memikirkan masa depan, sementara teman-teman sebaya terlihat sudah punya rencana masing-masing.
Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi cukup bikin kepikiran: “Setelah ini aku mau ke mana?”
Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika seseorang mulai memasuki fase dewasa. Pilihan hidup terasa semakin banyak, tetapi tidak semuanya mudah ditentukan.
Mau lanjut kuliah atau bekerja? Bertahan di pekerjaan sekarang atau mencari yang lain? Mengejar sesuatu yang disukai atau memilih jalan yang lebih aman?
Kumpulan kebingungan seperti ini sering dikaitkan dengan quarter-life crisis, istilah yang digunakan untuk menggambarkan masa penuh ketidakpastian ketika seseorang mulai menghadapi berbagai tuntutan dan pilihan di awal kehidupan dewasa.
Bukan Sekadar Bingung Memilih
Quarter-life crisis bukan hanya soal belum tahu ingin menjadi apa. Fase ini bisa menyentuh banyak bagian kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, keuangan, hubungan, sampai pertanyaan tentang identitas dan tujuan hidup.
Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman ini dapat muncul dalam bentuk rasa tidak yakin terhadap masa depan, kecemasan menghadapi pilihan hidup, perasaan tertinggal, hingga sulit menentukan arah.
Namun, pengalaman setiap orang tidak selalu sama. Faktor lingkungan, budaya, kondisi pribadi, dan tuntutan sosial dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang melewati fase tersebut.
Karena itu, seseorang tidak mesti terlihat sedang mengalami masalah besar untuk merasa berada dalam quarter-life crisis. Bisa saja dari luar semuanya terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam kepala terus ada pertanyaan tentang apakah keputusan yang diambil sudah benar.
Ketika Hidup Terasa Seperti Perlombaan
Ada satu hal yang membuat kebingungan di usia 20-an terasa semakin ramai: melihat kehidupan orang lain.
Buka Instagram, ada teman yang baru wisuda. Buka LinkedIn, ada yang mendapat pekerjaan baru. Scroll TikTok, muncul orang seusia yang sudah membangun bisnis atau tinggal sendiri. Belum lagi unggahan tentang pernikahan, perjalanan, dan berbagai pencapaian lainnya.
Akhirnya, pertanyaan yang tadinya hanya “Aku ingin apa?” bisa berubah menjadi “Kenapa aku belum seperti mereka?”
Media sosial bukan satu-satunya penyebab quarter-life crisis. Namun, penelitian pada Gen Z menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan kondisi psikologis dapat berkaitan dengan munculnya quarter-life crisis.
Paparan terhadap kehidupan orang lain juga dapat membuat seseorang semakin mudah membandingkan perjalanan hidupnya.
Padahal, media sosial hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Yang terlihat adalah hasil akhirnya, bukan proses panjang yang terjadi sebelum unggahan itu dibuat.
Usia 20-an Memang Penuh Percobaan
Dalam psikologi perkembangan, masa sekitar akhir remaja hingga usia 20-an sering disebut emerging adulthood. Ini merupakan periode ketika seseorang mulai mengeksplorasi identitas, pendidikan, pekerjaan, hubungan, dan kemungkinan masa depannya.
Tidak heran jika fase ini terasa seperti masa coba-coba.
Perubahan arah dalam hidup tidak otomatis berarti seseorang tidak punya tujuan. Bisa jadi memang sedang mencari tahu apa yang cocok dan penting bagi dirinya.
Kondisinya dapat dipengaruhi situasi pribadi dan lingkungan, termasuk tuntutan sosial serta budaya.
Jadi, usia 20-an tidak selalu harus menjadi masa ketika semua jawaban sudah tersedia. Justru, sebagian orang baru mulai menemukan jawabannya setelah mencoba beberapa jalan yang berbeda.
Kalau Sedang Mengalaminya, Harus Bagaimana?
Beberapa hal dapat membantu seseorang menghadapi fase penuh ketidakpastian ini dengan lebih sehat.
• Kurangi membandingkan timeline hidup
Pencapaian orang lain boleh menjadi inspirasi, tetapi tidak perlu dijadikan ukuran keberhasilan pribadi. Setiap orang memulai dari kondisi yang berbeda dan punya jalan yang berbeda pula.
• Fokus pada hal yang bisa dilakukan sekarang
Masa depan memang perlu dipikirkan, tetapi terlalu jauh memikirkannya juga bisa membuat semuanya terasa semakin berat. Daripada mencoba menyelesaikan seluruh hidup sekaligus, mulai dari hal yang memang bisa dilakukan saat ini.
• Beri kesempatan untuk berubah arah
Pilihan pertama tidak harus menjadi pilihan terakhir. Mengganti pekerjaan, mencoba bidang baru, atau mengubah rencana bukan berarti gagal. Ada proses belajar yang memang hanya bisa didapat setelah mencoba.
• Jangan memendam semuanya sendirian
Bercerita kepada teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat memberi ruang untuk melihat masalah dari sudut pandang lain. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara dukungan sosial dengan pengalaman quarter-life crisis, meskipun hasil penelitian tidak selalu menunjukkan pengaruh yang sama pada setiap kelompok.
• Belajar memperlakukan diri dengan lebih ramah
Tidak semua hal harus langsung berhasil. Belajar lebih baik pada diri sendiri atau self compassion juga bisa membantu melewati quarter-life crisis. Semakin seseorang bisa menerima dan memahami dirinya, semakin rendah kecenderungan mengalami quarter-life crisis.
• Cari bantuan kalau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari
Merasa bingung atau khawatir tentang masa depan bisa menjadi bagian dari proses tumbuh dewasa. Namun, jika tekanan terasa semakin berat dan mulai mengganggu aktivitas, hubungan, atau keseharian, berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional dapat menjadi pilihan.
Mungkin pertanyaan yang perlu dijawab di usia 20-an bukan selalu “Di umur segini aku seharusnya sudah jadi apa?”
Bisa jadi pertanyaannya lebih sederhana: “Sekarang, hidup seperti apa yang ingin aku bangun?”
Sebab menjadi dewasa bukan perlombaan untuk sampai lebih cepat dari orang lain. Ada yang menemukan jalannya lebih awal, ada yang perlu berbelok beberapa kali, dan keduanya tetap merupakan bagian dari perjalanan masing-masing.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)