Piramida Agung Giza Meramalkan Hari Kiamat Tahun 2979 dan Kenapa Tak Ada Mumi Ditemukan di Dalamnya?
Moh. Habib Asyhad August 12, 2026 02:34 PM

Piramida Agung Giza di Mesir masih menyimpan rahasia yang belum dipecahkan hingga sekarang. Ia disebut bisa meramalkan datangnya kiamat juga kenapa tak ada mumi yang ditemukannya di dalamnya?

Oleh: Sht/dari pelbagai sumber | tayang pertama di Majalah Intisari edisi Agustus 1995 dengan judul "Ramalan Piramid, Tahun 2979 Kiamat"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Mengingat Mesir pasti mengingat piramida-piramida yang ada di sana. Salah satu yang paling terkenal tentu saja Piramida Agung di Giza yang menyimpan rapat banyak rahasia di dalamnya, terutama untuk apa dan bagaimana bangunan raksasa itu dibangun.

Bahkan melalui perhitungan matematis yang rumit, lewat piramida itu, dunia diramalkan kiamat tahun 2979! Bagaimana bisa?

Piramida Giza selesai dibangun sekitar 2750 SM. Tujuannya dibangun adalah sebagai monumen peringatan terhadap Raja Khufu yang punya nama Yunani Cheops. Dia adalah salah satu penguasa paling hebat yang pernah dimiliki Mesir Kuno.

Ada puluhan hingga ratusan piramida yang berjejer di sepanjang Sungai Nil. Tapi ada yang sehebat Piramida Agung Giza.

Piramida ini punya tinggi sekitar 140 meter, yang membuatnya lebih tinggi dibanding bangunan 40 lantai. Luasnya sendiri melampaui lima lapangan bola.

Jadi jangan heran jika bangunan raksasa itu masih mendapat kehormatan sebagai salah satu 7 Keajaiban Dunia Kuno yang masih berdiri hingga sekarang.

Selama ribuan tahun, misteri dan rahasia yang ada di dalamnya mengundang rasa penasaran masyarakat. Ada banyak fakta mengagumkan yang sudah terungkap. Seperti, piramida yang dibangun selama 20 tahun ini, menurut sejarawan Yunani Herodotus, yang pernah mengunjungi Mesir pada tahun 5 SM, menyerap 100 ribu orang tenaga kerja per tahun.

Ratusan ribu orang itu harus membawa batu dari tepian Sungai Nil, lalu memotongnya, dan menyusunnya sedemikian rupa dengan rapi. Batu-batu itu menempel dengan baik satu dengan yang lainnya sehingga sangat sulit untuk menyisipkan pisau tipis di sela-selanya. Kok bisa?

Dasar Piramida Giza berbentuk bujur sangkar sempurna di mana keempat sisinya tepat menghadap ke empat penjuru mata angin. Lalu untuk bidang miringnya membentuk sudut 51° dengan permukaan tanah.

Yang juga istimewa, bahan baku Piramida Giza adalah 2,3 juta bongkahan batu kapur empat persegi panjang yang masing-masing beratnya 2-15 ton. Dengan alat perunggu yang begitu kuatnya yang hingga kini belum terungkap, para pekerja itu memotong batu granit raksasa dengan presisi yang tinggi.

Ada yang bilang, batu-batu itu dapat digunakan untuk membangun tembok setebal 0,9 m dengan tinggi 2,7 m mengelilingi Prancis yang luasnya kira-kira sama dengan luas P. Sumatra digabung dengan P. Jawa!

Sebagai informasi, Piramida Agung Giza berdiri di kawasan plateau berbatu-batu 10 mil sebelah timur Kairo. Sebelum pondasi piramida dibangun, dibangun terlebih dahulu dinding dari lumpur di sekeliling dataran tinggi, yang kemudian dibanjiri dengan air.

Setelah airnya sudah meresap, tampaklah tonjolan-tonjolan di permukaan yang lalu dipotong sampai didapatkan dataran yang rata, bahkan lebih rata daripada permukaan pondasi gedung pencakar langit abad 20. Baru setelah itu dipasang batu-batu besar, diangkut sejumlah besar tenaga kerja dari tambang penggalian di sekitarnya.

Piramida Mesir Kuno identik dengan makam, begitu juga dengan Piramida Giza. Jauh di bawah pondasinya, disiapkan makam cadangan untuk berjaga-jaga jika Raja Khufu meninggal sebelum proyek ini selesai. Tak hanya itu, dibangun juga makam kedua tapi lebih rendah dibanding ruang makam yang direncanakan. Letaknya sekitar 42 meter dari permukaan tanah dan bisa dicapai lewat lorong kecil.

Ruang makam itu tingginya 8 meter lebih. Sumbat batu kapur raksasa yang dipasang di lorong itu akan menutup ruang itu selama-lamanya setelah sang pendeta menyelesaikan upacara.

Tapi yang aneh, hingga sekarang, belum juga ditemukan mumi raja Mesir Kuno. Teka-teki itu bahkan sempat membuat bingung seorang khalifah dari Baghdad.

Meski begitu, ada ribuan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Apa saja?

Ribuan pengetahun di balik Piramida Giza

Pada 820 Masehi, Abdullah Al Makmun bersama sejumlah orang sewaannya menerobos Piramida Agung Giza. Dia adalah khalifah Baghdad pertama yang masuk ke piramida itu.

Tenang, dia tidak hendak menjarah barang-barang kuno ada di dalamnya. Abdullah Al Makmun masuk ke Piramida Giza semata-mata karena mendengar di sana banyak gelas antipecah alias logam murni dan terutama tabel serta peta astronomi.

Setelah melewati pelbagai jebakan yang sulit nan membahayakan, dia akhirnya berhasil sampai di ruang makam utama. Tapi dia tidak menemukan apa-apa, kosong melompong. Yang ada cuma sarkofagus, peti mati dari batu yang sudah kosong dan tanpa tutup.

Padahal, dengan melihat batu kapur penyumbat yang masih utuh, dia percaya bahwa belum ada orang yang mendahuluinya masuk makam itu. Usahanya mencari tanda-tanda masuk paksaan atau penjarahan juga sia-sia.

Al Makmun pun meninggalkan tempat itu dengan kecewa. Lebih dari itu, dia bingung mengapa megaproyek itu dibangun.

Dan bukan hanya Al Makmun yang belum menemukan jawabannya, tapi banyak orang dari masa ke masa. Hingga kemudian, pada 1971, pengarang Peter Tompkins, yang tidak kunjung lelah mengadakan penelitian, menulis sebuah buku yang dia niatkan untuk memecahkan teka-teki yang menyelimuti Piramida Agung.

Dalam bukunya itu dia bilang, mulanya pendeta Mesir menjanjikan pada Raja Khufu sebuah makam besar. Tapi begitu raja setuju dan kemudian mengucurkan dana, alih-alih makam yang dibuat melainkan monumen untuk mengenang kecanggihan ilmu pengetahuan mereka. Dan saat Raja Khufu mangkat, jenazahnya rupanya tak dimakamkan di situ.

Kenapa Tompkins sampai pada kesimpulan begitu, karena berdasarkan penelitiannya bersama Dr. Livio Stecchini, guru besar sejarah kuno di William Paterson College, New Jersey, dia menemukan bahwa di zaman itu Piramida Agung memegang peranan besar dalam menentukan letak geografis pelbagai objek termasuk bintang-bintang.

Menurut keyakinan Tompkins, pembuatnya tahu dengan tepat keliling bumi dan panjang waktu selama setahun, termasuk kelebihannya sebesar 0,2422 hari. Mereka juga tahu panjangnya orbit bumi waktu mengelilingi matahari, kepadatan khusus bumi, akselerasi gravitasi, dan kecepatan cahaya.

Ratusan tahun setelah ekspedisi Al Makmun yang tak menghasilkan apa-apa selain sarkofagus yang kosong-melompong, Piramida Agung Giza tak diotak-atik manusia. Kondisi itu berlangsung hingga abad 17-18 ketika ilmuwan dan ahli matematika Inggris dan Prancis terusik minatnya.

Isaac Newton termasuk ilmuwan yang berusaha menyingkap rahasia yang tersimpan dalam Piramida Agung Giza tapi sayang usahanya sia-sia.

Lalu pada 1830-an, Kolonel Richard Howard-Vyse, dia orang Inggris, dengan timnya menemukan suhu dalam ruang raja di piramida itu konstan 20°C dalam pelbagai musim. Padahal ini suhu ideal untuk menyimpan standar pengukuran ilmiah dan memang menurut legenda makam itu tempat menyimpan benda-benda ilmiah itu.

Orang Inggris lainnya, John Taylor, mendapatkan hal baru 30 tahun kemudian. Penelitiannya tentang Piramida Agung di Giza ditulisnya dalam buku The Great Pyramid: Why was it built and who built it?.

Dalam buku itu dia menulis bahwa orang Mesir sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat, juga sudah dapat menghitung kelilingnya lewat pengamatan terhadap benda-benda angkasa.

Taylor menambahkan bahwa orang-orang Mesir Kuno itu memang bertujuan meninggalkan catatan yang akurat dan yang bertahan sepanjang masa tentang panjang keliling bumi itu. Soalnya hubungan antara keliling dan tingginya sama dengan hubungan antara keliling lingkaran dengan jari-jarinya.

Artinya, nilai phi (π) telah dikenal orang Mesir sejak dulu kala, prinsip matematika yang tak ternilai yang dulu diduga belum ditemukan sampai 3.500 tahun kemudian. Penemuannya dikuatkan oleh ahli matematika jenius Charles Piazzi Smyth, astronom Skotlandia.

Dengan kalkulasi yang teliti Smyth mencoba membuktikan piramid itu juga semacam kalender super, yang bisa menyajikan ramalan. Meski data-data yang ditawarkan hebat dan bukunya dibaca banyak orang, tapi kesimpulan akhirnya banyak yang menolaknya – mereka menyebutnya sebagai piramidiot.

Pendapat itu disusul beberapa teori lain. Ada yang eksentrik, memberikan inspirasi, mistis, dan ada pula yang berbau ilmiah.

Ahli ilmu fisika Perancis Jean Baptiste Biot tahun 1853 menyimpulkan Piramida Agung itu adalah sebuah jam raksasa. Ide ini dibenarkan oleh David Davidson/insinyur sipil dari Rai Leeds, Inggris, dan temannya, Moses B. Cosworth, dari Yorkshire.

Piramida Agung meramalkan Hari Kiamat

“Menurut kepercayaan kuno Mesir, kebahagiaan di alam baka sangat tergantung pada ketenangan jenazah. Karena itulah makam dirancang agar bertahan lama, dengan sejumlah lorong rahasia untuk menghalangi masuknya pencuri kuburan,” tulis Majalah INTISARI edisi Agustus 1995.

Juga supaya perjalanan jauh si almarhum menuju tanah roh tidak terhambat, maka makam itu dilengkapi dengan makanan, minuman, permata, senjata, perahu pengorbanan, dan patung-patung yang mungkin akan hidup lagi.

Beberapa kalangan mengatakan bahwa piramida punya kekuatan misterius yang sulit dijelaskan. Katanya, struktur piramida itu sendiri adalah magnet yang menarik sinar-sinar kosmis. Ada juga yang bilang bahwa struktur piramida itu sumber tenaga listrik statis. Banyak pula pengunjung piramida yang mendapat kesempatan melihat nasib mereka di masa datang.

Mari kita lihat apa yang dialami oleh tokoh kita Napoleon. Pada 12 Agustus 1799 dia mengunjungi ruang makam raja di dalam Piramida Agung. Beberapa saat setelah melewatkan waktu sendirian, Napoleon yang dikenal karena berhasil menaklukkan Eropa itu muncul dengan wajah pucat dan gemetar.

“Aku tidak ingin semua ini muncul lagi,” ucapnya tiba-tiba.

Napoleon mengisyaratkan telah melihat masa depannya ketika di Piramida Agung. Bahkan beberapa saat sebelum maut datang di St. Helena, dia tampaknya akan mengungkapkan rahasianya pada seorang pelayannya. Namun dia membatalkan, "Apa gunanya? Kau toh tak akan percaya," dia beralasan.

Sementara itu anggota Institute of Pyramidology di London yakin bahwa Piramida Agung secara tepat meramalkan masa depan manusia. Lewat sistem penghitungan dan matematika yang rumit, Piramida Agung dapat memperkirakan antara lain keluarnya bangsa Israel dari Mesir, pecahnya Perang Dunia I, bahkan juga kapan kiamat akan terjadi yang konon menunjuk pada angka tahun 2979!

Pengalaman mistis juga dialami oleh Paul Brunton pada 1930-an. Ketika itu dia menghabiskan waktu semalam di Ruang Raja setelah berpuasa selama 3 hari. Dia mengaku, dia merasakan ada sesuatu yang menakutkan berputar-putar di sekitarnya saat menelusuri lorong rahasia yang ada di piramida itu.

Lalu muncul makhluk-makhluk luhur berpakaian pendeta tingkat tinggi Mesir kuno dalam atribut kebesarannya. Brunton mengaku dibawa berjalan menelusuri lorong-lorong rahasia dalam Piramida Agung yang berhubungan dengan lorong-lorong rahasia dalam pikiran manusia.

Saat akhirnya dia sadar kembali, ternyata hanya 1 - 2 jam yang telah dia lewatkan.

Tapi kasus paling aneh mengenai kekuatan piramid justru dirasakan oleh orang awam tanpa latar belakang ilmiah dan belum pernah ke Mesir. Konon maket Piramida Agung entah dari bahan kertas karton, logam, ataupun plastik, asalkan dibuat dengan skala yang tepat, dapat membuat pisau cukur tetap tajam, makanan tetap segar, menimbulkan rasa tenang dan tentram, bahkan membantu menentukan masa depan.

Daftar itu masih bisa diperpanjang: baterai kering mampu mengisi kembali sumber energinya, air rasanya lebih enak, makanan lebih awet, benih berkecambah lebih cepat, binatang peliharaan dan tanaman bahagia, anak-anak lebih tenang, tidur lebih mudah dan nyenyak, sakit perut bulanan hilang, lebih mudah berkonsentrasi, ketahanan mental bertambah, dan dorongan seks meningkat.

Sedangkan pencari air dengan menggunakan pendulum atau buah garputala dapat merasakan sesuatu ketika berada di lahan kekuatan piramid, proses pengobatan alamiah sangat terbantu, berdoa lebih efektif. Pokoknya, semua fenomena fisik lainnya meningkat.

Orang Prancis bernama Antoine Bovis, misalnya, membuktikan maket Piramid Agungnya mampu menjaga makanan di dalamnya tetap segar. Seratus tahun kemudian, insinyur Cekoslowakia Karel DrbaL menemukan pisau cukur yang dia letakkan di dalam maket piramida buatannya tidak pernah tumpul. Dia juga yakin maket piramid mampu mengubah pisau cukur bekas yang tumpul menjadi tajam.

Bahkan setelah gagasannya diuji para ilmuwan, dia dipercaya mendapat paten no. 91304, meski belakangan muncul fakta-fakta yang meragukan klaimnya.

Adalah Dr. Carl Schleicher, dari Mankind Research Unlimited di Washington, D.C., yang melaporkan, kecambah kacang di bawah piramida 1,5 kali lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan yang di tempat terbuka dan 1,129 kali dibandingkan dengan yang di dalam kubus.

Sebaliknya, percobaan serupa yang dilakukan jurusan hortikultura University of Guelph di Kanada menunjukkan bahwa piramid tidak mempunyai pengaruh pada pertumbuhan tanaman seperti yang dinyatakan CarL Lepas dan semua spekulasi itu, kaum cendekiawan Mesir sudah mencapai titik kesimpulan akhir tentang mengapa dan bagaimana 35 piramid tradisional yang berdiri hampir di sepanjang Sungai Nil itu dibangun. Ya, cuma sebagai makam. (Dari pelbagai sumber/Sht)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.