Bayar Rp500 Ribu ke Juru Kunci Makam, Istri Mendiang Budayawan Ngaku Diperas usai Nisan Ayah Dirusak
Ani Susanti August 12, 2026 02:34 PM

TRIBUNJATIM.COM - Nisan makam mertua mendiang budayawan Djaduk Ferianto di Pemakaman Kuncen, Kota Yogyakarta, rusak.

Peristiwa itu membuat Petra Ferianto, istri Djaduk merasa keberatan karena mengaku dimintai sejumlah uang oleh juru kunci makam.

Petra mengetahui kondisi tersebut ketika hendak nyekar ke makam ayahnya pada Rabu (12/8/2026).

Saat tiba di lokasi, ia justru kesulitan menemukan makam karena nisan yang biasanya menjadi penanda sudah tidak ada.

“Saya kaget karena itu sudah di ditugel maejan (nisan) gitu kan. Enggak ada orang, terus saya cari-cari ada orang di situ, Pak juru kuncinya teng pundi? Saya begitu,” kata Petra saat dihubungi, Rabu (12/8/2026).

Baca juga: Sosok Mbah Bas yang Teguh Mengabdi di Antara Nisan, Ceritakan Ingatan Pahit saat Pandemi Covid-19

Petra kemudian berusaha mencari juru kunci untuk menanyakan kondisi makam tersebut.

Namun, juru kunci yang dicari tidak berada di lokasi.

Ia bahkan mencoba mencari kediaman juru kunci tersebut.

Setelah tidak berhasil menemukannya, Petra memilih melaporkan kejadian itu ke polisi.

“Terus saya langsung kepikiran wis tak ning kantor polisi pisan saja. Ke Kantor Polisi Wirobrajan, saya laporan kejadian yang saya alami selama sementara saya laporan ada petugas yang ke lokasi,” kata dia.

Juru Kunci Sengaja Rusak Nisan

Setelah laporan dibuat, Petra mendapat informasi bahwa juru kunci telah berada di area pemakaman.

Ia kemudian mendatangi lokasi dan bertemu dengan juru kunci yang merupakan seorang perempuan.

Menurut Petra, juru kunci tersebut kemudian menjelaskan alasan nisan makam ayahnya dirusak.

"Saya ke sana ketemu juru kuncinya ibu-ibu, terus bilang begini, 'Niki nek mboten kula ngetenke jenengan rak mboten madosi kula toh?' (kalau tidak saya beginikan kamu tidak mencari saya kan?," kata Petra menirukan perkataan.

Petra mengatakan dirinya sebenarnya cukup sering berziarah ke makam tersebut.

Setiap kali bertemu dengan orang yang membantu membersihkan makam, ia mengaku biasa memberikan uang sebagai bentuk apresiasi.

Nominal yang diberikan biasanya Rp10.000 kepada masing-masing orang.

Namun, dalam beberapa kesempatan terakhir, Petra mengaku tidak menemukan orang di lokasi sehingga tidak mengetahui kepada siapa uang tersebut harus diberikan.

"Jadi singkat kata saya bilang: 'Ya wis kalau itu dianggap aku masih punya utang, utangku piro (berapa)'. Kayak gitu, selama saya datang ke situ tidak ada orang," kata Petra.

Petra Merasa Diperas

Persoalan tersebut kemudian berlanjut pada permintaan sejumlah uang.

Petra mengatakan dirinya meminta agar kondisi makam ayahnya dikembalikan seperti semula.

Ia kemudian memberikan uang Rp500.000 kepada juru kunci yang dianggapnya sebagai pembayaran atas utang yang selama ini belum diberikan.

"Yang saya anggap utang itu tak transfer ke dia. Saya ngasihnya Rp 500 ribu,” kata dia.

Petra menilai jumlah tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan uang yang biasanya ia berikan ketika berziarah.

Baca juga: 22 Makam di Bantur Malang Ditemukan Rusak, Nisan Pecah dan Hancur, Polisi Lakukan Penyelidikan

Menurutnya, selama ini ia biasa memberikan sekitar Rp5.000 hingga Rp20.000 kepada juru kunci.

Tak hanya itu, Petra mengaku kembali dimintai uang untuk keperluan perbaikan makam.

Ia mempertanyakan mengapa dirinya harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki kerusakan yang menurutnya dilakukan oleh pihak juru kunci.

"Kok aku jadi keluar biaya untuk (yang) kamu rusak," ujar dia.

Petra pun mengaku merasa tindakan tersebut sebagai bentuk pemerasan.

Ia juga mengatakan dirinya diminta membayar uang secara rutin setiap bulan.

"Dia sempat bilang sesasi (sebulan) Rp 100 ribu, sehari berapa gitu," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.