Aqila Putri Siswi SDN 1 Sawah Brebes Raih Emas Taekwondo di Universitas Lampung
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 12, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang gadis kecil mengenakan seragam taekwondo berwarna putih lengkap dengan sabuk kuning berada di halaman SDN 1 Sawah Brebes, Bandar Lampung.

Baca juga: Siswi SMPN 1 Pringsewu Raih Perak di Kejuaraan Taekwondo Internasional 2026

Usianya baru sembilan tahun. Tubuhnya masih mungil, tetapi keberanian dan semangatnya di arena taekwondo patut diacungi jempol.

Dia adalah Aqila Putri, siswi kelas IV SDN 1 Sawah Brebes, Bandar Lampung. Selama sekitar dua tahun menekuni taekwondo, Aqila telah mengikuti sejumlah pertandingan dan mengoleksi berbagai prestasi.

Terbaru, Aqila berhasil meraih medali emas nomor Kyorugi Pra Cadet B U-24 dalam Ksatria Nusantara Series Championship yang digelar di Universitas Lampung (Unila) pada Juli 2026.

Medali emas tersebut menjadi salah satu buah dari kegigihan Aqila menjalani latihan dan keberaniannya menghadapi lawan di atas matras.

Bagi Aqila, bertanding bukan sesuatu yang menakutkan. Ketika ditanya bagaimana pertandingan yang dijalaninya di Unila, jawabannya sederhana.

“Pertandingan kemarin alhamdulillah hasilnya bagus, saya mendapatkan emas walaupun lawannya susah hingga lutut saya sempat memar karena tendangan dari lawan,” ujar Aqila saat ditemui Rabu (12/8/2026).

Dalam pertandingan tersebut, Aqila menghadapi satu lawan. Meski sempat mendapat tendangan hingga menyebabkan lututnya memar dan berwarna kebiruan, ia tetap tenang dan tidak menangis.

“Saat ditendang lawan sampai memar, saya tidak menangis,” jawab Aqila ketika ditanya apakah dirinya menangis karena kesakitan.

Berawal dari Keinginan Sendiri

Perjalanan Aqila di dunia taekwondo ternyata bukan karena paksaan orang tua. Justru keinginan tersebut datang dari dirinya sendiri.

Aqila mulai menekuni taekwondo sejak kelas II SD. Kini, ia sudah duduk di kelas IV dan telah menjalani latihan selama kurang lebih dua tahun.

Lima Bulan Berlatih, Aqila Mulai Berani Bertanding

Menjadi atlet taekwondo bukan perkara mudah bagi Aqila. Pada awal latihan, ia harus beradaptasi dengan latihan fisik yang cukup berat.

Bagian paha menjadi salah satu bagian tubuh yang sering terasa sakit setelah menjalani latihan fisik.

Namun, rasa sakit itu tidak membuat Aqila berhenti.

Sekitar lima bulan setelah mulai belajar taekwondo, Aqila sudah mulai siap mengikuti pertandingan.

Kini, selama kurang lebih dua tahun, ia telah mengikuti sekitar sembilan pertandingan.

Yang menarik, meski harus menjalani latihan fisik dan menghadapi lawan di arena pertandingan, Aqila mengaku tidak pernah benar-benar ingin menyerah.

Ketika ditanya apakah pernah merasa malas atau ingin berhenti karena lelah, Aqila menjawab singkat.

“Enggak, karena aku memang suka latihan,” jelasnya.

Baginya, taekwondo justru menjadi aktivitas yang menyenangkan. Salah satu hal yang membuat Aqila betah adalah banyaknya teman di lingkungan latihan. 

Ia menyebut suasana latihan yang ramai dan kebersamaan dengan teman-teman menjadi salah satu alasan dirinya semakin menyukai taekwondo.

Namun, hal yang paling disukai Aqila tetaplah ketika dirinya bertanding. Menurutnya, bertanding terasa sangat seru.

Latihan Lebih Keras Menjelang Pertandingan

Menjelang pertandingan Ksatria Nusantara Series Championship di Unila, Aqila meningkatkan intensitas latihannya.

Begitu mengetahui akan mengikuti pertandingan, ia langsung menjalani latihan secara rutin, bahkan setiap hari.

Latihan tersebut dilakukan sekitar satu minggu menjelang pertandingan.

“Capek, namun seneng karena aku bisa ketemu temen-temen dan mendapat prestasi,” kata Aqila.

Namun, rasa lelah tidak menghilangkan semangatnya.

Ia tetap menjalani latihan hingga akhirnya berhasil membawa pulang medali emas.

Sang ibu mengungkapkan, awalnya dirinya sempat tidak mengizinkan Aqila mengikuti taekwondo. Kekhawatiran terhadap risiko cedera menjadi alasan utama.

Sebelumnya, ketika masih kelas I SD, Aqila juga pernah menunjukkan ketertarikan terhadap taekwondo. Namun, sang ibu belum memberikan izin.

Keinginan itu kembali muncul ketika Aqila duduk di kelas II. Saat mendapat brosur kegiatan taekwondo dari sekolah, Aqila kembali menyampaikan keinginannya kepada sang ibu.

“Dia memang kemauan sendiri. Waktu itu dapat brosur dari sekolah, dia bilang ingin ikut. Karena dia terus ingin ikut, akhirnya saya bilang coba saja,” kata sang ibu.

Keputusan tersebut ternyata menjadi awal perjalanan prestasi Aqila.

Setelah mengikuti latihan, sang ibu melihat Aqila memiliki bakat dan ketertarikan yang kuat terhadap taekwondo. Akhirnya, latihan pun terus dilanjutkan hingga sekarang.

Aqila berlatih di klub Athia secara rutin setiap Selasa dan Sabtu di sekolahnya.

Deretan Prestasi Aqila

Medali emas di Ksatria Nusantara Series Championship bukanlah prestasi pertama Aqila.

Sejak mulai mengikuti pertandingan, bocah kelahiran sembilan tahun itu perlahan mengumpulkan prestasi demi prestasi.

Berikut deretan prestasi Aqila Putri:

  • Juara 1 Kyorugi Under 22 Pra Cadet Pemula Putri, Kejuaraan Taekwondo SMPN 10 Cup, Mei 2025.
  • Juara 1 Kyorugi Under 22 Pra Cadet Pemula Putri, ATIA Taekwondo Festival, Juni 2025.
  • Juara 3 Fight Target Pra Cadet A Putri, ATIA Competition, Agustus 2025.
  • Juara 2 Kyorugi U-22 Kg Pra Cadet B Elite Putri, Liga Antar Pelajar Taekwondo SD se-Lampung, September 2025.
  • Juara 1 Kyorugi U-22 Kg Pra Cadet B Pra Elite Putri, ATIA Sisteen Cup, Oktober 2025.
  • Juara 1 Kyorugi U-24 Pra Cadet B Pemula Putri, Tryout Taekwondo ATIA Indonesia, April 2026.
  • Juara 3 Kyorugi U-24 Pra Cadet B Elite Putri, 2026.
  • Medali Emas Kyorugi Pra Cadet B U-24, Ksatria Nusantara Series Championship, Juli 2026.
  • Terbaik 1 Kyorugi Poomsae Speed Target, Latih Tanding ATIA Indonesia, Agustus 2026.

Deretan prestasi tersebut menunjukkan perkembangan Aqila yang cukup konsisten. Dari sekadar mencoba olahraga bela diri, kini ia telah memiliki pengalaman bertanding di berbagai kejuaraan.

Sang Ibu Bangga, tetapi Tetap Khawatir Cedera

Di balik keberhasilan Aqila, ada dukungan sang ibu yang terus mendampingi.

Sang ibu mengaku bangga melihat kemauan Aqila yang begitu kuat untuk berlatih dan bertanding.

Namun, rasa bangga tersebut tetap dibarengi kekhawatiran. Sebagai orang tua, cedera menjadi salah satu hal yang paling ditakutkan ketika anaknya bertanding.

Terlebih, taekwondo merupakan olahraga yang melibatkan kontak fisik secara langsung.

“Agak sempat takut sebenarnya kalau dia cedera. Alhamdulillah selama ini cuma cedera kecil, luka-luka saja. Jangan sampai yang seperti patah atau cedera berat. Itu yang ditakutkan,” ujar sang ibu.

Aqila beberapa kali mengalami cedera ringan, seperti kaki yang terkilir atau memar. Namun, sejauh ini kondisinya masih dapat ditangani.

Sang ibu juga berharap setiap pertandingan yang diikuti Aqila memiliki dukungan medis yang memadai sehingga keselamatan atlet tetap menjadi prioritas.

Punya Cita-Cita Menjadi Tentara

Selain memiliki kecintaan terhadap taekwondo, Aqila ternyata mempunyai cita-cita yang cukup besar. Ia ingin menjadi tentara.

Keinginan tersebut membuat olahraga taekwondo menjadi semakin berarti baginya. Latihan rutin membantu Aqila membangun kekuatan fisik, keberanian, disiplin, dan mental sejak usia dini.

Meski masih duduk di kelas IV SD, Aqila sudah menunjukkan karakter seorang atlet muda: mau berlatih, berani bertanding, tidak mudah menyerah, dan tetap bersemangat meski harus merasakan lelah maupun sakit.

Sang ibu pun memilih untuk terus mendukung minat tersebut selama Aqila tetap bisa membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan pendidikan.

Medali Emas Bukan Akhir

Bagi Aqila, medali emas di Unila bukanlah akhir perjalanan.

Ia masih ingin mengikuti pertandingan berikutnya dan kembali berlatih untuk mempersiapkan diri.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.