Suku Sawang Asli di Desa Kumbung Tak Ada Lagi, Yang Tersisa Hanya Tinggal Keturunan
Hendra August 12, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Keberadaan Suku Sawang atau Suku Sekak alias Suku Laut di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung kini semakin menipis.

Pemerintah desa menyebut tidak ada lagi warga yang benar-benar merupakan Suku Sawang asli di wilayah tersebut, sementara keturunan yang masih bertahan diperkirakan hanya sekitar dua hingga tiga kepala keluarga. 

Kondisi ini menjadi perubahan besar bagi komunitas yang disebut telah mendiami Kumbung sejak zaman penjajahan Belanda.

Kepala Desa Kumbung, Sutarpan, mengungkapkan dirinya tidak mengetahui secara pasti sejak kapan jumlah Suku Sawang mulai berkurang.

Namun, kondisi tersebut berlangsung secara perlahan dan dipengaruhi sejumlah faktor, terutama perkawinan dengan masyarakat dari luar Suku Sawang serta perubahan mata pencaharian. 

Perubahan kehidupan membuat keberadaan komunitas asli Suku Sawang semakin sulit ditemukan di Desa Kumbung.

RUMAH SUKU SAWANG – Sejumlah rumah suku sawang yang berada di tepi laut Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Rabu (12/6/2026). Kini keberadaan Suku Sawang di desa itu kian berkurang karena minimnya regenerasi.
RUMAH SUKU SAWANG – Sejumlah rumah suku sawang yang berada di tepi laut Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Rabu (12/6/2026). Kini keberadaan Suku Sawang di desa itu kian berkurang karena minimnya regenerasi. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

“Cuman berkurangnya Suku Sawang di Desa Kumbung faktornya banyak, ada yang karena status kawin dengan orang luar, yang kedua dari segi mata pencaharian,” kata dia kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026).

Sutarpan menyebut saat ini tidak ada lagi masyarakat yang benar-benar asli Suku Sawang yang tinggal di Desa Kumbung. Hanya sekitar dua hingga tiga kepala keluarga yang masih merupakan keturunan Suku Sawang dan menetap di desa tersebut.

Jumlah tersebut sangat jauh dibandingkan keberadaan komunitas Suku Sawang pada masa sebelumnya.

Jejak keberadaan Suku Sawang di Desa Kumbung sendiri disebut telah berlangsung jauh sebelum Sutarpan lahir. Berdasarkan pengetahuan yang diterimanya, masyarakat Suku Sawang sudah berada di wilayah tersebut sejak zaman penjajahan Belanda.

Namun, tidak adanya catatan tahun yang pasti membuat waktu awal kedatangan mereka di Kumbung belum dapat disebutkan secara rinci.

“Kalau untuk yang benar-benarnya asli Suku Sekak sebenarnya sudah tidak ada, cuman kalau keturunan sekitar dua sampai tiga KK,” jelas Sutarpan.

Adapun perubahan paling terlihat terjadi pada pola kehidupan masyarakat Suku Sawang. Jika dahulu mereka dikenal hidup di atas perahu dan dekat dengan laut, kini keturunan Suku Sawang yang masih tinggal di Kumbung telah memiliki rumah sendiri di daratan.

Pemindahan dari perahu ke daratan dilakukan karena kondisi cuaca yang dapat menyebabkan banjir ketika musim barat.

Meski telah menetap di daratan, hubungan keturunan Suku Sawang dengan laut masih tetap kuat. Sebagian dari mereka hingga kini masih menggantungkan penghidupan sebagai nelayan karena kawasan tempat tinggal mereka berada di pesisir.

Namun, ada pula keturunan Suku Sawang yang memilih bertani sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kehidupan di daratan membuat masyarakat keturunan Suku Sawang semakin berbaur dengan warga lainnya.

Mereka kini mengikuti berbagai kegiatan sosial yang berlangsung di desa, mulai dari menghadiri tahlilan ketika ada warga meninggal hingga menghadiri pesta masyarakat.

Batas kehidupan antara keturunan Suku Sawang dengan masyarakat lainnya pun semakin tipis dalam aktivitas sehari-hari.

“Kalau sekarang suka kumpul, suka nimbrung di keramaian, baik itu misal ada yang tahlilan kematian maupun ada yang pesta,” urainya.

Meski jumlahnya semakin sedikit, Pemerintah Desa Kumbung masih melihat tradisi Suku Sawang sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dipertahankan.

Satu tradisi yang masih dikenal adalah ritual Buang Jong yang dilaksanakan di kawasan Ujung Gusung, di pinggir laut Desa Kumbung.

Namun, tradisi tersebut tahun ini tidak dilaksanakan karena keterbatasan anggaran pemerintah desa.

“Kalau tradisi cuman satu, acara ritual Buang Jong, cuman terkait dengan anggaran, jadi untuk tahun ini kami tiadakan,” pungkas Sutarpan. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.