TRIBUNJOGJA.COM- Di media sosial, seseorang bisa terlihat berbeda tergantung tempatnya berada.
Di akun utama, unggahan mungkin lebih terpilih dan rapi. Sementara di second account, isinya bisa jauh lebih santai. Mulai dari foto random, keluhan soal tugas, meme, sampai cerita kecil sehari-hari.
Lalu buka TikTok, bisa jadi orang yang sama justru lebih berani menunjukkan sisi lain. Sementara di LinkedIn, yang muncul mungkin versi paling profesional: pengalaman organisasi, sertifikat, proyek, dan pencapaian.
Orangnya tetap satu.
Tapi kenapa rasanya seperti melihat beberapa versi diri yang berbeda?
Fenomena ini cukup dekat dengan kehidupan Gen Z. Satu orang bisa memiliki akun utama, second account, Close Friends, bahkan menggunakan platform yang berbeda untuk kebutuhan yang berbeda pula.
Bukan berarti mereka sedang berpura-pura menjadi orang lain. Justru, media sosial membuat seseorang punya lebih banyak ruang untuk menentukan sisi mana dari dirinya yang ingin ditunjukkan kepada orang tertentu.
Satu Orang, Banyak Ruang untuk Menjadi Diri Sendiri
Dulu, identitas di media sosial mungkin lebih sederhana. Satu akun digunakan untuk berteman, mengunggah foto, berbagi kegiatan, sekaligus menunjukkan siapa diri seseorang.
Sekarang, batasnya semakin banyak.
Teman dekat mungkin ada di Close Friends. Teman sekolah ada di akun utama. Orang yang baru dikenal mungkin hanya mengikuti akun publik. Sementara sisi yang lebih random justru disimpan di akun kedua.
Perbedaan ini membuat cara seseorang berkomunikasi ikut berubah. Apa yang diunggah bukan hanya dipikirkan berdasarkan “aku ingin posting apa?”, tetapi juga “siapa yang akan melihat ini?”
Penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam cara pengguna melakukan self-presentation atau menampilkan diri di akun yang berbeda.
Artinya, satu platform bahkan bisa digunakan untuk membentuk lebih dari satu tampilan diri, tergantung tujuan dan audiensnya.
Jadi, kalau seseorang terlihat berbeda di Instagram dan LinkedIn, belum tentu salah satunya palsu. Bisa saja memang ada bagian dirinya yang lebih cocok ditampilkan di satu tempat daripada tempat lainnya.
Kenapa Akun Utama Sering Terlihat Lebih “Rapi”?
Akun utama biasanya punya audiens yang lebih beragam. Ada teman dekat, teman lama, keluarga, kenalan, bahkan orang yang sebenarnya sudah lama tidak berinteraksi.
Karena itu, apa yang diunggah sering kali melewati sedikit pertimbangan lebih dulu.
Foto mana yang paling bagus?
Caption-nya terlalu berlebihan atau tidak?
Kalau keluarga melihat, aman tidak?
Kalau teman kuliah melihat, bagaimana?
Tanpa sadar, akun utama bisa menjadi semacam ruang untuk menampilkan versi diri yang paling mudah diterima oleh banyak orang.
Hal ini berkaitan dengan konsep self-presentation, yaitu cara seseorang mengatur bagaimana dirinya ingin dipersepsikan oleh orang lain.
Di media sosial, proses ini menjadi lebih mudah karena pengguna bisa memilih foto, menghapus unggahan, mengatur privasi, sampai menentukan siapa yang boleh melihat konten tertentu.
Karena ada kesempatan untuk memilih, kehidupan digital akhirnya tidak selalu menjadi rekaman kehidupan apa adanya. Ada proses seleksi di baliknya.
Bukan berarti semua yang diunggah palsu. Hanya saja, yang ditampilkan memang biasanya merupakan bagian tertentu dari diri seseorang.
Lalu Muncul Second Account
Kalau akun utama terasa seperti ruang publik, second account sering kali terasa lebih seperti ruang belakang.
Pengikutnya lebih sedikit. Orang yang diterima biasanya dipilih sendiri. Kontennya pun bisa jauh lebih santai.
Second account dapat digunakan sebagai ruang untuk mengekspresikan sisi diri yang tidak selalu ditampilkan di akun utama.
Ruang dengan audiens yang lebih terbatas membuat pengguna merasa lebih bebas untuk membagikan hal yang personal, emosional, atau sekadar random.
Seseorang mungkin merasa lebih menjadi dirinya sendiri ketika tidak terlalu banyak orang yang melihat. Tidak perlu memikirkan apakah foto tersebut cukup bagus, apakah postingannya terlihat keren, atau apakah orang tertentu akan salah memahami apa yang diunggah.
Karena audiensnya lebih kecil, tekanan untuk menjaga citra juga bisa terasa lebih rendah.
Itulah sebabnya satu orang yang terlihat sangat kalem di akun utama bisa saja menjadi sangat berisik di second account-nya.
Close Friends dan Seni Memilih Audiens
Hal serupa juga terjadi lewat fitur Close Friends.
Fitur ini mungkin terlihat sederhana, hanya memilih siapa yang boleh melihat story. Namun, di baliknya ada keputusan sosial yang diambil.
Seseorang bisa saja mengunggah foto dirinya di depan banyak pengikut, tetapi cerita tentang hari yang buruk hanya dibagikan kepada sepuluh orang. Foto makanan bisa masuk story biasa, sementara keluhan tentang tugas hanya muncul di Close Friends.
Artinya, bukan hanya kontennya yang berbeda. Audiensnya juga ikut menentukan seberapa banyak diri yang ingin dibagikan.
Penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk membuka diri secara online memang tidak hanya berkaitan dengan fitur privasi, tetapi juga dengan hubungan sosial, siapa yang menjadi audiens, dan norma yang berlaku dalam kelompok tersebut.
Dengan kata lain, seseorang tidak selalu ingin menyembunyikan sesuatu. Bisa jadi ia hanya ingin membagikannya kepada orang yang tepat.
Berbagai Media Sosial Memunculkan Sisi yang Berbeda
Menariknya, perbedaan versi diri tidak berhenti pada akun utama dan akun kedua.
Platform juga punya “aturan tidak tertulis” masing-masing.
Instagram sering digunakan untuk membangun tampilan visual tentang kehidupan.
TikTok memberi ruang yang lebih besar untuk humor, opini, cerita sehari-hari, atau mengikuti tren.
LinkedIn punya suasana yang jauh lebih profesional karena audiensnya berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan.
Akhirnya, seseorang belajar menyesuaikan cara berbicara dan menampilkan dirinya dengan lingkungan digital yang sedang digunakan..
Manusia memang memiliki banyak sisi. Media sosial hanya membuat sisi-sisi tersebut menjadi lebih mudah dipisahkan berdasarkan tempat dan audiens.
Jadi, Apakah Gen Z Sedang Menjadi “Orang yang Berbeda-Beda”?
Perbedaan cara seseorang menampilkan diri sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam kehidupan offline pun, seseorang mungkin berbicara dengan cara berbeda saat bersama sahabat, keluarga, dosen, atau atasan.
Yang berubah adalah sekarang proses tersebut terjadi di ruang digital dan bisa dibuat jauh lebih spesifik.
Gen Z memiliki lebih banyak kesempatan untuk menentukan siapa yang melihat dirinya, apa yang mereka lihat, dan seberapa banyak informasi yang ingin dibagikan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa second account dapat menjadi bagian dari proses mengeksplorasi identitas, bukan sekadar tempat untuk mengunggah konten yang tidak cocok dengan akun utama.
Dengan beberapa akun yang dimilikinya, bisa jadi merupakan cara seseorang untuk mengatur batas.
Ketika “Menjadi Diri Sendiri” Justru Butuh Ruang yang Berbeda
Ada hal menarik dari fenomena ini. Media sosial sering dianggap sebagai tempat untuk menunjukkan diri kepada orang lain.
Namun, semakin banyak pilihan ruang yang tersedia, sebagian orang justru membuat ruang yang semakin kecil untuk merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
Akun publik untuk banyak orang. Close Friends untuk lingkaran yang lebih dekat. Second account untuk sisi yang lebih bebas.
Seseorang bisa benar-benar bahagia ketika mengunggah foto kelulusan di akun utama, benar-benar menjadi dirinya sendiri ketika membagikan hal random di akun kedua, dan tetap menjadi dirinya ketika menulis pengalaman organisasi di LinkedIn.
Semuanya adalah bagian dari orang yang sama.
Artinya, media sosial memberi Gen Z banyak ruang untuk menunjukkan sisi diri yang berbeda.
(MG Mayumi Cinta Mahesi)