TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sekitar 55 hektare lahan pertanian di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, bagian selatan terendam air laut setelah terdampak gelombang pasang. Sampai saat ini, petani melakukan gotong royong secara manual untuk mengatasi dampak air merendam lahan pertanian.
Ngadiyo (70), warga Tirtohargo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, mengaku menjadi salah satu petani yang terdampak gelombang pasang. Sebab, sekitar 220 ubin lahan pertanian bawang milik Ngadiyo dan keluarga terendam air laut sejak Selasa (11/8/2026) malam.
"Ini setiap tahun kayak gini. Kalau normal, 20 hari itu sudah panen. Seharusnya minggu ini sudah panen. Jadi, kalau genangan air terus berlangsung sampai tiga hari, bisa berpotensi gagal panen," katanya, saat dijumpai di lahan pertanian, Rabu (12/8/2026).
Selain itu, dampak air laut yang merendam pertanian disebut menjadi lebih sering dihinggapi hama burung kuntul. Akibatnya, tumbuhan bawang cepat rusak. Untuk mengantisipasi itu, sejak pagi hingga sore hari, Ngadiyo harus menjaga lahan dan mengusir hama tersebut secara manual.
Lurah Tirtohargo, Sugiyanta, menyebut, di wilayah kerjanya ada 30 hektare lahan padi dan lima hektare lahan bawang yang terendam air laut. Sebab, gelombang besar terjadi di selatan, sehingga membawa pasir dan menutup aliran Muara Baros.
"Karena gelombang besar terjadi, sehingga muara itu buntu atau tidak berfungsi untuk mengalirkan air dari sungai ke laut. Debit air sungai itu lebih rendah dari pada debit dari laut. Terus air meluap ke lahan pertanian, sehingga lahan pertanian terendam air laut," ucap dia.
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah petani setempat melakukan gotong royong dengan tenaga manual untuk membuka aliran muara yang tersumbat tersebut. Sebab, jika tidak segera ditangani dikhawatirkan petani gagal panen.
Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan koordinasi bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY, dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) untuk menerjunkan alat berat agar sumbatan aliran air Muara Baros kembali dibuka.
"Kami masih menunggu bantuan dari BBWSO (untuk menurunkan alat berat). Karena, alat berat itu saat ini masih di Purworejo. InsyaAllah, nanti sore (alat berat) bisa dikirim ke sini (Muara Baros)," jelasnya.
Sugiyanta menyampaikan bahwa kondisi ini sudah terjadi secara tahunan. Setiap bulan Agustus-September, gelombang pasang terjadi dan membawa pasir sehingga menutup aliran Muara Baros.
Atas kondisi tersebut, pihaknya berharap kepada pemerintah daerah maupun pusat untuk membuatkan tanggul pengaman sawah, sehingga petani tidak dirugikan dengan adanya luapan air laut. Rencana tanggul itu dibuat di Sungai Winongo Kecil sampai Tempuran sekitar 1.300 meter.
"Kami harap, mudah-mudahan air muara itu dapat teratasi dan kedua baik pemerintah daerah maupun pusat segera membuatkan penanganan banjir seperti tanggul di Sungai Winongo Kecil," tutur dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menyebut, dampak luapan air laut itu terjadi di dua kalurahan yakni 30 hektare lahan padi dan lima hektare lahan bawang merah di Kalurahan Tirtohargo dan 20 hektare lahan padi di Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden.
"Karena ini tahunan dan terjadi karena penyumbatan di Muara. Jadi, ombak laut selatan pasang membawa pasir dan menyumbat air Muara Baros. Untuk mengatasinya, saat ini, warga setempat sudah melakukan pengerjaan secara manual sambil nunggu alat berat," katanya.
Lebih lanjut, pihaknya berharap segara ada alat berat yang datang ke lokasi kejadian, sehingga aliran air tidak lagi menyumbat. Sebab, dikhawatirkan apabila air dalam jumlah banyak mengenang lahan pertanian dapat berakibat gagal panen.
"Tapi, kalau tanaman padi saya yakin aman. Karena itu tanaman usia sekitar 30-40 hari. Saya khawatir dengan tanaman bawang merah, kalau air laut itu tidak segera surut karena lebih dari tiga hari terendam bisa mengakibatkan gagal panen," pungkas dia. (nei)