Paradila Bersyukur Gubuk Reot yang Ditinggalinya Selama 13 Tahun Kini Mulai Dibedah Dinsos Kepahiang
Hendrik Budiman August 12, 2026 07:42 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Rasa haru dan syukur menyelimuti Paradila setelah mendapat perhatian dan bantuan dari berbagai pihak menyusul kondisi rumahnya yang sebelumnya memprihatinkan.

Bantuan yang diterima Paradila dan keluarganya cukup beragam, mulai dari sembako, kasur, bantal, pakaian hingga bantuan renovasi rumah.

Untuk perbaikan rumah, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kepahiang bersama Pilar-Pilar Sosial turun langsung melakukan gotong royong. Rumah yang selama ini ditempati Paradila mulai dibenahi agar menjadi hunian yang lebih layak, aman dan nyaman.

Paradila mengaku bersyukur atas kepedulian pemerintah maupun masyarakat yang mulai berdatangan membantu keluarganya.

"Alhamdulillah sampai hari ini kita dapat bantuan sembako, kasur, bantal, baju dan bantuan bedah rumah ini," ujar Paradila.

Paradila menjelaskan, bantuan renovasi rumah dan sembako diberikan melalui Dinsos Kabupaten Kepahiang.

Sementara itu, kasur, bantal dan pakaian yang diterimanya berasal dari seorang ustazah di SDIT.

"Bantuan bedah rumah dan sembako ini dari Dinsos Kepahiang. Sementara kasur, bantal, dan baju ini dari ustazah di SDIT," jelasnya.

Bantuan tersebut menjadi angin segar bagi Paradila. Sebab, kondisi rumah yang selama ini ditempatinya dinilai kurang layak untuk dihuni.

Baca juga: 26 Relawan Dinsos Kepahiang Mulai Renovasi Gubuk Reot Tempat Paradila Tinggal Selama 13 Tahun

Kini, proses perbaikan mulai dilakukan secara gotong royong oleh tim Dinsos Kepahiang bersama Pilar-Pilar Sosial.

Selain bantuan yang telah diterima, Paradila juga masih menantikan proses pengajuan bantuan sosial lainnya yang tengah dilakukan bersama Dinsos Kabupaten Kepahiang.

Ia berharap bantuan tersebut dapat terealisasi sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Adapula bansos yang sedang diproses dengan Dinsos Kepahiang, harapannya kami mendapatkan juga," ungkap Paradila.

Paradila berharap kepedulian dari pemerintah dan masyarakat terus berlanjut. Ia ingin rumahnya dapat selesai diperbaiki sehingga keluarganya bisa tinggal dengan lebih aman dan nyaman.

Bagi Paradila, bantuan yang datang bukan hanya meringankan beban keluarga, tetapi juga memberikan harapan baru untuk menjalani kehidupan dengan kondisi yang lebih baik.

13 Tahun Tinggali Gubuk Reot

Sudah 13 tahun Paradila Sandi (49) bertahan hidup di sebuah rumah tidak layak huni di RT 11 RW 03, Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang, Kabupaten Kepahiang.

Bersama putri bungsunya yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar, ia menjalani hari-hari dalam rumah sederhana yang nyaris tak mampu lagi melindungi mereka dari hujan dan angin.

Setiap pagi sebelum matahari benar-benar meninggi, Paradila sudah bersiap berangkat bekerja.

Sejak berpisah dengan suaminya pada 2013, ia memutuskan kembali ke rumah peninggalan orang tuanya.

Rumah yang berdiri di atas tanah keluarga itu kemudian menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi dirinya dan sang anak, meski kondisinya jauh dari kata layak.

RTLH - Kondisi rumah Paradila di Kepahiang pada Rabu (5/8/2026).Nestapa warga Kepahiang bernama Paradila yang berjuang bersama anaknya tinggal di rumah tidak layak selam 13 tahun.
RTLH - Kondisi rumah Paradila di Kepahiang pada Rabu (5/8/2026).Nestapa warga Kepahiang bernama Paradila yang berjuang bersama anaknya tinggal di rumah tidak layak selam 13 tahun. (M. Bima Kurniawan/Bima Kurniawan)

Bangunan berukuran sekitar 2,5 x 6 meter itu hanya memiliki dua ruangan dan satu kamar tidur.

Dinding rumah masih menggunakan anyaman pelepah bambu yang sudah lapuk. 

Di beberapa bagian terlihat berlubang sehingga terpaksa ditutup dengan lemari tua agar angin tidak langsung masuk ke dalam rumah.

Lantai rumah masih berupa tanah yang hanya dialasi tikar.

Sementara atap seng bekas yang telah dimakan usia menjadi sumber persoalan setiap kali hujan turun. 

Air dengan mudah menetes ke dalam rumah sehingga Paradila harus memasang terpal dan menyiapkan ember di sejumlah titik untuk menampung kebocoran.

"Kalau hujan pasti bocor. Kasur, pakaian, dan barang-barang harus dipindahkan supaya tidak basah. Airnya kami tampung pakai ember," ujar Paradila.

Meski serba terbatas, rumah itu tetap menjadi tempat pulang bagi dirinya dan putri bungsunya. Anak sulung Paradila diketahui telah merantau mengikuti kerabat sekitar tiga tahun lalu sehingga kini ia hanya tinggal berdua bersama anak perempuannya.

"Saya punya dua anak. Yang sulung sudah ikut kerabat merantau. Sekarang tinggal berdua dengan anak perempuan yang masih kelas empat SD," tuturnya.

Bertahan dengan Penghasilan Rp40 Ribu Sehari

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Paradila bekerja di sebuah warung lontong milik warga. Setiap hari ia mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB.

Dari pekerjaan tersebut, Paradila hanya memperoleh upah sekitar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per hari.

Penghasilan itu harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan makan, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

"Pendapatan saya sekitar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu sehari. Cukup tidak cukup ya harus dicukupkan," katanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, Paradila mengaku belum pernah mendapatkan bantuan program perbaikan rumah.

Ia juga belum pernah mengajukan usulan karena tidak memahami mekanisme pengajuan bantuan rumah layak huni.

"Belum pernah menerima bantuan. Kami juga belum pernah mengusulkan karena tidak tahu caranya," ungkapnya.

Kini, harapan terbesar Paradila sederhana. Ia ingin rumah yang telah ditempatinya selama lebih dari satu dekade itu dapat diperbaiki agar lebih aman dan nyaman untuk ditinggali bersama putrinya.

"Kalau memang ada bantuan, saya hanya berharap rumah ini bisa direhab supaya lebih layak ditempati," harapnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.