Bendera Putih Berkibar di Desa Bilalang, Enam Warga Tewas dalam Tragedi Drag Race Upai Kotamobagu
Gryfid Talumedun August 12, 2026 07:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Desa Bilalang, Kabupaten Bolmong berduka. 

Enam warganya meninggal dunia dalam peristiwa tabrakan dalam Drag Race maut di Kelurahan Upai, Kotamobagu, Minggu (9/8/2026).

Tribunmanado mengunjungi Bilalang pada Rabu (12/8/2026) siang.

Suasana sepi. 

Baca juga: Tragedi Tabrakan Upai Kotamobagu, Pemilik Gerobak yang Porak-Poranda Minta Ganti Rugi

Keramaian justru nampak di sejumlah rumah duka. 

Disana pelayat menghibur keluarga.

Bendera putih terpasang depan rumah duka.

Ini adalah simbol duka dalam budaya Mongondow.

Keluarga pun mengenakan kain putih.

Suasana sepi kadang pecah oleh suara tangis keluarga yang teringat korban semasa dia hidup.

Duka Bilalang berpuncak pada hari pemakaman korban.

Suasana begitu haru dan dramatis.

"Saat itu di kiri ada jenazah yang dikubur, kanan ada pula, sungguh menyedihkan karena kehilangan orang-orang yang kita kenal," katanya.

Menurut dia, duka memang sangat terasa di Bilalang.

Banyak yang kehilangan keluarga.

"Ada yang kehilangan ibu, kakak, adik serta istri,"' kata dia.

Arena drag race di Upai berlokasi tak jauh dari Bilalang.

Tak sampai sekilo.

Camat Bilalang Rais Mokoginta menuturkan, ada enam warganya jadi korban.

"Ya ada enam orang," katanya.

Ujian hidup maha berat menimpa Son Mokoginta.

Warga Desa Bilalang, Kabupaten Bolmong ini kehilangan dua orang yang ia cintai dalam satu hari.

Semua akibat peristiwa tabrakan maut dalam Drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, kota Kotamobagu, Minggu (9/8/2026).

"Istri saya Rugaina Manangin dan adik Biyo Mokoagow meninggal dunia dalam peristiwa itu," katanya kepada Tribunmanado.com, Selasa (11/8/2026).

Musibah bertambah saat seorang anaknya kecelakaan lalu lintas.

Kala itu, sang anak tengah menuju ke rumah sakit untuk melihat ibunya.

Saat diwawancarai Tribunmanado di rumahnya di Bilalang, Son berkali kali menunjuk hatinya dengan tangan kanan.

"Pedih, sulit bagi saya untuk melalui ini semua," kata dia.

Son tak mengeluarkan air mata saat diwawancarai.

Namun ekspresinya begitu berat.

Kesedihan tanpa airmata adalah tanda dari kesengsaraan yang dalam.

Son mengaku tidak lagi menikmati hidup.

"Mau makan rasanya sulit," kata dia.

Kehilangan dua anggota keluarga secara bersamaan dan mendadak, juga menerbitkan kerumitan dalam keluarga besarnya.

Mereka terpaksa musti berbagi rumah duka.

Son menuturkan, awalnya ia tidak mengetahui peristiwa kematian istrinya.

Tahu tahu ia menerima panggilan telepon milik istrinya.

Tapi yang bicara bukan sang istri.

"Yang bicara adalah seseorang yang meminta agar mengambil ponsel itu di panitia, rupanya ponsel itu terjatuh saat kecelakaan," katanya.

Setiba di rumah sakit, sang istri sudah tiada.

Berbarengan dengan itu datang kabar bahwa sang adik pun meninggal dunia.

Risna Mokodongan, anak dari Biyo Mokoagow mengatakan tahu sang ibu meninggal dunia dari kabar di medsos.

"Ibu menonton drag race tersebut," kata dia.

Ia mengaku peristiwa tersebut seperti sulit dipercaya.

Sang ibu di usia tuanya masih sehat walafiat.

"Ia sangat sehat, sebelumnya sering pergi ke kebun, sebelum kejadian itu ia baru saja dari kebun," katanya. (Art)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.