Anggap Dewata Challenge 2026 Jadi Laboratorium Persib, Viking Bali: Bangun Ulang, Bukan Menambal
Ngurah Adi Kusuma August 12, 2026 08:03 PM

Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Turnamen pramusim Dewata Challenge Series 2026 bagi Bobotoh bukan sekadar laga pemanasan biasa untuk Persib Bandung di Pulau Dewata.

Di mata kelompok suporter Pendukung Persib Bandung, ajang yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta ini dinilai sebagai laboratorium untuk menguji sejauh mana kesiapan Pangeran Biru sebelum mengarungi padatnya jadwal Super League dan Champions League Two (ACL 2).

Wakil Ketua Umum Viking Bali, Rizkinho, menyampaikan, bahwa Bobotoh siap memberikan dukungan penuh di tribun Stadion Dipta.

Pengurus telah merancang dua jalur persiapan, baik secara struktural maupun kultural, untuk memberikan dukungan bagi klub berjuluk Maung Bandung itu di Bali.

Baca juga: Adujak GenRe Bali 2026, Cetak Generasi Unggul dan Penggerak KB Krama Bali

"Persiapan kami ada dua jalur. Secara struktural kami sudah berkoordinasi dengan panitia dan pihak keamanan terkait penempatan tribun dan atribut," ujar Rizkinho di Denpasar, Rabu 12 Agustus 2026.

"Secara kultural kami merencanakan titik kumpul pas hari H di Parkiran Timur Renon dekat Damkar, seperti yang biasa kami lakukan setiap kali ada pertandingan Persib melawan Bali United," lanjutnya.

Rizkinho membeberkan, basis data keanggotaan Viking Bali saat ini mencatatkan sekitar 500 orang,”

“Dari jumlah tersebut, sekitar 200 anggota dipastikan mengkonfirmasi hadir langsung di stadion.

Baca juga: Jelang Bulfest, 8 Banjar Adat Buleleng Siapkan Kantong Parkir, Kehilangan Tanggung Jawab Petugas

Jumlah tersebut diprediksi terus membengkak pada hari pertandingan karena banyaknya Bobotoh non-anggota serta arus kedatangan suporter dari luar daerah.

"Tentu saat hari H jumlahnya bisa lebih banyak karena banyak Bobotoh lain yang ke stadion. Informasi yang baru saya terima, Viking Lombok berangkat sekitar dua mobil," bebernya.

Mengenai kondisi teknis tim, Rizkinho mengapresiasi pendekatan pelatih Persib Bandung yang dinilainya sedang berada dalam fase pembentukan ulang (rebuilding).

Lini pertahanan dan lini tengah yang dipertahankan dari musim lalu dianggap menjadi pondasi kokoh untuk menjaga stabilitas permainan.

"Untuk pemain baru, kuncinya ada di adaptasi. Chemistry memang belum 100 persen, tetapi dari tiga laga uji coba terakhir sudah terlihat progres," tuturnya.

"Yang kami apresiasi, pelatih tidak buru-buru. Dia membangun ulang, bukan menambal," sambung Rizkinho.

Disinggung mengenai target di Dewata Challenge Series 2026, Rizkinho memandang turnamen ini bukan melulu soal hasil akhir, melainkan wahana eksperimen taktik dan kedalaman skuad.

"Ini ibarat laboratorium. Target realistisnya adalah melihat sejauh mana rotasi pemain dan skema alternatif bisa berjalan. Kalau secara hasil, prediksi saya bisa satu kali menang dan satu kali imbang," katanya.

Menurutnya, pemusatan latihan di Bali dengan iklim tropis yang hangat serta fasilitas lapangan yang memadai sangat ideal untuk menggembleng fisik dan chemistry tim.

Baca juga: Tindaklanjuti Dugaan Kasus Pelecehan di Lovina, Polres Buleleng Koordinasi dengan Polisi Taiwan

Kendati demikian, tantangan sesungguhnya bagi Persib berada pada kompetisi resmi mendatang yang menuntut daya tahan fisik dan mental tinggi.

"Hasil di sini cukup sebagai fondasi awal, tetapi belum cukup sebagai tolak ukur akhir. Tantangan sesungguhnya ada di Liga dan ACL 2 dengan jadwal padat, perjalanan jauh, dan tekanan," paparnya.

"Jadi ini baru 40 persen dari persiapan, 60 persennya ada di manajemen beban pemain dan kedalaman skuad saat kompetisi berjalan," tambahnya.

Mengakhiri keterangannya, Rizkinho menyampaikan pesan mendalam bagi para penggawa Pangeran Biru yang bertarung di lapangan hijau.

"Harapan kami sederhana, konsisten dalam menjaga kultur Persib. Tidak jumawa saat menang, tidak panik saat kalah," pintanya.

"Intinya, kami di tribun akan menjadi energi ke-12. Namun, kami juga ingin tim di lapangan menunjukkan bahwa mereka berjuang untuk lambang di dada, bukan hanya nama di punggung," pungkas Rizkinho. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.