Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menegaskan tak akan mundur meski banyak tantangan dalam mengelola sampah di ibu kota.
Menurut Pramono, sudah banyak pihak yang mendapat keuntungan dari hal tersebut, namun dirinya tetap akan bertindak tegas untuk penanganan sampah di Jakarta.
“Untuk menangani persoalan sampah ini nggak bisa bim salabim. Orang sudah banyak yang mendapatkan kenikmatan dari itu. Pasti nanti banyak juga yang kemudian menyerang saya sebagai gubernur, tapi saya nggak akan mundur untuk pembenahan sampah di Jakarta,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Rabu.
Dia mengaku sempat melihat tayangan saat awak media dihalangi untuk meliput di lokasi pembuangan sampah ilegal Cilincing, Jakarta Utara.
Pramono menegaskan bahwa pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan membantu memberi pendampingan bagi wartawan yang ingin meliput di lokasi tersebut.
“Kebetulan saya nonton waktu TV One di lapangan saya nonton. Jadi, kalau mau didampingi, kami akan dampingi,” ujar Pramono.
Sebelumnya, Pramono telah memerintahkan penindakan tegas terhadap pelaku pembuangan sampah ilegal tersebut. Ia juga meminta identitas pihak-pihak yang terlibat dipublikasikan untuk memberikan efek jera dan memastikan praktik pembuangan sampah liar tidak lagi berlangsung.
Instruksi itu menyusul temuan timbunan sampah seluas sekitar 5,8 hektare di kawasan Jalan Reformasi/Inspeksi Kirana, Nagrak, yang beroperasi di luar sistem pengelolaan sampah resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pramono menegaskan lokasi tersebut bukan merupakan tempat pembuangan sampah yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.
Berdasarkan laporan yang diterima Pemprov DKI, sampah yang menumpuk di lokasi tersebut diduga bukan berasal dari sampah rumah tangga, melainkan limbah sektor komersial. Lahan yang digunakan juga disebut masih berstatus sengketa kepemilikan.
Pramono mengungkapkan, sampah yang dibuang secara ilegal mayoritas berasal dari sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka). Sampah tersebut diangkut oleh pengelola swasta yang memungut biaya dari pelanggan, namun kemudian dibuang secara sembarangan di kawasan Nagrak.
"Sampah itu tempatnya di PT Granito dan almarhum Ibu Yusi sebagai tempat penimbunan sampah itu. Sampah yang diambil itu semuanya dari horeka: hotel, restoran, kafe. Sehingga dia mendapatkan biaya untuk mengangkut sampahnya, tetapi ditimbun sembarangan," ungkapnya.





