TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sejumlah warung di Pantai Pandansimo, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta tampak rusak parah, Rabu (12/8/2026).
Biasanya, warung-warung sederhana ini menjadi tempat gelak tawa dan candaan pelanggan.
Namun kini hanya tersisa puing-puing batu dan kayu yang berserakan.
Berdasarkan pantauan Tribunjogja.com pada Rabu (12/8/2026) siang, tampak sepasang suami-istri sibuk memindahkan puing-puing bangunan warung.
Warung yang berdiri kokoh selama bertahun-tahun, kini tidak berdaya usai dihantam gelombang pasang pada Selasa (11/8/2026) pagi.
Sutini (50), salah satu pemilik warung yang terdampak gelombang pasang sekaligus warga Kapanewon Pandak menceritakan situasi yang cukup mencekam yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB kemarin.
Kala itu, ia mendengar suara gemuruh ombak seperti hujan.
"Ombak datang dengan ketinggian di atas rumah saya. Kebetulan waktu itu saya pas keluar dari warung. Saya langsung lari. Waktu dilihat lagi, ternyata rumah warung saya ambruk," katanya, kepada awak media.
Waktu kejadian, di warung tersebut hanya ada dia dan sang suami.
Sebab, mereka sedang bersiap-siap untuk membuka warung dan menyapa pengunjung.
Ia pun tidak menyangka peristiwa itu dapat menimpanya.
Akibatnya, sejumlah peralatan mulai dari meja, kursi, kulkas, lemari, piring, hingga peralatan dapur lainnya rusak diterjang ombak.
Beberapa barang yang rusak ditinggal di lokasi tersebut.
Untuk barang yang masih dapat dipergunakan, kini sudah dititipkan ke warung tetangga.
"Saya baru pertama kali mengalami ini. Saya sudah lama di sini. Sudah sekitar 20-an tahun. Jadinya sekarang cuma nunut (numpang) di sebelah (warung tetangga yang tidak terdampak gelombang pasang). Saya cuma nunut di situ," tutur dia.
Baca juga: Gelombang Tinggi Hantam Pesisir Selatan DIY, Pantai Baron & Pelabuhan Gesing Terdampak Paling Parah
Kebetulan, warung yang digunakan oleh Sutini juga jadi satu dengan rumah.
Maka dari itu, selama ini, warung tersebut kerap ditinggali untuk tempat tidur.
Namun, dikarenakan terdampak ombak, maka Sutini dan suami memilih untuk sementara tinggal di emperan rumah tetangga.
Kondisi itu membuat Sutini, sempat mengalami trauma.
Bahkan, ketika mendengar suara genteng terjatuh di dekat keberadaan suaminya, Sutini sempat terkejut dan menyarankan agar sementara tidak berada di dalam warungnya.
Selain warung milik Sutini, ada dua warung lain yang juga terdampak gelombang tinggi.
Namun, untuk pemilik dua warung tersebut sampai saat ini tidak diketahui sedang pergi atau berada di mana.
Suami Sutini yakni Ngatiman (50), mengaku bahwa warungnya masuk kategori rusak parah.
Padahal, warung tersebut selalu dipergunakan untuk menjual makanan nasi dan sayur hingga dihuni bersama sang istri.
"Saya enggak tahu persis ceritanya. Posisi waktu itu saya masih tidur. Terus tiba-tiba dengar suara krosak-krosak terus bruuk. Saya langsung loncat dari jendela dan lari. Kebetulan, istri saya sudah di luar duluan. Jadi kita berdua selamat," ucapnya.
Dikatakannya, gelombang pasang sudah sering terjadi setiap tahun pada bulan Agustus.
Namun, baru kali ini, gelombang pasang tersebut dinilai besar dan memberikan dampak terhadap tempat usahanya.
Padahal, jarak tempat usahanya dengan bibir pantai cukup jauh atau sekitar 50 meter.
Sementara itu, Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Samas-Pandansimo, Dwi Rias Pamuji, menyampaikan, dampak gelombang pasang kemarin membuat satu warung sekaligus rumah rusak parah, dua warung mengalami rusak sedang, dan satu perahu Kampung Nelayan Merah Putih rusak sedang.
"Proses evakuasi pemukiman area Pantai Pandansimo yang terdampak gelombang tinggi sudah kami lakukan. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian itu. Adapun ketinggian gelombang diperkirakan dua sampai tiga meter," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi terhadap wisatawan, pihaknya turut melakukan pengamanan dan pengawasan wisatawan di kawasan obyek wisata Pantai Samas, Pantai Pandansari, Pantai Tanggultirto, Pantai Kuwaru, Pantai Baru.
"Kami selalu rutin melakukan pengamanan dan pengawasan di lokasi itu. Tetapi, kami tetap mengimbau wisatawan untuk tetap berhati-hati dan mematuhi aturan maupun arahan dari petugas jaga pantai," pungkas dia. (*)