Truk Katering Jadi Bagian Operasi Rahasia Pemindahan Trump dari Air Force One Gegara Ancaman Rudal
Hasiolan Eko P Gultom August 12, 2026 10:35 PM

Truk Katering Jadi Bagian Operasi Rahasia Pemindahan Trump dari Air Force One Gegara Ancaman Rudal

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah operasi pengamanan rahasia dilakukan untuk memindahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dari Air Force One ke pesawat pemerintah lain setelah menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki.

Operasi tersebut disebut dilakukan karena adanya ancaman serangan yang dinilai kredibel terhadap pesawat kepresidenan.

CBS News merilis video yang memperlihatkan sebuah truk katering bandara bergerak meninggalkan area sekitar Air Force One setelah Trump disebut naik ke pesawat tersebut.

Baca juga: Iran Ubah Doktrin Tempur, IRGC Disiapkan Operasi Jauh di Wilayah Musuh

Truk kemudian menuju pesawat lain yang secara diam-diam digunakan untuk membawa Trump keluar dari Turki.

Menurut laporan Washington Post, operasi pengalihan itu dilakukan setelah badan intelijen AS mendeteksi ancaman terhadap penerbangan yang seharusnya membawa Trump dari Ankara.

Ancaman tersebut dikaitkan dengan Iran dan kelompok proksi yang dimilikinya.

Dalam skenario tersebut, Air Force One yang terlihat membawa Trump tetap digunakan sebagai bagian dari pengalihan.

Pesawat itu kemudian membawa sejumlah pejabat Gedung Putih, personel keamanan, pendukung, dan wartawan, sementara Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat lain.

Setelah Trump terlihat menaiki Air Force One di Ankara, ia disebut dipindahkan menggunakan truk katering bandara menuju pesawat militer C-32A yang berada di lokasi lain.

Para wartawan yang berada di Air Force One dilaporkan sempat percaya bahwa mereka bepergian bersama presiden.

Sejumlah staf Gedung Putih juga disebut tidak mengetahui bahwa Trump telah dipindahkan ke pesawat lain.

Sebagai bagian dari pengamanan, para jurnalis dilaporkan diminta menutup tirai jendela di kompartemen pers selama penerbangan. Air Force One kemudian meninggalkan wilayah udara Turki sebagai bagian dari operasi pengalihan.

Trump akhirnya tiba di Inggris menggunakan pesawat pengganti sebelum melanjutkan perjalanan ke Amerika Serikat.

Presiden AS kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya memang dipindahkan ke pesawat lain atas arahan Dinas Rahasia dan militer.

“Saya mengikuti arahan Dinas Rahasia dan militer. Mereka ingin saya bepergian dengan penerbangan yang berbeda, dengan pesawat yang berbeda,” kata Trump kepada wartawan.

Trump juga mengatakan dirinya hanya mengikuti instruksi petugas keamanan dan mengaku tidak mempercayai Iran.

“Saya hanya bisa melakukan apa yang mereka katakan,” ujarnya.

Ancaman terhadap Pesawat Kepresidenan

Operasi tersebut berlangsung setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara. Sebelumnya, Trump telah menggunakan pesawat kepresidenan baru yang disediakan Qatar untuk perjalanan ke Turki.

Namun, ketika meninggalkan Ankara, Trump justru menggunakan pesawat kepresidenan lama berwarna biru muda. Pesawat baru tersebut dijadwalkan berhenti di RAF Mildenhall, Inggris, untuk menjalani pemeriksaan oleh personel militer AS.

Saat itu, Trump mengatakan melalui Truth Social bahwa ia akan menggunakan pesawat lama tersebut “untuk mengenang masa lalu” dalam penerbangan dari Ankara menuju RAF Mildenhall.

Belakangan, laporan Washington Post mengungkap bahwa penggunaan pesawat lama tersebut menjadi bagian dari operasi pengalihan. Setelah Trump terlihat menaiki pesawat tersebut di depan kamera, ia kemudian dipindahkan secara diam-diam ke C-32A.

Penggunaan pesawat sebagai pengalih perhatian bukan tanpa preseden. Pada 2000, Presiden Bill Clinton dilaporkan menggunakan jet bisnis tanpa tanda pengenal saat melakukan perjalanan ke Pakistan, sementara pesawat kepresidenan resmi digunakan sebagai pengalih.

Namun, pengungkapan operasi terbaru tersebut memicu kekhawatiran di kalangan sejumlah pejabat pemerintahan Trump.

Mereka menilai terungkapnya detail mengenai prosedur dan taktik pengamanan presiden dapat menyulitkan aparat melakukan operasi serupa pada masa mendatang.

Selama KTT NATO, Trump juga sempat menyinggung tingginya ancaman yang dihadapinya. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai target nomor satu Iran.

Operasi di Ankara menunjukkan bagaimana ancaman terhadap presiden dapat memicu perubahan mendadak pada pola perjalanan, termasuk penggunaan pesawat pengganti dan pengalihan untuk menyamarkan lokasi sebenarnya kepala negara.

Namun, sejumlah detail mengenai jenis ancaman, sumber intelijen, dan prosedur pengamanan tetap dirahasiakan oleh pemerintah AS.

 

(oln/khbrn/*)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.