TRIBUNNEWS.COM, AMERIKA SERIKAT — Teknologi hidrogen kembali mencatat tonggak baru setelah sebuah mobil bertenaga hidrogen menembus kecepatan lebih dari 400 mil per jam di Utah, Amerika Serikat.
Pencapaian ini bukan hanya menjadi rekor baru dalam sejarah kendaraan hidrogen, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menguji penggunaan hidrogen sebagai alternatif bahan bakar untuk sektor yang membutuhkan tenaga besar.
Di balik kemudi kendaraan tersebut terdapat Andy Green, mantan pilot pesawat tempur Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) yang dikenal sebagai manusia pertama dan satu-satunya yang pernah menembus kecepatan suara di darat.
Dilaporkan UPI, Green mengendarai Hydromax Streamliner, kendaraan berbentuk menyerupai peluru yang dirancang khusus untuk melaju dalam kecepatan tinggi.
Mobil tersebut menggunakan dua mesin pembakaran internal berbahan bakar hidrogen, masing-masing menghasilkan tenaga 800 horsepower.
Dalam dua kali percobaan di Bonneville Salt Flats, Utah, pada Selasa (11/8), Hydromax mencatat kecepatan rata-rata 406,32 mph atau sekitar 654 km per jam.
Baca juga: Hyundai Nexo, Mobil Hidrogen Futuristik di Hyundai Motorstudio Goyang
Catatan tersebut memecahkan rekor kendaraan bertenaga hidrogen yang dibuat pada 2004 dengan selisih lebih dari 220 mph atau sekitar 354 km per jam.
Badan pengatur olahraga otomotif dunia, Fédération Internationale de l'Automobile (FIA), memverifikasi pencapaian tersebut sebagai kecepatan tertinggi yang pernah dicapai kendaraan bertenaga hidrogen.
Bukan Sekadar Mengejar Kecepatan
Pengembangan Hydromax berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap hidrogen sebagai salah satu pilihan energi rendah emisi.
Transportasi jalan raya selama ini banyak mengandalkan mesin pembakaran berbahan bakar bensin atau diesel. Sementara itu, kendaraan listrik berbasis baterai berkembang pesat untuk mobil penumpang.
Namun, transisi menuju elektrifikasi menghadapi tantangan yang berbeda pada sektor kendaraan berat.
Mesin konstruksi, alat pertanian, dan kendaraan berat membutuhkan tenaga besar serta dapat beroperasi dalam waktu lama. Penggunaan baterai berkapasitas besar pada kendaraan semacam itu dapat menambah bobot dan membutuhkan infrastruktur pengisian yang memadai.
Hidrogen menjadi salah satu teknologi yang dikembangkan untuk menjawab persoalan tersebut.
Pada Hydromax, hidrogen tidak digunakan untuk menghasilkan listrik melalui sel bahan bakar. Gas hidrogen justru dibakar secara langsung dalam mesin pembakaran internal, sehingga prinsip kerjanya lebih dekat dengan mesin konvensional.
Mesin yang digunakan berasal dari alat berat produksi JCB, perusahaan manufaktur alat berat asal Inggris.
Sistem tersebut mencampurkan hidrogen bertekanan dengan udara sebelum campuran dibakar di ruang mesin untuk menghasilkan tenaga.
Karena tidak menggunakan bahan bakar fosil, teknologi ini dapat mengurangi emisi karbon dari penggunaan bahan bakar konvensional. Namun, dampak lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada bagaimana hidrogen tersebut diproduksi.
Jika hidrogen dibuat menggunakan energi terbarukan, potensi pengurangan emisinya dapat lebih besar dibandingkan hidrogen yang produksinya masih bergantung pada sumber energi fosil.
Bagi JCB, proyek Hydromax juga memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memecahkan rekor kecepatan.
Ketua JCB Lord Anthony Bamford mengatakan upaya tersebut merupakan bagian dari pembuktian konsep bahwa hidrogen dapat menjadi solusi bagi industri berat yang membutuhkan sumber energi bersih dengan performa tinggi.
Industri konstruksi dan pertanian termasuk sektor yang menghadapi tantangan dalam proses elektrifikasi karena mesin harus menghasilkan torsi besar dan bekerja dalam kondisi berat.
Bamford menilai hidrogen berpotensi lebih efektif digunakan pada sejumlah mesin konstruksi dan pertanian dibandingkan tenaga baterai listrik.
Dengan demikian, rekor Hydromax dapat dilihat sebagai laboratorium berjalan untuk menguji kemampuan mesin pembakaran hidrogen dalam kondisi ekstrem.
Meski demikian, keberhasilan kendaraan mencapai kecepatan 406,32 mph belum berarti teknologi tersebut siap menggantikan mesin diesel dalam penggunaan sehari-hari.
Harga hidrogen, ketersediaan stasiun pengisian, teknologi penyimpanan, hingga sumber energi yang digunakan untuk memproduksinya masih menjadi tantangan sebelum teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas.
20 Tahun Setelah Rekor Diesel
Bagi Andy Green, rekor ini merupakan kelanjutan dari pencapaiannya bersama JCB dua dekade lalu.
Pada 2006, Green mengendarai Dieselmax, kendaraan yang dikembangkan JCB, dan mencapai kecepatan 350 mph atau sekitar 563 km per jam untuk mencatat rekor kendaraan bertenaga diesel.
Kini, 20 tahun setelah Dieselmax, Green kembali berada di balik kendaraan yang menggunakan teknologi mesin JCB, tetapi dengan bahan bakar hidrogen.
“Mencetak rekor kecepatan darat dunia dengan tenaga hidrogen, 20 tahun setelah Dieselmax, merupakan sebuah kehormatan besar. Rekor ini merupakan pencapaian luar biasa dari tim kelas dunia dengan teknologi yang sangat baik,” kata Green.
Nama Green sebenarnya sudah lebih dahulu tercatat dalam sejarah rekor kecepatan darat.
Pada Oktober 1997, ia mengendarai Thrust SSC, kendaraan yang menggunakan dua mesin jet, melintasi Gurun Black Rock di Nevada, Amerika Serikat.
Kendaraan tersebut mencapai 763,035 mph atau sekitar 1.228 km per jam.
Kecepatan itu membuat Green menjadi manusia pertama yang menembus batas kecepatan suara di darat. Rekor tersebut masih bertahan hingga kini.
Jika Thrust SSC menunjukkan kemampuan manusia dan teknologi untuk menembus batas kecepatan, Hydromax membawa tantangan yang berbeda: menunjukkan bahwa bahan bakar hidrogen dapat menghasilkan tenaga besar dalam mesin pembakaran.
Karena itu, rekor terbaru Green bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah mobil dapat melaju, tetapi juga tentang pencarian teknologi yang dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan sektor berat terhadap bahan bakar fosil.