Amandel Besar Bisa Ganggu Tidur Anak, Dokter Ungkap Dampaknya pada Tumbuh Kembang
Rr Dewi Kartika H August 12, 2026 11:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM -  Kualitas tidur berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya durasi tidur anak, tetapi juga apakah anak benar-benar mendapatkan tidur yang berkualitas.

Dokter spesialis anak,  dr. Sheryl Serelia, S.pA, mengatakan gangguan tidur pada anak dapat berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kondisi amandel yang membesar.

Hal tersebut disampaikan Dokter Sheryl saat berbincang dengan TribunJakarta.com di YouTube Tanya Dokter.

Amandel Ganggu Kualitas Tidur Anak

Menurut Dokter Sheryl, amandel yang membesar dapat mengganggu jalur pernapasan anak ketika tidur.

Kondisi tersebut membuat kualitas tidur anak menurun karena asupan oksigen yang masuk dapat terganggu.

"Misalnya di anak-anak yang pernah dengar yang amandelnya besar. Jadi kualitas tidurnya terganggu," ujar Dokter Sheryl.

Ia menjelaskan, amandel berada di sisi kanan dan kiri tenggorokan.

Ketika ukurannya membesar dan mengganggu saluran pernapasan, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas tidur anak.

"Jadi, oksigen yang masuk kurang. Makanya nanti pas bangun nggak segar," katanya.

Menurutnya, dampaknya tidak berhenti pada rasa lelah ketika bangun tidur.

Gangguan tidur juga dapat berkaitan dengan proses tumbuh kembang serta kemampuan anak dalam belajar.

"Dan sangat terkait juga dengan nantinya gangguan di pertumbuhan dan perkembangan yang gede juga. Karena kurang tidur nih, nggak bisa belajar dengan oke juga," jelasnya.

Memengaruhi Nafsu Makan dan Tumbuh Kembang

Dokter Sheryl mengatakan tidur, pola makan, serta pertumbuhan anak merupakan hal yang saling berkaitan.

Ketika kualitas tidur anak terganggu, kondisi tersebut dapat berdampak pada aspek lain dalam kesehariannya.

"Kalau misalnya untuk anak-anak yang, kayak tadi aku sampaikan sih, jadinya kalau misalnya tidurnya nggak bagus, dia makannya nggak bagus, pertumbuhannya nggak baik juga," ungkapnya.

Selain itu, kurang tidur juga dapat memengaruhi perilaku anak.

Anak yang kurang tidur, kata Dokter Sheryl, bisa menjadi lebih mudah mengalami tantrum.

"Dan anak jadi tantrum, itu bisa jadi faktor tidurnya kurang juga ya?" tanya pewawancara.

"Betul. Sama kayak kita yang dewasa. Kalau kurang tidur, kadang kita aja pusing," jawab Dokter Sheryl.

Tak Perlu Sembarangan Membangunkan Anak

Lantas, apakah anak yang sedang tidur sebaiknya tidak dibangunkan?

Dokter Sheryl mengatakan hal tersebut tetap bergantung pada waktu tidur anak.

Jika anak sedang tidur pada malam hari dan tidak ada kebutuhan tertentu, orang tua tidak perlu membangunkannya.

"Kalau misalnya udah jam tidur malam, ngapain dibangunin juga kalau misalnya tidak ada apa-apa," ujarnya.

Namun, hal berbeda berlaku untuk tidur siang.

Menurutnya, orang tua perlu memperhatikan waktu tidur siang agar tidak terlalu sore.

"Kalau misalnya jam tidur siang yang tadi, kalau jam 3-4 memang udah stop-stop tidur siang lagi," kata Dokter Sheryl.

Miskonsepsi soal Sleep Training

Dalam kesempatan tersebut, Dokter Sheryl juga menyoroti kesalahpahaman orang tua mengenai sleep training.

Menurutnya, sleep training bukan berarti orang tua membiarkan anak begitu saja tanpa bantuan.

Ia menilai masih ada orang tua yang menganggap sleep training sama dengan membiarkan anak menangis atau tidur sendirian tanpa pendampingan.

"Untuk meluruskan sih, miskonsepsi terkait dengan sleep training," ujarnya.

"Karena sekarang banyak banget ya orang tua yang sebenarnya aware, tahu sleep training. Tapi dengan sleep training itu bukan berarti kita menelantarkan anak," sambungnya.

Dokter Sheryl menegaskan tidak ada satu metode sleep training yang bisa diterapkan kepada seluruh anak.

"Bukan berarti kita tidak membantu apa pun, dan tidak ada satu metode pun yang cocok untuk semua anak," katanya.

Menurutnya, setiap anak memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda sehingga metode yang dipilih perlu disesuaikan.

"Kita nggak bisa memaksain, oh harus ini, harus ini, harus ini ke anak-anak. Karena setiap anak itu beda-beda," jelasnya.

Kapan Memulai Sleep Training?

Dokter Sheryl mengatakan keputusan memulai sleep training juga perlu mempertimbangkan kesiapan orang tua dan anak.

Kesiapan anak dapat dilihat dari kondisi tumbuh kembangnya, termasuk kenaikan berat dan tinggi badan serta kebutuhan menyusu.

Ia menyebut usia sekitar *4 hingga 6 bulan* dapat menjadi salah satu periode yang dipertimbangkan untuk mulai menerapkan sleep training.

"Memang di 4 bulan itu, tidur malam udah lebih panjang juga kan? Nyusunya juga sudah tidak sebanyak pas newborn," tuturnya.

"Makanya di 4 sampai 6 bulan itulah yang memang dipilih untuk, oke kalau mau mulai masuk sleep training bisa nih," lanjutnya.

Meski demikian, orang tua tetap perlu melihat kondisi masing-masing anak.

Boleh Menggendong Anak

Dokter Sheryl juga menepis anggapan bahwa menggendong anak untuk membantunya tidur merupakan sesuatu yang salah.

Menurutnya, menggendong anak tetap diperbolehkan selama dilakukan sesuai kebutuhan.

"Kalau misalnya untuk tadi, gendong-gendongan segala macam itu, tidak ada yang salah dengan menggendong. Boleh nggak digendong boleh, asalkan sesuai porsinya juga," katanya.

Ia menyarankan orang tua mulai membiasakan menaruh anak di tempat tidur ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk.

"Dan mulailah memang menaruh anak itu saat anaknya mulai ngantuk. Jadi bukan pas sudah tidur, tapi saat mulai mengantuk," pungkas Dokter Sheryl.

Dengan demikian, orang tua perlu melihat tidur anak secara menyeluruh.

Bukan hanya berapa lama anak tidur, tetapi juga apakah tidurnya berkualitas, apakah ada gangguan pernapasan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap pola makan, perilaku, dan tumbuh kembang anak.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.