BANJARMASINPOST.CO.ID- Dua buku dipegang erat Hj Mursimah Dimyati. Sampulnya mungkin terlihat seperti buku biasa. Namun bagi perempuan kelahiran Banjarmasin, 77 tahun silam, dua buku itu menyimpan perjalanan panjang yang sudah ia jalani selama puluhan tahun.
Di dalamnya ada cerita tentang perkawinan adat Banjar, tata rias pengantin, hingga berbagai tradisi yang perlahan mulai berubah mengikuti zaman.
Mursimah bukan lahir dari dunia tulis-menulis. Ia justru menghabiskan sebagian besar masa mudanya sebagai perias pengantin.
Sejak sekitar dekade 1980-an, ia sudah memiliki salon. Dari sana, profesinya berkembang menjadi perias pengantin. Bertahun-tahun ia melihat langsung bagaimana prosesi perkawinan adat Banjar dijalankan, bagaimana seorang pengantin dirias, sekaligus memahami makna berbagai perlengkapan dan tradisi yang menyertainya.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada satu kesadaran, ia menilai pengetahuan yang hanya disimpan dalam ingatan suatu saat bisa hilang.
“Ingin nulis buku untuk menuangkan hasil karya supaya bagi mereka yang belum tahu jadi tahu, yang belum paham jadi paham,” ujar Mursimah kepada BPost, Selasa (11/8/2026).
Baca juga: Viral Pengantin di Barabai Kalsel Kesurupan Saat Pakai Baju Adat Banjar, Leluhur Minta Warna Kuning
Kesadaran itu semakin kuat ketika ia mulai mendirikan lembaga kursus pada 1986. Melalui lembaga tersebut, Mursimah tidak hanya mengajarkan keterampilan merias pengantin, tetapi juga mengenalkan adat istiadat perkawinan Banjar kepada para peserta.
Kegiatan itu berlangsung selama puluhan tahun. Pengetahuan yang awalnya ia dapatkan dari pengalaman dan lingkungan kemudian dibagikan ke orang-orang yang belajar kepadanya.
Namun, ada kekhawatiran lain yang muncul. Generasi muda hari ini tidak selalu mengenal tradisi yang pernah begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Banjar.
Mursimah pun akhirnya memberanikan diri menulis. Padahal, ia mengaku tidak memiliki latar belakang sebagai penulis atau pengarang.
“Saya tidak punya latar belakang penulis, pengarang. Tapi saya hanya ingin menuangkan apa yang ada di pikiran saya ke buku,” katanya.
Bagi Mursimah, menulis adalah cara sederhana untuk menjaga ingatan.
“Bagaimanapun ingatan seseorang itu kalau tidak ditulis lupa. Kalau ditulis, insyaAllah ada saja yang membaca nanti,” ujarnya.
Apa yang ditulis Mursimah bukan hasil dari sekadar membaca referensi. Sebagian besar merupakan pengetahuan yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun bersentuhan langsung dengan dunia tata rias dan perkawinan adat Banjar.
Ia ingin anak-anak muda memiliki kesempatan untuk mengetahui bagaimana orang Banjar menjalankan adat perkawinan pada masa lalu. Sebab, perubahan zaman tidak bisa dihindari. Bahkan beberapa bagian dari tradisi yang dulu lazim dilakukan kini mulai ditinggalkan.
Salah satunya berkaitan dengan piduduk, perlengkapan yang dalam sebagian tradisi perkawinan adat Banjar dipersiapkan oleh keluarga pengantin.
Mursimah mengatakan, dalam praktiknya kini terdapat penyesuaian. Perbedaan persepsi masyarakat terhadap tradisi tersebut membuat pelaksanaannya tidak lagi selalu sama seperti dahulu.
Ia pun memilih untuk tidak memaksakan seluruh tradisi lama diterapkan dalam setiap perkawinan. Menurutnya, kondisi masyarakat sekarang harus dipahami, termasuk adanya perbedaan adat antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Mursimah menyadari bahwa adat Banjar sendiri memiliki kekayaan dan variasi.
Baca juga: Viral Pedagang Sayur Asal Desa Bawahan Pasar Banjar, Berjualan Kenakan Baju Adat Banjar
Kalsel mengenal kawasan Banjar Pahuluan dan Banjar Kuala dengan karakter adat yang tidak selalu sama.
Menurutnya, tradisi yang masih sangat kental dapat ditemukan di sejumlah wilayah Pahuluan. Karena itu, ia tidak ingin generasi muda merasa harus menjalankan seluruh tradisi dengan cara yang sama.
Ada bagian yang dapat dipertahankan, ada pula yang perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat.
Itulah alasan Mursimah terus menulis. Puluhan tahun sebagai perias pengantin memberinya pengalaman. Puluhan tahun mengelola lembaga kursus memberinya kesempatan mengajarkan pengalaman tersebut kepada orang lain. Dan tulisan ia pilih menjadi wadah untuk meninggalkan jejak.(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)