Mimpi Berakhir Duka dari Laut, Kapal Nelayan Belitung Terbelah di Perairan Bintan
Fitriadi August 13, 2026 10:37 AM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Suasana haru menyelimuti rumah Badina di Jalan Anwar Aid, Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Selasa (11/8/2026). Di teras rumah, sanak saudara duduk bersila sambil sesekali memeriksa layar telepon seluler, menanti kabar dari laut.

Badina, 45 tahun, masih berharap suami, anak, dan tiga kerabatnya selamat setelah kapal yang mereka tumpangi, KM Satriani atau dikenal sebagai KM Putra Buluh, diduga ditabrak kapal lain di perairan Pulau Peniki, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Sabtu (8/8/2026) dini hari.

Dari lima orang di kapal tersebut, baru Khairul alias Boci yang diketahui selamat.

Ia ditemukan nelayan setempat setelah bertahan di laut dan kemudian dibawa ke wilayah Pontianak.

“Kami dapat kabar dari Boci yang selamat. Katanya perahu mereka ditabrak kapal di Pengikik hari Sabtu kemarin,” ujar Badina saat ditemui Posbelitung.co, Rabu (12/8/2026).

Badina istri nelayan Belitung yang jadi korban tabrakan kapal di Kepri
Badina, istri Andi Syamsu, nelayan asal Belitung yang kapalnya tenggelam ditabrak kapal lain di perairan laut Pulau Pingikik, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau saat ditemui di rumahnya pada Rabu (12/8/2026).

Sembari menahan tangis, Badina menceritakan perjalanan terakhir suami, Andi Syamsu (53), dan anaknya, Syamsir Arwan (27).

KM Satriani berangkat dari Tanjungpandan pada Senin (3/8) menuju perairan Peniki untuk mencari cumi-cumi.

Kapal itu dikemudikan Syamsir dan membawa Andi Syamsu, Agustono (28), Muhammad Irfan (28), serta Khairul (30).

Keberangkatan itu, kata Badina, bukan sesuatu yang luar biasa.

Mereka memuat es dan melaut seperti biasanya setelah sebelumnya menangkap ikan di perairan Gelasa.

“Kalau trip sebelumnya ke Gelasa, sudah pulang ke sini. Pekan lalu, muat es dan Sabtu berangkat, seperti biasanya,” katanya.

Tak ada firasat buruk yang dirasakan Badina sebelum keberangkatan. 
Komunikasi dengan suami dan anaknya juga terputus karena mereka berada di tengah laut yang sulit mendapatkan sinyal telepon.

Namun, ada satu hal yang terus teringat. Badina mengaku bermimpi bertemu suaminya selama dua malam berturut-turut.

“Saya mimpi ada suami saya lagi duduk dan ada datang perahu, baru terlihat bagian depannya. Tiba-tiba cucu nangis, saya kebangun,” ungkapnya.

Terbelah

Tak lama kemudian, kabar yang ditunggu justru berubah menjadi kecemasan. 

Badina mendapat informasi bahwa kapal yang dikemudikan anaknya tenggelam setelah diduga ditabrak kapal lain.

Dari informasi yang disampaikan Boci, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 01.00–02.00 WIB ketika seluruh kru sedang beristirahat.

Suasana kediaman rumah Andi Syamsu kru KM Satriani atau KM Putra Buluh yang dikabarkan tenggelam di perairan Pulau Peniki, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau pada Rabu (12/8/2026).
Suasana kediaman rumah Andi Syamsu kru KM Satriani atau KM Putra Buluh yang dikabarkan tenggelam di perairan Pulau Peniki, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau pada Rabu (12/8/2026). (Posbelitung.co/Dede Suhendar)

Lampu untuk memancing telah dimatikan dan hanya lampu navigasi yang menyala.

Bos sekaligus penampung hasil tangkapan nelayan, Wandi, mengatakan kapal lain tiba-tiba berada sangat dekat sebelum menghantam KM Satriani.

“Kejadiannya sekitar pukul 01.00 atau 02.00 WIB. Saat itu para kru sedang beristirahat. Lampu untuk memancing sudah dimatikan dan hanya lampu navigasi yang masih menyala. Tiba-tiba kapal lain sudah berada sangat dekat dan langsung menabrak kapal mereka,” kata Wandi.

Benturan disebut berlangsung begitu cepat hingga para kru tidak sempat menyelamatkan kapal.

Mereka langsung melompat ke laut setelah kapal pecah dan tenggelam.

Tutup Fiber

Boci kemudian bertahan dengan berpegangan pada tutup peti fiber.

Ia sempat berusaha mencari empat rekannya, tetapi mereka telah terpisah dan tidak lagi terlihat.

“Korban yang selamat ini mengapung pakai tutup peti fiber. Dia sempat mencoba melihat ke kiri dan kanan tapi empat rekannya sudah tidak terlihat lagi karena terpisah,” ujar Wandi.

Boci akhirnya ditemukan nelayan setempat di sekitar wilayah Tambelan. 
Sementara empat kru lainnya, Syamsir, Andi Syamsu, Agustono, dan Muhammad Irfan, hingga Rabu masih dalam pencarian.

Pihak keluarga bersama Wandi telah berkoordinasi dengan Basarnas untuk mempercepat pencarian.

Karena lokasi kejadian berada cukup jauh dari Tanjungpinang, operasi dilakukan dari titik koordinasi terdekat, yakni Pontianak.

“Karena jarak Peniki ke Tanjungpinang cukup jauh, titik koordinasi terdekat dilakukan dari Pontianak. Tim SAR menuju lokasi menggunakan kapal dari Pontianak,” kata Wandi.

Di rumahnya, Badina masih menunggu kabar dari laut. Harapannya sederhana: suami, anak, dan tiga kerabat yang pergi melaut itu segera ditemukan.

“Kami hanya bisa berharap semuanya selamat dari kejadian ini,” kata Badina.

SAR Perluas Pencarian

Tim SAR gabungan memperluas pencarian empat kru KM Putra Buluh yang hilang setelah kapal nelayan asal Belitung itu diduga ditabrak kapal kargo di perairan Pengikik, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Memasuki hari ketiga pencarian, Rabu (12/8/2026), tim menyisir jalur perairan dari Pengikik hingga kawasan Tambelan.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Tanjungpinang Eryk Subariyanto mengatakan perairan Pengikik menjadi titik prioritas karena diduga merupakan lokasi terjadinya tabrakan.

“Kami mengerahkan sejumlah armada dan personel untuk menelusuri setiap sudut perairan, berharap ada jejak atau tanda keberadaan para nelayan tersebut,” ujar Eryk.

Pencarian dilakukan dengan menyisir permukaan laut serta memantau garis pantai di sepanjang jalur operasi.

Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban terbawa arus hingga ke tepian.

Kondisi laut yang memiliki arus berubah-ubah menjadi salah satu tantangan bagi tim.

“Sampai siang ini, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan empat nelayan tersebut,” katanya.

Tim SAR juga melibatkan nelayan yang melintas untuk membantu memantau perairan.

Operasi pencarian direncanakan berlangsung hingga hari ketujuh sesuai prosedur.

“Seperti biasa kita akan lakukan pencarian hingga hari ke-7. Doakan semoga korban segera ditemukan,” ujar Eryk.

Sebelumnya, kecelakaan laut yang menimpa KM Putra Buluh ramai diperbincangkan di media sosial.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Tanjungpinang Fazzli mengatakan kapal tersebut membawa lima kru saat berangkat dari Tanjungpandan, Belitung, Senin (3/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB.

Mereka menuju perairan sekitar Pulau Pengikik untuk mencari ikan dan telah berada di kawasan tersebut sejak 4 hingga 7 Agustus.

Kapal kemudian dilaporkan ditabrak kapal kargo yang berlayar menuju Kalimantan pada Sabtu (8/8/2026) dini hari.

Benturan membuat KM Putra Buluh rusak berat hingga terbelah dan tenggelam.

Seorang kru, Khairul (30), berhasil bertahan dengan berpegangan pada tutup peti fiber sebelum ditemukan dan dievakuasi awak KM Lima Saudara Kandung yang melintas.

Empat kru lainnya, yakni Samsir Arwan (27), Andi Syamsu (53), Muhammad Irfan (28), dan Agustono (28), masih dalam pencarian.

“Empat kru itu saat ini masih dilakukan proses pencarian,” kata Fazzli.

Setelah menerima laporan dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Riau melalui Com Center, Kantor SAR Tanjungpinang berkoordinasi dengan SROP Tanjungpinang, KSOP Kelas II Tanjungpinang, HNSI Kepri, Kantor SAR Pangkalpinang, pemilik kapal, serta Kantor SAR Pontianak untuk kemungkinan dukungan KN SAR.

SROP Tanjungpinang juga berkoordinasi dengan SROP Natuna dan SROP Sintete untuk memantau pergerakan kapal di sekitar lokasi.

Hingga Rabu (12/8/2026), pencarian masih terus dilakukan dengan harapan empat nelayan segera ditemukan dalam kondisi selamat. (Posbelitung.co/Dede Suhendar/Tribun Batam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.