TRIBUNJATIM.COM - Perjuangan melawan kobaran api di kawasan Gunung Bromo bukan sekadar menjalankan tugas pertamanan hutan biasa.
Banyak dari petugas yang tidak kenal lelah untuk memadamkan api di kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Diketahui, kebakaran di kawasan Gunung Bromo terjadi sejak Senin, 3 Agustus, dan hingga Selasa, 11 Agustus, kini api masih belum padam.
Petugas mulai dari BBTN BTS, TNI, Polri, BPBD, Damkar, relawan, warga hingga komunitas cip ikut terjun memadamkan si jago merah yang saat ini sudah melahap 520 hektar lebih lahan di Bromo.
Baca juga: Buntut Panjang Kebakaran di Bromo, Pemkab Probolinggo Tutup Kawasan Puncak Seruni Point
Salah satu yang ikut dalam pemadaman yakni tim dari Manggala Agni, tergabung dalam wilayah kerja Balai Pengendalian Perubahan Iklim Kebakaran Hutan wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Manggala Agni sendiri bagian dari brigade pengendali kebakaran hutan dan lahan di bawah koordinasi Kementerian Kehutanan.
Salah satu personel Manggala Agni, Heriyadi, menceritakan bagaimana kisah memadamkan api pertama kali di Gunung Bromo bersama rekan-rekannya hingga mereka sempat tersesat di lereng Bromo usai padamkan api.
Menurut Heriyadi, kondisi medan menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman.
“Terkait dengan kondisi di lapangan kami melakukan pemadam itu banyak kendala. Satu kemiringan pasti kita akan kesulitan di situ. Kemudian angin yang berubah-rubah akan mempengaruhi pergerakan kita.” ucapnya dalam program SaksiKata.
Heriyadi mengatakan, persoalan sumber air juga menjadi kendala karena tim menggunakan pompa mekanis.
“Kemudian sumber air yang kita kan kita mengguna pompa-pompa mekanis sehingga kita kesulitan sumber air. Tatkala tangki sudah habis kita harus menunggu lagi. Padahal itu paling efektif menggunakan air.”
Saat air tidak tersedia, petugas menggunakan peralatan manual.
“Tetapi tatkala tidak ada air kamian melakukan pemadaman menggunakan perat-perat manual seperti kopyok, jet shooter. Sekaligus kita melakukan mopping up atau penyapuan bar api supaya tatkala kita tinggalkan itu bar api sebenar-benar sudah padam.”
Heriyadi mengatakan, kondisi panas, kemiringan medan, hingga jauhnya pengambilan air turut menghambat pergerakan petugas.
“Karena tadi kemiringan kemudian panas kesulitan yang lain juga terkait tadi mobilisasi terkait dengan air pengambilan airnya juga jauh sehingga menghambat pergerakan suplai air pada kita yang mengan pompa mekanis. Saya kira kesulitan yang paling menonjol seperti itu.”
Tim Manggala Agni Balai Dalkarhut JBN mulai bergerak ke lokasi pada 4 Agustus dan hingga saat itu masih menunggu perintah pimpinan.
“Kami dari Manggala Agni Balai Dalkarhut JBN itu mulai dari tanggal 4 sampai saat ini kita masih bergerak sampai menunggu nanti perintah pimpinan seperti apa pergerakan kita di sini.”
Dalam menjalankan tugas, Heriyadi menyebut kekompakan anggota menjadi salah satu hal yang membantu mereka menghadapi kondisi di lapangan.
“Karena kita sudah membaur sama relawan, TNI Polri dan sebagainya, kesulitan itu sudah sudah terbiasa sebenarnya itu semua sudah terkon dengan baik. kami sebagai selaku manggalakang ini sudah sering berlatih. Kemudian kekompakan regu kami bangun sehingga kita lebih enak untuk pergerakan sehingga tidak ada kendala secara internal kami.”
Namun, medan Bromo tidak hanya menyulitkan proses pemadaman. Heriyadi dan rekan-rekannya bahkan sempat tersesat ketika hendak kembali setelah memadamkan api.
“Oke. secara medan memang betul luar biasa medannya. Sempat Kamis semalam juga tersesat karena kita tidak mengetahui medannya. Kemudian lokasinya juga kondisi malam hari kami kesulitan untuk menuju ke lokasi aspal sehingga kita harus mencari-cari.”
Baca juga: Kebakaran Bromo Hampir 1.000 Hektare, Gubernur Jatim Khofifah Tegaskan Penanganan Dimaksimalkan
Selain medan yang sulit, debu juga memengaruhi kondisi petugas.
“Kemudian medan berdebu sangat mempengaruhi pandangan kita. Kemudian pernafasan kita juga akan terpengaruh sama debu-debu yang terpapar pada kami.”
Heriyadi kemudian menjelaskan lokasi mereka sempat tersesat.
“Kami di Lembah Parengan atau apa ya semalam itu kami sempat tersasat karena kami melakukan pemadaman sampai jam setengah sepuluh. Nah, kemudian kami karena kami juga awam terkait dengan lokasi di Brom sendiri akhirnya kita kepulangan kami salah jalur sehingga kami juga dibantu sama teman-teman dari pamangku kawasan untuk penjemputan kami untuk kembali ke lokasi sini.”
Bagi Heriyadi, pengalaman pertama memadamkan api di Bromo memberikan kesan luar biasa. Ia harus beradaptasi dengan medan terjal, angin, panas, dan debu.
“Kalau untuk kesannya luar biasa. Satu kami meng ee apa di tempat medan yang terjal miring. Kemudian angin luar biasa, panas luar biasa, debu luar biasa.”
“Sehingga kami mau enggak mau harus menyesuaikan kondisi di lapangan. Kondisinya seperti itu sehingga kami ya dari hari tanggal 4 sampai hari saat ini sudah mulai terbiasa dengan kondisi di lapangan seperti ini.”
Hingga wawancara berlangsung, Heriyadi mengaku belum mengetahui kapan dirinya dan tim akan kembali.
“Kurang tahu kepulangan kami. Tunggu perintah pimpinan seperti apa, kondisi di sini seperti apa, nanti kita menyesuaikan.” ujarnya.