Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Puluhan siswa Sekolah Dasar Kelas Jauh Bora Blupur di Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda darurat.
Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari setahun setelah gedung sekolah roboh akibat diterpa angin kencang pada 23 Januari 2025.
Pascaambruknya ruang kelas, pihak sekolah sempat menggelar KBM di rumah-rumah warga di Kampung Bora Blupur. Beberapa bulan kemudian, Pemerintah Kabupaten Sikka menyediakan satu unit tenda darurat yang didirikan di halaman sekolah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Namun, keterbatasan ruang membuat proses pembelajaran hingga kini belum berlangsung secara ideal.
Baca juga: Sempat Buron, Salah Satu Pelaku yang Terlibat Kasus Pembunuhan Siswi SMP di Sikka Ditangkap
Tenda darurat tersebut digunakan oleh siswa kelas I, II, dan III. Sementara itu, siswa kelas IV mengikuti pembelajaran di teras sekolah, sedangkan siswa kelas V dan VI menggunakan satu ruang kelas yang disekat.
"Gedung sekolah diterpa angin dan badai pada 23 Januari 2025. Sejak itu kami melaksanakan KBM di rumah warga. Setelah itu ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sikka berupa tenda untuk tiga ruang kelas dan sampai saat ini masih digunakan," jelas Yosef Raga Edo, Guru Kelas VI sekaligus Koordinator Kelas Jauh SD Borablupur, Kamis (13/8/2026).
Menurut Yosef, kondisi tersebut membuat guru dan siswa merasa kurang nyaman saat mengikuti proses pembelajaran. Mereka harus berbagi ruang dalam keterbatasan fasilitas yang tersedia.
Ia mengatakan, kondisi menjadi semakin sulit ketika hujan disertai angin melanda wilayah tersebut.
"Kalau hujan disertai angin, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan karena air hujan langsung masuk ke dalam tenda," ujarnya.
Saat ini, SD Borablupur memiliki 32 siswa dan delapan guru. Dari jumlah tersebut, satu guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dua guru berstatus tenaga honorer yang dibiayai melalui dana BOS, dan lima lainnya merupakan guru honorer komite.
Para guru dan siswa berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi fasilitas pendidikan di SD Borablupur yang merupakan cabang sekolah jarak jauh dari SD Inpres Klotong.
Selain pembangunan kembali ruang kelas, para guru juga berharap adanya perhatian terhadap akses jalan menuju sekolah, kesejahteraan guru honorer, serta upaya agar sekolah tersebut dapat menjadi sekolah definitif.
Keterbatasan fasilitas dasar juga masih menjadi persoalan. Sekolah tersebut belum memiliki akses jaringan listrik dan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan air, para guru harus membeli air dalam kemasan lima liter dengan harga sekitar Rp5.000. Sementara untuk penerangan, para guru dan masyarakat setempat masih menggunakan lampu sederhana yang dibuat dari kaleng bekas dan diisi minyak tanah.
Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar di SD Borablupur masih menghadapi berbagai keterbatasan, meski para guru dan siswa tetap berupaya menjalankan proses pendidikan di tengah kondisi yang ada. (Awk)