SERAMBINEWS.COM - China kembali menegaskan dominasinya di bidang teknologi transportasi darat.
Sebuah kendaraan maglev (levitasi magnetik) eksperimental berhasil melaju hingga kecepatan 800 kilometer per jam (km/jam) hanya dalam waktu 5,3 detik dari posisi diam.
Pengujian berkecepatan ekstrem tersebut berlangsung di lintasan sepanjang 1 kilometer di Donghu Laboratory, Provinsi Hubei, China. Capaian ini resmi memecahkan rekor dunia baru untuk kategori akselerasi maglev jarak pendek.
Tak sekadar mengejar kecepatan kilat, pengujian ini juga berhasil membuktikan keandalan sistem pengereman.
Kendaraan nirawak seberat 1,1 ton tersebut mampu dihentikan secara aman dan terkendali dalam jarak sekitar 200 meter setelah menyentuh puncak kecepatan 800 km/jam.
Pengembangan transportasi supercepat tidak hanya berfokus pada seberapa cepat kendaraan melaju, tetapi juga bagaimana mengendalikannya saat bergerak dalam kecepatan ekstrem.
Gaya magnet pada teknologi maglev memungkinkan kendaraan "terapung" sedikit di atas rel sehingga mengeliminasi gesekan mekanis. Kumparan magnet di sepanjang lintasan kemudian menyuplai dorongan elektromagnetik untuk melontarkan kendaraan ke depan.
Menurut laporan media lokal CCTV, pengujian kali ini dipakai para peneliti untuk menguji batas maksimal dari empat teknologi krusial:
Baca juga: 26 Guru dan Operator Madrasah Bireuen Ikuti Bimtek EMIS GTK dan Aplikasi MAGIS
Capaian 800 km/jam ini bukanlah keberuntungan instan, melainkan hasil dari rangkaian penyempurnaan bertahap yang dilakukan para ilmuwan China.
Di lokasi terpisah, tim peneliti dari National University of Defense Technology (NUDT) China juga tengah mengembangkan varian maglev ekstrem lainnya. Dalam salah satu uji coba, kendaraan buatan NUDT bahkan sanggup menyentuh 697 km/jam hanya dalam kurun waktu 2 detik.
Baca juga: Tragedi Kedondong Tumbang, Kampung Puli Pidie Kehilangan Tujuh Ibu
Sebagai pembanding, kecepatan pengujian maglev eksperimental ini jauh meninggalkan armada kereta cepat komersial yang beroperasi saat ini:
Kendati demikian, kendaraan maglev eksperimental ini belum dirancang untuk mengangkut penumpang umum. Para ilmuwan berencana memanfaatkan prinsip dorongan magnetik supercepat ini untuk kebutuhan lain, salah satunya sebagai sistem peluncur bantuan berkecepatan tinggi untuk roket ruang angkasa dan pesawat tempur.
Ke depan, China juga terus mengembangkan konsep maglev di dalam tabung hampa udara (vacuum tube). Dengan meniadakan hambatan udara, kendaraan berpotensi meluncur lebih cepat lagi.
Namun, tantangan besar seperti tingginya biaya pembangunan infrastruktur, kebutuhan rel berspesifikasi presisi tinggi, serta faktor keselamatan manusia masih menjadi kendala utama sebelum teknologi ini diproduksi secara massal.
(Serambinews.com/Kompas.com)