TRIBUNNEWS.COM - Megabintang sepak bola dunia, Lionel Messi sedang mempertimbangkan masa depannya setelah kematian sang ayah, Jorge Messi pada awal Agustus 2026 setelah menderita sakit berkepanjangan pada usia 68 tahun.
Kepergian sang ayah membuat Messi cukup terpukul, meskipun dia tetap bersikap profesional dengan menjalani pertandingan bersama Inter Miami.
Melalui Instagram pribadinya, Messi mengucapkan salam perpisahan kepada sang ayah, namun ada beberapa kalimat yang mengindikasikan bahwa dia ingin mengakhiri kariernya sebagai pesepak bola.
"Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu," tulis Messi.
"Saya tidak tahu harus melanjutkan bagaimana. Dulu saya hanya bermain sepak bola, dan sekarang saya benar-benar tidak yakin apakah saya akan terus melakukannya lebih lama lagi.
"Kau selalu berada di sisiku sejak awal. Kita sudah sangat dekat dengan akhir. Mengapa kau tidak bertahan sedikit lebih lama agar kita menyelesaikan ini bersama?," tambahnya.
Pesan tersebut mengundang perhatian publik yang menilai bintang terhebat di dunia sepak bola itu akan pensiun dalam waktu dekat.
Namun, terlepas dari masa pensiun Lionel Messi, menarik untuk dikenang berbagai pencapaian yang ikonik dari pemain yang kini berusia 39 tahun tersebut.
Berikut momen paling ikonik Lionel Messi menurut BBC:
Pada usia 19 tahun, Lionel Messi memborong tiga gol (hattrick) Barcelona dalam pertandingan El Clasico melawan Real Madrid yang berakhir imbang di Camp Nou pada 10 Maret 2007.
Hattrick pertama Messi dalam kariernya terjadi di salah satu pertandingan terbesar dalam sejarah sepak bola.
Momen tersebut juga dinilai sebagai awal dari tekenalnya nama Messi di kalangan publik dunia.
Sebulan setelah hattrick tersebut, Lionel Messi kembali menunjukkan bakatnya di atas lapangan hijau.
Dia mencetak gol seperti Diego Maradona, legenda Argentina dengan melakukan aksi solo dari tengah lapangan dengan melewati lima pemain, mengecoh kiper, hingga menjaringkan bola ke jala lawan.
Momen itu tercipta dalam kemenangan 5-2 Barcelona atas Getafe di leg pertama semifinal Copa del Rey pada 18 April 2007.
Aksi Messi seperti yang ditunjukkan Diego Maradona saat mencetak gol kedua Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986.
Pada tahun 2009 keraguan sempat muncul, Lionel Messi selalu kesulitan menghadapi tim-tim Inggris karena gagal mencetak gol dalam 10 penampilan di ajang Liga Champions.
Keraguan itu sirna saat melawan Manchester United dalam final Liga Champions tahun 2009.
Lionel Messi menyundul bola dari umpan silang Xavi. Barcelona pun menang dengan skor 2-0.
Dua tahun berselang, kedua klub raksasa tersebut kembali bertemu di partai puncak Liga Champions.
Messi kembali mencetak gol untuk membawa Barcelona meraih kemenangan 3-1 atas Man United.
Lionel Messi mencetak empat gol dalam satu pertandingan untuk pertama kalinya saat melawan Arsenal di perempat final Liga Champions tahun 2010.
Momen itu terjadi saat pertandingan berlangsung di Camp Nou.
Dua tahun kemudian, Messi mencetak gol lebih banyak yang membuatnya lebih sensasional dengan membobol gawang Leverkusen lima kali untuk membawa Barcelona menang 7-1.
Lionel Messi adalah pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah Liga Champions dengan koleksi 129 gol, di belakang Cristiano Ronaldo.
Tak sampai di situ, Messi juga memecahkan rekor pencetak gol Barcelona pada usia 24 tahun pada Maret 2012 dalam kemenangan 5-3 atas Granada. Messi mencetak hattrick di laga tersebut.
Hattricknya membuat rekor Cesar Rodriguez yang sudah berusia 60 tahun dengan koleksi 232 gol sirna.
Pada saat meninggalkan Barcelona di tahun 2021, Messi tercatat telah menghasilkan 672 gol dan menjadi yang terbanyak dalam sejarah klub.
Dari pencapaian itu, salah satu penentunya dapat berasal di tahun 2012. Messi mencetak gol ke-91-nya di tahun tersebut dalam kemenangan 3-1 Barcelona atas Valladolid pada 22 Desember.
Hal itu membuatnya masuk dalam Guiness Book of Records.
Messi mencetak 79 gol untuk Barcelona dan 12 gol untuk Argentina dalam 69 pertandingan untuk keduanya.
Dari sekian banyak rekor yang ditorehkan Messi, ada satu yang mungkin sulit untuk pecahkan oleh pesepak bola mana pun.
Ia mencetk hattrick dalam kemenangan 5-1 Barcelona atas Sevilla pada November 2014 dan menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah LaLiga.
Messi menyamai rekor 251 gol milik Temo Zarra yang dicetak pada tahun 1955 untuk Bilbao.
Di akhir masa baktinya, Messi menghasilkan 474 gol di LaLiga, jauh dari capaian rival abadinya, Cristiano Ronaldo untuk Real Madrid dengan koleksi 311 gol.
Momen yang paling sulit bagi Messi adalah meninggalkan Barcelona, tim yang sangat ia cintai seja masa kecil.
Itu terjadi pada Agustus 2021.
Air mata Lionel Messi mengalir deras, ia tidak bisa menyimpan emosinya ketika berbicara di depan publik saat menyampaikan salam perpisahan.
Barcelona melepas Lionel Messi dengan status bebas transfer ke PSG.
Sukses di klub tak lantas membuat Messi berjaya di level internasional bersama timnas Argentina.
Messi harus menunggu sampai usia 34 tahun baru bisa memberikan gelar juara untuk Argentina.
Pada Juli 2021, Messi membawa Argentina mengalahkan Brasil 1-0 di final Copa Amerika di Maracana.
Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik di turnamen tersebut setelah mencetak empat gol.
Ia kemudian berhasil mempertahankan mahkota juara tiga tahun kemudian.
Hal ini juga menjadi bagian dari momen ikonik Lionel Mssi dalama kaeriernya.
Meski sempat kalah dari Arab Saudi di awal penyisihan grup Piala Dunia 2022, Messi sukses mengantarkan Argentina ke tangga terakhir dan meraih mahkota yang selama ini kurang dalam lemarnya.
Messi mencetak dua gol dalam pertandingan final melawan Prancis, sebelum akhirnya memastikan kemenangan lewat adu penalti.
Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen setelah mencetak tujuh gol.
Setelah meninggalkan Barcelona, karier Messi tak ikut terhenti. Ia bahkan berhasil mendapatkan dua gelar Ballon d'Or lagi berkat penampilannya yang konsisten.
"Saya tidak pernah membayangkan memiliki karier yang saya miliki dan semu yang telah saya raih," kata Messi.
"Keberuntungan yang saya miliki dan yang saya miliki, keberuntungan untuk menjadi bagian dari tim terbaik dalam sejarah," jelasnya.
"Semua penghargaan Ballon d'Or itu sangat istimewa karena alasan yang berbeda.
(Tribunnews.com/Sina)