Hadapi Kekeringan, Distanak Jateng Kebut Perbaikan Irigasi
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah mengebut ratusan proyek perbaikan irigasi untuk mengatasi dampak kekeringan yang menimpa di sejumlah daerah.
Perbaikan irigasi tersebut dikebut karena sebesar 74 persen sawah di Jawa Tengah masih mengandalkan irigasi sebagai sumber penyaluran air. Sisanya, 26 persen merupakan sawah tadah hujan.
"Dalam menghadapi kekeringan ini, kami kerjakan 334 proyek irigasi, progesnya masih 30 persen," jelas Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares alias Frans, Rabu (12/8/2026).
Ia menilai, penanganan lahan kekeringan dilakukan dengan perbaikan irigasi karena seluas 717.800 hektare sawah atau 74 persennya merupakan sawah irigasi. Sisanya, 252.200 hektare merupakan lahan tadah hujan.
Total luas baku lahan sawah di Jateng sendiri mencapai 970.000 hektare.
"Jaringan irigasi ini harus diperbaiki terutama di musim kekeringan ini," jelasnya.
Meski demikian, kata Frans, pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah cukup berat. Sebab, sepanjang 13 juta meter irigasi di Jateng atau sebesar 52 persen dari total panjang irigasi merupakan irigasi tanah atau non-permanen. Kondisi irigasi ini tentunya mempersulit aliran air dari sumber mata air.
"Jaringan irigasi itu merupakan jaringan tersier sehingga dalam perbaikannya harus mempertahakan jaringan irgasi sekunder dan primer yang merupakan kewenangan BBWS dan Dinas PUPR," terangnya.
Frans mengungkap, sawah terdampak kekeringan telah terjadi di wilayah Grobogan, Wonogiri, Rembang, Blora, dan Jepara. Kondisi itu, bisa saja meluas ke daerah lainnya.
Selain perbaikan saluran irigasi, pihaknya telah memberikan bantuan pompa air di Kabupaten Kendal dan Magelang.
"Para petani juga inisiatif mengubah jenis varietas yang ditanam, terutama tanaman tahan kering," paparnya.
Frans menyebut, perubahan jenis tanaman itu dilakukan oleh petani di sejumlah daerah seperti petani Demak yang beralih dari padi menjadi tanaman kacang hijau. Petani di Kendal beralih ke tembaku. Sementara petani dari daerah lainnya beralih dari padi jenis Inpari 32 ke Inpago atau padi gogo yang mampu bertahan di tanah minim air.
"Padi gogo ini dipilih karena lebih tahan di tanah kering," bebernya.
Frans berharap, musim kemarau ini tidak melebihi bulan September 2026.
Sebab, pihaknya memiliki target padi atau gabah sebesar 10,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2026. Belajar dari tahun sebelumnya, kondisi kekeringan, banjir dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menganggu produktivitas sebesar 5 persen dari total produksi gabah.
"Pada tahun 2025, ada banjir dan serangan OPT itu menganggu produksi padi tak lebih dari 5 persen, tapi kalau tahun ini kemarau panjang, khawatir juga akan menganggu," ungkapnya. (Iwn)