TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Akhirnya terungkap sosok pegawai Diskominfo yang membakar ruang rapat karena sering dibully.
Untuk diketahui, pihak Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur buka suara terkait dugaan perundungan (bullying) yang diduga jadi pemicu pembakaran ruang rapat kantor tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskominfo Kukar Solihin menegaskan, dugaan perundungan itu tidak melibatkan seluruh pegawai Diskominfo.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, persoalan tersebut terjadi di antara tenaga outsourcing yang bekerja di lingkungan Diskominfo.
"Kalau di lingkungan, enggak. Yang bersangkutan atau pelaku ini merupakan tenaga outsourcing," kata Solihin saat diwawancarai melalui telepon, Kamis (13/8/2026).
Menurut Solihin, Diskominfo Kukar mempekerjakan sekitar 30 tenaga outsourcing.
Mereka bekerja di lingkungan Diskominfo, tetapi statusnya bukan pegawai instansi maupun PNS.
"Jadi bukan karyawan Diskominfo dan bukan PNS," ujarnya.
Para tenaga outsourcing tersebut berada di bawah perusahaan penyedia jasa tenaga kerja.
Adapun kontrak perusahaan dengan Diskominfo dilakukan setiap tahun sesuai tahun anggaran.
Baca juga: Nasib Karyawan Diskominfo Kukar Usai Bakar Ruang Rapat Kantor, Dulu Dibully Kini Jadi Tersangka
MFA diketahui bertugas sebagai operator command center di Diskominfo Kukar.
Solihin mengatakan, salah satu tugas MFA adalah mengoperasikan perangkat yang digunakan ketika rapat berlangsung, termasuk TV wall dan smart TV.
"Kalau kita ada rapat, memang tugasnya di situ sebagai operator," katanya.
Ruang rapat tersebut kini tidak dapat digunakan karena masih dalam proses pemeriksaan kepolisian dan terdapat banyak sisa kebakaran di dalamnya.
"Untuk sementara tidak bisa digunakan karena masih ada proses dari kepolisian dan masih banyak sisa-sisa kebakaran di dalam," ujar Solihin.
Lebih lanjut, Solihin mengaku pihaknya tidak mengetahui secara langsung dugaan perundungan yang dialami MFA, tenaga outsourcing yang kini menjadi tersangka pembakaran ruang rapat.
Polisi sebelumnya menyebut MFA diduga kerap menjadi sasaran candaan dan olok-olok dari sejumlah rekan kerjanya.
Salah satunya, foto MFA disebut pernah diambil kemudian dijadikan bahan candaan dan dibuat menjadi stiker.
Namun, menurut Solihin, informasi tersebut baru diketahui pihak Diskominfo setelah polisi melakukan penyelidikan.
"Nah, itu yang kami tidak tahu karena informasinya kami dapat dari kepolisian," katanya.
Ia mengatakan, kejadian tersebut berlangsung di antara tenaga outsourcing sehingga tidak diketahui oleh jajaran pegawai Diskominfo.
"Selama ini kami tidak tahu karena itu terjadi di antara mereka. Bukan di tingkat PNS Diskominfo. Jadi kami juga baru mendapatkan informasi tersebut dari kepolisian," ujarnya.
Sumber: Kompas.com