Cerita Hermin Petani Luwu, Rela Habiskan 30 Liter BBM Sehari demi Selamatkan Padi dari Kekeringan
Ansar August 13, 2026 02:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU - Tanah persawahan di Desa Seba-Seba, Kecamatan Walenrang Timur, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mulai retak di tengah musim kemarau.

Tanaman padi yang baru berusia sekitar satu bulan masih berdiri di atas hamparan sawah.

Kendati demikian, air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman semakin sulit diperoleh.

Pantauan Tribun-Timur.com, Kamis (13/8/2026) siang, sebagian areal persawahan tampak mengering.

Petani tidak punya banyak pilihan selain mencari sumber air lain agar tanaman padi mereka tidak mati.

Air sungai yang berjarak sekitar satu kilometer dari sawah pun dimanfaatkan.

Petani menggunakan dua mesin pompa secara berjenjang untuk mengalirkan air dari sungai menuju persawahan yang berada di seberang jalan.

Pompa pertama menarik air dari sungai menuju titik penampungan.

Dari titik itu, mesin kedua kembali bekerja mendorong air hingga mencapai lahan persawahan.

Cara tersebut memang membuat air tetap mengalir.

Namun, biaya yang harus dikeluarkan petani ikut membengkak.

Seorang petani, Hermin, mengatakan tanaman padinya telah berusia lebih dari satu bulan.

Ia seharusnya mulai melakukan pemupukan dan perawatan tanaman.

Namun, kondisi tanah yang mengering membuat pekerjaan itu tidak mudah dilakukan.

"Baru lebih satu bulan. Mau dipupuk tapi tidak ada airnya, mau dibersihkan tapi tanahnya keras," kata Hermin.

Untuk mempertahankan tanaman, Hermin dan petani lainnya harus menyewa mesin pompa.

Satu mesin pompa disewa sekitar Rp500 ribu untuk beberapa hari.

Jika air belum mencukupi, masa sewa harus diperpanjang.

Pengeluaran terbesar justru berasal dari bahan bakar.

Kata dia, dua mesin pompa membutuhkan sekitar 30 liter BBM dalam sehari semalam.

"Setiap mesin 15 liter. Jadi dua mesin sekitar 30 liter dalam sehari semalam," ujarnya.

Kondisi itu membuat petani harus mengatur pengeluaran agar pompa tetap bisa beroperasi.

Bahkan, sambung Hermin, ketika kesulitan mendapatkan bahan bakar, mereka terpaksa mengambil BBM dari sepeda motor untuk memastikan mesin penyedot air tetap menyala.

"Yang penting pompa untuk sawah bisa beroperasi," akunya.

Bagi petani, biaya tersebut terpaksa ditanggung demi menyelamatkan tanaman yang sudah ditanam.

Mereka berharap pemerintah tidak hanya membantu ketika kekeringan terjadi.

Tetapi juga menyiapkan sumber air yang bisa digunakan saat musim kemarau.

Salah satu solusi yang diharapkan adalah pembangunan sumur bor.

"Kami berharap bantuan berupa sumur bor agar sawah kami kalau kering bisa teraliri air," tutur Hermin.

Dinas Pertanian Siapkan Pompa dan Sumur Bor

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Islamuddin, mengatakan pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi kekurangan air di lahan pertanian.

Kabupaten Luwu memiliki sekitar 34.000 hektare lahan baku sawah.

Dari jumlah tersebut, sekitar 22.000 hektare masuk kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).

Pemerintah menyiapkan intervensi melalui bantuan pompa serta pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.

Islamuddin menyebut Balubu, Tallangbulawang, dan Noling sebagai beberapa lokasi yang telah diusulkan mendapatkan bantuan.

"Ada beberapa lokasi yang sebetulnya kami sudah siapkan untuk mencarikan solusi dalam bentuk irigasi perpompaan dan sumur bor," jelasnya.

Data kelompok tani di sejumlah lokasi tersebut telah dikirimkan ke Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan bantuan.

Islamuddin juga meminta petani segera melaporkan lahan yang mengalami kekeringan agar pemerintah dapat menentukan langkah penanganan.

"Kalau ada yang mau silakan melaporkan lahannya kering, silakan menghubungi kami. Kami akan mencarikan solusi," terangnya.

Menurutnya, apabila masih terdapat sungai dengan debit air yang memungkinkan, penggunaan pompa menjadi solusi yang dapat dilakukan dalam waktu relatif cepat.

Bupati Luwu, Patahudding, meminta penanganan kekeringan tidak berhenti pada rapat dan pendataan.

Ia menginstruksikan organisasi perangkat daerah terkait turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sekaligus menghitung kebutuhan masyarakat.

"Yang kita butuhkan sekarang adalah data kebutuhan yang konkret. Berapa pompa yang tersedia, berapa yang masih dibutuhkan, dan titik mana yang harus segera ditangani," tegas Patahudding.

Menurutnya, penanganan kekeringan harus mengutamakan solusi yang cepat sekaligus efisien.

Pompa air, sumur bor, dan deep well dinilai dapat menjadi solusi jangka menengah dan panjang.

Dibandingkan mengandalkan distribusi air menggunakan mobil tangki secara terus-menerus.

Pemkab Luwu juga meminta OPD teknis memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, pemerintah pusat, BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah desa.

Koordinasi tersebut diperlukan agar bantuan sarana dan prasarana dapat segera menjangkau wilayah yang terdampak.

Penanganan tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan tanaman padi dan produktivitas lahan.

Melainkan juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air tetap terpenuhi selama musim kemarau.

Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Sauki Maulana

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.