Begini Kondisi Makam Kartini Manoppo, Istri Bung Karno di Kotabangon Kotamobagu Sulut
Dewangga Ardhiananta August 13, 2026 05:38 PM

PRESIDEN pertama Republik Indonesia (RI), Soekarno, pernah memperistri seorang wanita asal Mongondow.

Namanya Kartini Manoppo.

Kartini adalah istri kelima Bung Karno.

Ia merupakan wanita titisan darah biru yang lahir dari keluarga terhormat di Bolaang Mongondow (Bolmong).

Sebelum takdir mempertemukannya dengan Sukarno, Kartini meniti karier sebagai pramugari di maskapai nasional Garuda Indonesia.

Ia adalah sosok wanita cerdas dengan karakter kuat yang dibentuk oleh keanggunan adat istiadat Mongondow.

Saat berkunjung ke Kotamobagu, Rabu 12 Agustus 2026, saya bersama rekan wartawan Tribun Manado, Rizali Posumah, berkesempatan untuk berziarah ke makamnya.

Makam bersejarah tersebut terletak di Kelurahan Kotabangon.

Perjalanan kami dipandu oleh aparat kelurahan setempat.

Beranjak dari kantor lurah, kami berhenti di depan sebuah rumah makan.

Jalan masuk menuju pemakaman ternyata tersembunyi tepat di belakang bangunan tersebut.

Namun, apa yang disebut sebagai 'jalan masuk' ternyata adalah sebuah rumah tinggal.

"Di sini jalan masuknya sudah tertutup," kata pemandu kami.

Kami terpaksa permisi melintasi bagian dalam rumah itu.

Begitu melangkah keluar dari pintu belakang, pemandangan langsung berganti menjadi hamparan lahan yang dipenuhi pepohonan, alang-alang, dan semak liar.

Itulah kompleks pemakaman tempat Kartini peristirahatan terakhirnya.

Ada banyak makam di sana, sebagian besar sudah tenggelam ditelan rimbunnya semak belukar.

Kami mulai menyusuri area, memeriksa nisan satu per satu.

Beberapa makam tertutup rapat oleh ilalang tinggi.

Butuh upaya keras hanya untuk menyibak rerumputan demi membaca nama yang tertera di pusara.

Setengah jam berlalu, usaha kami masih nihil.

Keberadaan makam Kartini seakan menjadi misteri, antara ada dan tiada.

Di samping area pemakaman, terhampar pemandangan sawah yang hijau dan subur.

Pesona hijaunya seolah tak terpengaruh oleh hawa panas terik akibat fenomena El Nino Godzilla yang sedang melanda.

Sesaat, saya sempat terpaku menatap hamparan sawah itu, mengagumi keindahannya di tengah rasa lelah.

Namun, pencarian harus berlanjut.

Kami beralih ke sisi utara, lalu menyisir sisi timur, hingga akhirnya kembali lagi ke titik semula.

Kami khawatir ada sudut yang terlewatkan.

Begitu banyak makam yang kami periksa, tetapi tak satu pun yang mengukir nama Kartini Manoppo.

Rasa frustrasi mulai menjalar.

Mengingat waktu yang kian mepet karena kami harus segera bertolak kembali ke Manado, kami akhirnya memutuskan untuk balik kanan.

Langkah kaki kami terasa amat berat.

Ada rasa tidak puas yang mengganjal di dada; kami merasa bak arwah penasaran yang terpaksa meninggalkan bumi manusia dengan rasa penasaran yang belum tuntas.

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya keluar dari belakang rumahnya.

Seperti bisa membaca kebingungan kami, ia mengacungkan jarinya ke sebuah titik.

"Di sana istri Presiden dimakamkan," katanya ramah.

Mendengar hal itu, kami langsung melangkah setengah berlari menuju lokasi yang ditunjuk, berharap kali ini membawa kabar baik.

Tepat di posisi tersebut, sebuah makam berdiri sunyi.

Tebakan kami benar, itulah makam Kartini.

Di pusara hitam itu tertulis dengan jelas nama: Bua C. Kartini Manoppo.

Di bawah nama tersebut, terukir tanggal kelahirannya, 19 Maret 1931, dan di bawahnya lagi tertera tanggal wafatnya, 14 April 1990.

Tulisan di batu nisan itu menerangkan bahwa ia lahir di Kotamobagu dan mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta.

Secara fisik, makam tersebut berbentuk sangat sederhana.

Hanya sebuah pusara dengan panjang tak lebih dari empat meter dan lebar kurang dari dua meter.

Dalam kondisi terawat, pusara berwarna agak gelap ini sebenarnya tampak anggun, berpadu serasi dengan hijaunya alam dan birunya langit Kotamobagu.

Namun kini makam itu kini terkepung rapat oleh semak belukar, rumput liar, dan ilalang yang tinggi.

Bahkan, ada semak yang tumbuh tepat di tengah-tengah makam, merayap hingga menutupi tulisan nama di pusaranya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Manado, situs ini sesungguhnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Namun, kondisinya kini terbengkalai, terisolasi dari dunia luar hanya gara-gara tiadanya akses jalan masuk yang layak menuju ke sana.

Setelah memotret makam itu, kami benar benar pulang kali ini.

Sebuah tanya mengapung ; Kartini Manoppo, seorang wanita cerdas yang maju di era itu, pernah menjadi istri seorang proklamator, kini harus merelakan pusaranya tersembunyi di balik dapur warga, terasing dari peziarah karena tiadanya jalan masuk?.

(TribunManado.co.id/Arthur Rompis)

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.