TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Kapolsek Sungai Kunyit, Iptu Lodrick Taliak Hungan, kembali mendapat penghormatan dari Istana Amantubillah Mempawah.
Di tengah rangkaian kemeriahan Robo-Robo 2026, ia dianugerahi gelar kekerabatan sebagai Pangeran Wira.
Penganugerahan gelar tersebut berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026 malam. Gelar Pangeran Wira diserahkan langsung oleh Raja Mempawah XIV, Pangeran Ratu Wirabuana Mohammad Hafizh Adinugraha.
Bagi Iptu Lodrick, pemberian gelar tersebut bukan menjadi pengalaman pertamanya menerima penghormatan dari lingkungan Kerajaan Mempawah.
Justru, gelar Pangeran Wira menjadi bagian dari perjalanan panjangnya selama bertugas di Kabupaten Mempawah.
Dalam tiga periode penugasan di wilayah tersebut, Iptu Lodrick tercatat telah menerima tiga gelar kekerabatan berbeda dari Istana Amantubillah.
Pada 2023, ketika dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Mempawah Hilir, ia memperoleh gelar Datok Petinggi Satya.
• Pemprov Kalbar Siapkan 550 Paket Sembako di Pasar Murah, Warga Cukup Bayar Rp50 Ribu per Paket
Dua tahun kemudian, saat bertugas sebagai Kapolsek Segedong pada 2025, ia kembali mendapatkan penghormatan berupa gelar Pangeran Muda.
Kini, setelah menjabat sebagai Kapolsek Sungai Kunyit, gelar Pangeran Wira menjadi gelar ketiga yang diterimanya.
Gelar Pangeran Wira Dinilai Sebagai Amanah
Iptu Lodrick mengatakan gelar yang diberikan Kerajaan Amantubillah Mempawah tersebut bukan sekadar penghormatan, melainkan sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui pelaksanaan tugasnya sebagai anggota Polri.
"Gelar Pangeran Wira merupakan Darjah Kebesaran yang diberikan kepada saya dari Kerajaan Amantubillah Mempawah oleh Raja Mempawah yang ke-XIV, Baginda Pangeran Ratu Mulawangsa Mohammad Hafizh Wirabuana," ujar Iptu Lodrick.
Menurutnya, amanah tersebut akan diwujudkan dengan terus menjalankan tugas kepolisian, khususnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Kabupaten Mempawah.
"Ini merupakan amanah untuk saya menjalankan tugas menjaga stabilitas Kamtibmas di wilayah hukum Kabupaten Mempawah, khususnya di Sungai Kunyit," katanya.
Ia menegaskan, penghormatan tersebut justru menjadi pengingat agar dirinya semakin bertanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
Tak Hanya Soal Keamanan, Adat Mempawah Juga Harus Dijaga
Bagi Iptu Lodrick, pengabdian di Kabupaten Mempawah tidak semata-mata berkaitan dengan menjaga situasi keamanan tetap kondusif.
Menurutnya, keberadaan adat dan tradisi juga menjadi bagian penting dari identitas masyarakat yang harus dirawat bersama.
Salah satu tradisi yang mendapat perhatian adalah Robo-Robo, sebuah tradisi budaya yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Mempawah.
"Selain menjaga adat dan tradisi, yang merupakan situs budaya tidak benda, kita juga harus ikut menjaga dan melestarikannya," ungkapnya.
Ia menilai pelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun lingkungan keraton. Masyarakat, generasi muda, hingga seluruh elemen daerah memiliki peran dalam memastikan warisan budaya tersebut tetap hidup.
Terlebih, Robo-Robo kini tidak hanya menjadi perhatian masyarakat Kalimantan Barat.
• BMKG Siapkan OMC untuk Kurangi Dampak Karhutla di Kalbar, Ini Syarat Pelaksanaannya
Iptu Lodrick mengatakan pelaksanaan Robo-Robo 2026 juga mendapat perhatian dari masyarakat luar negeri.
Sejumlah pelajar asing disebut hadir untuk menyaksikan secara langsung tradisi tersebut. Selain itu, sejumlah tokoh kerajaan dari negara tetangga dan kerajaan Nusantara turut hadir dalam momentum budaya tersebut.
"Telah datang pelajar asing dari mancanegara untuk datang melihat tradisi Robo-Robo. Telah hadir juga raja-raja dari Malaysia, Brunei dan raja-raja Nusantara," tuturnya.
Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang berkembang di daerah memiliki nilai sejarah dan budaya yang dapat dikenalkan lebih luas hingga ke tingkat internasional.
Robo-Robo bukan hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah dan identitas Mempawah kepada generasi muda serta masyarakat dari berbagai daerah.
Lebih jauh, Iptu Lodrick mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kerajaan-kerajaan yang pernah tumbuh di berbagai wilayah Nusantara.
Menurutnya, kerajaan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah dan pembentukan identitas masyarakat di berbagai daerah.
"Tanpa adanya kerajaan di Nusantara, Indonesia tidak akan pernah ada," tegasnya.
Karena itu, ia menilai keberadaan institusi adat dan kerajaan di daerah perlu dihormati serta dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan sejarah bangsa. (*)