‎BPBD Ketapang Sebut Api Karhutla Masih Ada, MHS dan MHU Jadi Wilayah Rawan
Try Juliansyah August 13, 2026 10:28 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG — Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih terus membayangi wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, hingga Kamis (13/8/2026). 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang melaporkan bahwa kemunculan titik api (hotspot) maupun sisa bara di lahan gambut masih ditemukan di sejumlah area strategis.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris sekaligus Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Ketapang, Riyadi, mengungkapkan bahwa tersebarnya sebaran titik api secara bersamaan menjadi tantangan tersendiri bagi personel pemadam kebakaran di lapangan.

"Api tetap ada, karena titik api ini kan banyak ditemui, bukan hanya sedikit titik api, banyak titik api. Bahkan armada kami pun kadang kewalahan," kata Riyadi saat dikonfirmasi Tribun Pontianak, Kamis (13/8/2026).

Meski menghadapi eskalasi tersebut, Riyadi memastikan dinamika karhutla di wilayahnya sejauh ini masih dalam batas aman dan terkendali.

Strategi pemadaman difokuskan pada skala prioritas untuk melokalisasi area yang berpotensi langsung mengancam keselamatan dan permukiman warga.

"Dikendalikan itu kan dalam artian tidak semua kita padamkan. Tapi di jalur-jalur yang membahayakan masyarakat dapat kita antisipasi," ujarnya.

Baca juga: Jembatan Merah Putih Presisi Ketapang Diresmikan, Pemkab Sebut Wujud Kolaborasi

Tiga Kendala Utama Penanganan Karhutla

Proses mitigasi dan penanggulangan karhutla di Ketapang dihadapkan pada triple hambatan operasional. Pertama, menyusutnya cadangan air baku akibat kemarau panjang. Kedua, keterbatasan aksesibilitas geografi menuju titik lokasi kebakaran.

"Kondisi air sudah banyak mengering, kemudian akses jalan tidak ada. Susah dilewati banget," jelasnya.

Faktor ketiga terletak pada tingkat keandalan sarana dan prasarana (sarpras) pemadam. Durasi operasi penanganan yang sudah berlangsung dalam jangka panjang memicu kelelahan pada alat penunjang operasional.

"Dan yang ketiga pun karena sudah lamanya kegiatan kami memadamkan api, tentu sarpras kami pun aus," katanya.

Peta Wilayah Rawan dan Status Kebencanaan

Dari pemetaan risiko BPBD Ketapang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, khususnya di kawasan Pelang, mencatatkan tingkat keparahan dampak karhutla yang cukup tinggi.

Sementara itu, dominasi hamparan lahan gambut menjadikan dua wilayah yakni Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS) dan Kecamatan Matan Hilir Utara (MHU) sebagai zona paling rawan karhutla.

"Untuk wilayah yang paling parah itu ada di kecamatan Matan Hilir Selatan, di wilayah Pelang itu. Semntara untuk wilayah yang paling rawan itu daerah gambut, di Matn Hilir Selatan dan Matan Hilir Utara," ungkapnya.

Meskipun titik api masih bermunculan, Pemkab Ketapang memutuskan belum menaikkan tingkat kedaruratan bencana.

"Status masih siaga. Siaga karhutla. Jadi belum naik statusnya," tegasnya.

Keputusan mempertahankan status Siaga Karhutla tersebut didasarkan pada masuknya intervensi penanganan dari udara (water bombing) yang memperkuat taktik pemadaman darat.

"Karena sudah ada tim penguatan dari Satgas Udara," ungkapnya.

Riyadi kembali menegaskan, secara umum kondisi lapangan di sektor-sektor rawan seperti Wilayah Pelang masih terus dipantau secara intensif agar api tidak meluas ke area permukiman.

"Yang jelas, masih kategori aman terkendali. Aman itu kan artinya ada bara api, ada api, tapi dapat dikendalikan," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.