Iran Isyaratkan Konflik dengan AS Bisa Berlangsung hingga Akhir Masa Jabatan Trump
Hasiolan Eko P Gultom August 13, 2026 10:38 PM

Iran Isyaratkan Konflik dengan AS Bisa Berlangsung hingga Akhir Masa Jabatan Trump

 

 
TRIBUNNEWS.COM – Iran mengisyaratkan bahwa konflik militernya dengan Amerika Serikat berpotensi berlangsung hingga akhir masa jabatan Presiden Donald Trump.

Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat senior Iran dalam wawancara langka dengan media Barat di Teheran.

Mohammad Reza Naqdi, penasihat senior bagi komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengatakan Iran perlu membangun kemampuan deterrence atau daya tangkal yang cukup kuat agar negara lain tidak lagi melihat serangan terhadap Iran sebagai pilihan yang layak.

Baca juga: Perang Iran-AS Jadi Ujian AI, IRGC: Rudal Kami Berhasil Hadapi Teknologi Amerika

Dalam wawancara dengan PBS, Naqdi menyebut salah satu cara mencapai tujuan tersebut adalah mempertahankan kemampuan Iran untuk menghadapi konflik dalam jangka panjang.

Menurutnya, konflik bahkan dapat berlanjut hingga masa pemerintahan Trump berakhir.

"Kami perlu mencapai kemampuan pencegahan sehingga musuh tidak akan pernah berani menyerang kami," kata Naqdi, sebagaimana dikutip dalam wawancara tersebut.

Baca juga: AS Ngos-ngosan Hadapi Taktik Atrisi, Michael Krieger: Perang Iran Membuktikan AS Cuma Macan Kertas

Jalankan Taktik Perang Atrisi

Pernyataan Naqdi menunjukkan bahwa Teheran melihat durasi konflik sebagai salah satu instrumen strategis, khas taktik perang atrisi.

Semakin lama konflik berlangsung, menurut perspektif yang disampaikannya, semakin besar peluang Iran mengakumulasi pengalaman tempur, menyesuaikan strategi, dan meningkatkan kemampuan pertahanannya.

Pendekatan tersebut berangkat dari konsep deterrence by denial and punishment: mencegah serangan dengan menunjukkan bahwa Iran mampu bertahan sekaligus menimbulkan biaya besar bagi pihak yang melakukan agresi.

Dengan demikian, kemenangan bagi Iran tidak selalu harus diterjemahkan sebagai penghancuran kekuatan lawan. Mempertahankan kemampuan bertempur dan membuat biaya konflik terus meningkat juga dapat menjadi bagian dari strategi.

Baca juga: Iran Ubah Doktrin Tempur, IRGC Disiapkan Operasi Jauh di Wilayah Musuh

Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami meninjau peralatan militer selama latihan militer pasukan darat IRGC di wilayah Aras, provinsi Azerbaijan Timur, Iran, 17 Oktober 2022.
Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami meninjau peralatan militer selama latihan militer pasukan darat IRGC di wilayah Aras, provinsi Azerbaijan Timur, Iran, 17 Oktober 2022. (kredit: IRGC/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS)

Iran Pertanyakan Tujuan Washington

Naqdi juga mempertanyakan konsistensi tujuan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.

Ia menyebut Washington belum menunjukkan strategi yang menurutnya jelas dan justru mengubah sasaran, mulai dari pembahasan mengenai serangan atau pendudukan terhadap Pulau Kharg hingga upaya membuka kembali Selat Hormuz.

Pulau Kharg memiliki arti penting bagi Iran karena menjadi salah satu pusat utama ekspor minyak negara tersebut. Sementara Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.

Jika kedua titik tersebut menjadi bagian dari sasaran militer, konsekuensinya tidak hanya berdampak pada Iran dan AS, tetapi juga berpotensi memengaruhi keamanan energi serta perdagangan internasional.

Bagi Teheran, ketidakjelasan sasaran lawan justru dapat menjadi peluang untuk memperpanjang kemampuan bertahan.

Klaim Produksi Rudal Terus Berjalan

Dalam wawancara tersebut, Naqdi juga menyatakan Iran tidak khawatir akan menghadapi kekurangan rudal.

Ia mengklaim Iran mampu memproduksi rudal dalam jumlah yang lebih besar daripada yang digunakan setiap hari.

Klaim tersebut merupakan pernyataan dari pejabat Iran dan belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, kemampuan mempertahankan pasokan amunisi merupakan faktor penting dalam konflik modern, khususnya dalam perang yang melibatkan serangan rudal dan drone secara berulang.

Jika kemampuan produksi Iran benar-benar mampu mempertahankan tingkat konsumsi selama konflik, tekanan terhadap persediaan senjata Teheran dapat berkurang.

Sebaliknya, bagi Amerika Serikat dan sekutunya, kemampuan Iran mempertahankan produksi persenjataan akan menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan durasi dan intensitas operasi militer.

Konflik Berpotensi Jadi Perang Ketahanan

Pernyataan Naqdi pada akhirnya memperlihatkan bahwa Teheran tampaknya tidak hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran jangka pendek.

Iran berupaya menunjukkan bahwa negaranya siap menjalani perang ketahanan, dengan mengandalkan kemampuan produksi senjata, pengalaman tempur, dan daya tahan politik untuk meningkatkan biaya yang harus ditanggung lawan.

Jika pendekatan tersebut bertahan, konflik Iran-AS tidak semata-mata akan ditentukan oleh siapa yang memiliki keunggulan militer terbesar, tetapi juga oleh siapa yang mampu mempertahankan kemampuan tempur, ekonomi, dan dukungan politik lebih lama.

Pernyataan bahwa perang dapat berlangsung hingga akhir masa jabatan Trump karena itu menjadi sinyal bahwa Teheran sedang mempersiapkan publik dan lawannya untuk kemungkinan konflik yang jauh lebih panjang daripada satu siklus operasi militer.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.