TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK – Hamparan lahan persawahan milik warga Desa Bayah Timur, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten, diduga terdampak aktivitas perusahaan PT CG, salah satu pabrik semen yang beroperasi di wilayah Bayah.
Warga mengaku dampak tersebut mulai dirasakan sejak 2023 dan masih berlangsung hingga 2026. Selama empat tahun terakhir, sebagian lahan sawah produktif mereka tidak lagi dapat digarap.
Pantauan jurnalis TribunBanten.com di lokasi, puluhan hektare sawah yang dulunya menghasilkan padi kini berubah menjadi daratan yang dipenuhi pepohonan dan rumput ilalang.
Di sejumlah titik juga terlihat tumpukan bebatuan berukuran kecil hingga besar yang menutupi lahan persawahan. Selain itu, sumber mata air yang sebelumnya menjadi andalan untuk mengairi sawah kini disebut telah mengering.
Lokasi persawahan tersebut berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman warga dengan akses melalui kawasan perbukitan.
Seorang pemilik sawah yang terdampak, Anda (53), mengatakan lahan persawahan itu berada di wilayah Desa Pamubulan, namun mayoritas pemilik lahannya merupakan warga Desa Bayah Timur.
Baca juga: Puluhan Hektare Sawah di Bayah Diduga Terdampak Lumpur Pabrik Semen, Warga Tak Bisa Tani Sejak 2024
Ia menuturkan, sebelum mengalami perubahan, lahan tersebut merupakan sawah produktif yang mampu menghasilkan panen padi hingga tiga kali dalam setahun.
"Dulu lahan ini aktif digarap dan menjadi mata pencaharian warga untuk bertani karena ini lahan produktif. Tapi sekarang sudah menjadi daratan," katanya saat ditemui di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Menurut Anda, hilangnya sumber mata air diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan yang berada di kawasan perbukitan.
"Karena sumber airnya di atas ada tambang, sehingga mata air sudah tidak bisa mengairi persawahan warga. Mungkin gunungnya sudah dikeruk dan pepohonannya sudah tidak ada," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, para petani kini hanya mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam.
"Jadi kami hanya mengandalkan air hujan dan petani di sini jadinya petani musiman," katanya.
Ia mengaku sebelum adanya aktivitas PT CG, warga belum pernah mengalami kondisi serupa.
"Di sini belum pernah kejadian seperti ini, terkecuali longsor yang disebabkan faktor alam," ucapnya.
Selain kesulitan mendapatkan air, warga juga mengaku khawatir menggarap sawah karena takut terjadi longsoran tanah maupun batu yang diduga dipicu aktivitas blasting atau peledakan di area tambang.
"Khawatirnya takut ada lagi longsor seperti tahun 2024. Sampai batang kayu besar dan lumpur turun, ngeri," katanya.
Menurutnya, jarak antara area tambang dengan lahan persawahan warga sangat berdekatan.
"Itu bisa dilihat langsung. Tambang ada di atas, sawah ada di bawah. Mana mungkin lumpur naik ke atas, pasti ke bawah," ujarnya.
Karena sawah sudah tidak lagi bisa ditanami seperti sebelumnya, warga kini berupaya memanfaatkan lahan yang tertimbun material longsoran sebisa mungkin.
"Daripada kami rugi, akhirnya apa saja yang bisa dimanfaatkan. Tempat kita duduk ini dulunya sawah, sekarang sudah menjadi daratan," katanya.
Anda juga mengaku warga tidak mengetahui secara pasti jadwal aktivitas blasting yang dilakukan perusahaan.
"Warga mungkin tidak tahu, tahunya hanya sirene berbunyi. Setelah ada aba-aba, kemudian terdengar suara seperti ledakan bom," ucapnya.
Pernah Menerima Kompensasi
Anda mengungkapkan, pihak perusahaan pernah memberikan kompensasi kepada warga terdampak. Namun, menurutnya nilai kompensasi tersebut belum sebanding dengan kerugian yang dialami masyarakat.
"Dari perusahaan itu ada, tapi tidak sesuai dengan kerugian yang diterima warga. Kalau dari perusahaan Rp 1 juta ya Rp 1 juta, kalau Rp 2 juta ya Rp 2 juta. Hanya itu saja," katanya.
Ia menilai selama ini warga tetap bersikap baik dan tidak pernah melakukan aksi protes terhadap perusahaan.
"Cuma warga minta keadilan sekarang ini," ujarnya.
Warga berharap perusahaan dapat memberikan solusi dengan membebaskan atau membeli lahan yang selama ini terus terdampak.
"Harapannya perusahaan mengupayakan lahan-lahan warga yang sering kena dampak agar dibebaskan atau dibeli," katanya.
"Kalau digarap juga khawatir. Untuk dijadikan sawah kembali pun sudah sulit karena banyak batu dan lumpur yang menutupi sawah kami," tambahnya.
Ia mengatakan, warga sebenarnya telah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak perusahaan. Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai tindak lanjut dari aspirasi tersebut.
"Sudah ada komunikasi, cuma belum ada kepastian," ucapnya