Sejumlah Daerah di Klungkung Ini Rawan Krisis Air hingga Kebakaran Lahan, Dampak El Nino
Ida Ayu Suryantini Putri August 14, 2026 01:03 PM

 


TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Ancaman musim kemarau di Kabupaten Klungkung diperkirakan belum berakhir dalam waktu dekat. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kemarau berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino, termasuk anomali cuaca yang populer disebut sebagai Godzilla El Nino.

Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan risiko kekeringan, keterbatasan air bersih hingga kebakaran lahan.

Baca juga: Tampil Beda dengan Seragam Safety,  Perumda Panca Mahottama Curi Perhatian di Gerak Jalan Klungkung

Sejumlah wilayah yang memiliki kerentanan lebih tinggi pun mulai mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, I Putu Widiada mengatakan, potensi persoalan selama musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air.

Ancaman kebakaran, baik di lahan maupun kawasan pengelolaan sampah, juga perlu diantisipasi.

“Meski dengan keterbatasan anggaran daerah, kita tetap harus mengutamakan pelayanan kepada masyarakat dan sigap membantu warga,” ujar Widiada, Jumat (14/8/2026).

Baca juga: Diduga Dikeroyok, Pria di Klungkung Bali Alami Luka, Katrina Lihat Wajah Korban Berlumuran Darah

Widiada menyebut sejumlah kawasan di Kecamatan Dawan menjadi salah satu perhatian, khususnya Desa Pikat dan Gunaksa.

Wilayah daratan Kecamatan Nusa Penida juga masuk dalam pemetaan daerah yang berpotensi mengalami persoalan air bersih.

Kesiapsiagaan tersebut telah dibahas dalam rapat koordinasi menghadapi musim kemarau yang digelar BPBD Klungkung.

Selain menghadapi dampak kemarau, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah untuk menghadapi musim hujan berikutnya.

“Langkah antisipasi seperti normalisasi sungai untuk persiapan musim hujan hingga rencana pembuatan senderan di perbatasan Gianyar-Klungkung terus kita siapkan,” katanya.

Untuk mengantisipasi kebakaran, pengawasan akan diperketat di sejumlah titik yang dianggap rawan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali diminta meningkatkan pemantauan kawasan hutan Nusa Penida, termasuk Desa Suana, Pejukutan, Tanglad, dan Sekartaji.

Area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) juga menjadi perhatian. Armada penyiraman dan tandon air di kawasan TOSS disiagakan untuk mengurangi risiko kebakaran sampah.

Di sisi lain, ketersediaan air bersih juga menjadi perhatian pemerintah. Perumda Air Minum Panca Mahottama memastikan kapasitas produksi dari sumur dalam masih mampu memenuhi kebutuhan.

Khusus Nusa Ceningan, kebutuhan air bersih didukung teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Sementara itu, truk tangki disiapkan untuk menjangkau wilayah yang berada di titik blind spot atau sulit mendapatkan pasokan air.

Antisipasi juga dilakukan pada sektor pertanian. Pemerintah menyiapkan bibit padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, cadangan pestisida ramah lingkungan, serta perbaikan jaringan irigasi subak.

Pemerintah Kabupaten Klungkung juga tengah mengkaji mekanisme distribusi Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Pada 2026, cadangan tersebut tercatat sekitar 2.334 ton dan disiapkan sebagai salah satu penyangga apabila terjadi kondisi darurat.

BPBD Klungkung mengingatkan masyarakat agar tidak menambah risiko selama musim kemarau. Warga diminta menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran.

"Langkah tersebut dinilai penting mengingat ancaman kemarau diproyeksikan dapat berlangsung hingga Desember 2026, terlebih jika pengaruh El Nino berlangsung lebih kuat dari perkiraan," jelas Widiada. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.