Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama di Alam Megamendung Bogor
Muhamad Syarif Abdussalam August 14, 2026 01:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BOGOR - Lembaga konservasi Paseban Foundation mengonfirmasi keberadaan lima jenis primata tersisa di Pulau Jawa yang masih bertahan hidup dalam satu kesatuan bentang alam di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Temuan ini berhasil didokumentasikan melalui pemantauan terpadu berupa riset lapangan, observasi langsung, hingga pemasangan kamera jebak (camera trap).

Rangkaian hasil pemantauan ekologis tersebut dipaparkan dalam gelaran Paseban Foundation Annual Dinner 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026). Perhelatan tersebut bertepatan dengan momentum Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus penanda dua tahun kiprah yayasan tersebut.

Direktur Eksekutif Paseban Foundation, Wahdi Azmi, mengatakan bahwa Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, sebuah lanskap yang sangat didominasi manusia, tempat ruang bagi alam semakin terdesak.

"Namun, di Megamendung, kelima spesies primata yang masih tersisa di Pulau Jawa telah kami konfirmasi keberadaannya dalam satu lanskap yang relatif kecil,” tuturnya, 14 Agustus 2026.

Keterisian lima spesies primata dalam satu ruang hidup menegaskan arti strategis kawasan Megamendung sebagai suaka keanekaragaman hayati di tanah Jawa.

Tak hanya primata, inventarisasi lapangan juga mencatat kehadiran satwa mahkota seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, beserta beragam kekayaan flora-fauna ekosistem pegunungan tropis lainnya.

Secara geografis, Megamendung terletak tidak jauh dari ibu kota Jakarta serta menjadi bagian integral dari zona Cagar Biosfer Cibodas.

Posisi terluar ini membuat lanskap Megamendung sangat rentan terhadap gempuran pembangunan dan intensitas kegiatan manusia. Konsep cagar biosfer sendiri mengintegrasikan pemeliharaan hayati dengan pemanfaatan alam secara terukur, di mana tata kelolanya mencakup zona inti terlindung, area penyangga, hingga kawasan interaksi sosial-ekonomi masyarakat.

Kelangsungan hidup satwa liar pada dasarnya menyatu dengan rona ekosistem secara menyeluruh. Vegetasi hutan, jaringan tata air, ruang jelajah fauna, area bercocok tanam, hingga permukiman membentuk ikatan ekologis yang saling memengaruhi.

Paseban Foundation Annual Dinner 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Paseban Foundation Annual Dinner 2026 di Jakarta, Senin (10/8/2026). (Tribun Jabar)

Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, menegaskan bahwa batas-batas administratif tidak selalu sejalan dengan proses yang berlangsung di alam. Air dapat mengalir melintasi wilayah pemerintahan, sementara satwa bergerak mengikuti ketersediaan habitat dan sumber pakannya. 

Oleh sebab itu, ia menggarisbawahi pentingnya model konservasi kolaboratif yang menautkan peran pemerintah, warga, sektor swasta, akademisi, hingga pegiat lingkungan dalam satu manajemen ekosistem terpadu.

Penerapan konsep tersebut salah satunya direalisasikan lewat gerakan penanaman vegetasi endemik sebagai langkah pemulihan bentang alam Megamendung. Mencapai bulan Agustus 2026, Paseban Foundation tercatat telah menanam sebanyak 21.831 bibit pohon lokal demi merehabilitasi struktur tutupan hijau sesuai karakteristik aslinya.

Selain memperkuat penanganan langsung di zona alami (in-situ), Paseban Foundation juga mulai merambah skema perlindungan di luar habitat asal (ex-situ). Jika tindakan in-situ berfokus menjaga fauna di ruang liarnya, tindakan ex-situ diarahkan pada upaya pembiakan serta penangkaran terukur di lingkungan luar habitat.

Dalam hal ini, Paseban Foundation telah mengantongi izin resmi untuk membiakkan jenis burung dan mamalia secara non-komersial.

Sejauh ini, unit penangkaran tersebut telah membuahkan hasil dengan lahirnya tiga ekor anak rusa. Ke depan, rusa-rusa tersebut diproyeksikan untuk dilepasliarkan kembali (reintroduksi) ke habitat asli Megamendung guna merestorasi mata rantai ekologis.

Meski demikian, pengembalian satwa ke alam bebas tidak sekadar memindahkan individu dari tempat penangkaran ke dalam hutan. Tahapan tersebut menuntut proses rehabilitasi ketat, pengujian naluri bertahan hidup, evalua

si kelayakan habitat tujuan, serta pemantauan pasca-pelepasliaran guna mencegah timbulnya dampak negatif bagi populasi maupun lingkungan penerima.

Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, Andy Utama, menyatakan bahwa kerja pemulihan lingkungan di Megamendung memerlukan komitmen waktu yang amat panjang.

Wawasan ini melandasi tercetusnya Megamendung Century Initiative, sebuah arah visi jangka panjang untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan mendekati kondisi alaminya pada 100 hingga 200 tahun silam.

Agenda ini tidak bertujuan mengulang kondisi masa lalu secara mentah, melainkan memulihkan daya dukung lingkungan, termasuk keutuhan habitat, rantai interaksi antarsatwa, kerapatan vegetasi, kestabilan sumber air, serta keharmonisan aktivitas warga sekitar.

Andy menekankan bahwa misi konservasi tidak akan rampung hanya dalam hitungan satu atau dua generasi saja.

“Pada akhirnya kita semua akan kembali. Karena itu, pekerjaan ini harus memiliki penerus. Konservasi membutuhkan endurance dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.