300 Tokoh Dunia Bakal Berkumpul di GIHES 2026, Bahas Masa Depan Pesantren dan Generasi Muda
Samsul Arifin August 14, 2026 01:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Perkembangan teknologi yang begitu cepat membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Di tengah kemudahan akses informasi, generasi muda justru dinilai menghadapi persoalan karakter, mental, kemampuan berkolaborasi, hingga kepemimpinan.

Persoalan tersebut akan menjadi salah satu perhatian utama dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.

Forum pendidikan internasional ini akan mempertemukan tokoh pendidikan, pimpinan pesantren, akademisi, hingga pemangku kebijakan dari berbagai negara untuk membicarakan arah pendidikan holistik di tengah perubahan zaman.

GIHES 2026 dijadwalkan berlangsung pada 5–6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Forum ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dan digelar secara terbatas dengan hanya menghimpun 300 peserta dari berbagai negara.

“Sangat disayangkan jika momentum ini tidak diikuti oleh para tokoh pendidikan dan pimpinan pesantren. Namun, karena ini adalah forum tingkat tinggi yang sangat berkualitas, kami membatasi kepesertaan secara ketat hanya untuk 300 peserta dari berbagai negara,” ungkap Ketua Panitia GIHES, K.H. Anang Rikza, M.A., Ph.D., dalam keterangan persnya, Jumat (14/8/2026).

Perhelatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Pondok Modern Darussalam Gontor, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, dan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG).

GIHES 2026 secara khusus dirancang untuk membedah masa depan pendidikan holistik sekaligus melihat bagaimana pesantren dapat mengambil peran lebih besar dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.

Baca juga: MPR RI Dukung Gelaran GIHES 2026, Gontor Siap Tunjukkan Pendidikan Pesantren ke Panggung Dunia

Kerapuhan Mental Generasi Muda Jadi Sorotan

Ketua Panitia GIHES, KH. Adrian Mafatihullah, menjelaskan bahwa salah satu fokus utama pembahasan adalah fenomena kerapuhan mental yang kian melanda generasi muda dunia.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi yang pesat belum selalu diikuti dengan kesiapan karakter dan kepemimpinan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi lembaga pendidikan dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan menghadapi persoalan kehidupan.

“Pesatnya kemajuan teknologi informasi belum diimbangi dengan kesiapan karakter dan kepemimpinan,” papar K.H Adrian.

Ia menyebut masih banyak generasi muda yang mengalami kesulitan dalam membangun kolaborasi, tidak memiliki etos kerja yang kuat, serta lemah dalam aspek leadership.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan pendidikan holistik dinilai semakin relevan.

Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membangun kemampuan akademik, tetapi juga membentuk mental, moral, karakter, dan keterampilan sosial peserta didik.

“Kami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati itu ada di pesantren, di mana selama 24 jam penuh santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya,” jelas Kyai Adrian.

Baca juga: Gubernur Lemhannas Bakal Jadi Pembicara GIHES 2026, Soroti Peran Pesantren dalam Ketahanan Negara

Gontor Dorong Model Pendidikan Pesantren ke Kancah Global

Melalui GIHES 2026, Pondok Modern Darussalam Gontor berupaya memperkenalkan model pendidikan pesantren yang telah diterapkan selama ini sebagai salah satu pendekatan yang dapat menjawab tantangan pendidikan global.

Konsep tersebut menempatkan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara menyeluruh.

Tidak hanya aspek intelektual yang menjadi perhatian, tetapi juga pembinaan mental, moral, karakter, serta kemampuan beradaptasi dan bekerja sama dengan orang lain.

Guna memberikan wawasan global yang komprehensif, GIHES 2026 tidak hanya menghimpun para pemimpin pendidikan dari kawasan Asia. Forum ini juga menghadirkan pakar dan pembicara kunci yang merepresentasikan lima benua.

Kehadiran para narasumber dari berbagai latar belakang dan wilayah diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta dalam melihat tantangan pendidikan masa depan.

“Kehadiran narasumber lintas benua ini diharapkan mampu membantu peserta membedah sistem pendidikan masa depan yang relevan tanpa mengabaikan nilai-nilai moral,” paparnya.

Ditargetkan Lahirkan Kolaborasi Internasional

GIHES 2026 tidak hanya diarahkan menjadi ruang pertukaran gagasan. Pertemuan para tokoh pendidikan dan pimpinan pesantren dari berbagai negara tersebut juga diharapkan membuka peluang kolaborasi internasional.

Melalui forum terbatas ini, pesantren ingin ditempatkan sebagai bagian dari percakapan global mengenai masa depan pendidikan. Pengalaman dan model pendidikan pesantren diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai moral.

Penyelenggara menargetkan pertemuan tersebut dapat menghasilkan gagasan dan kerja sama yang berkelanjutan, khususnya dalam memperkuat peran pesantren dalam perkembangan pendidikan dunia.

“Pertemuan strategis di Hotel Borobudur ini ditargetkan melahirkan kolaborasi internasional untuk memperkuat posisi pesantren dalam kancah peradaban global menuju abad kedua Gontor,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.