Cancel Culture, Gerakan Masyarakat Penghancur Karier Seseorang
Joko Widiyarso August 14, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah Tribunners melihat tokoh publik yang tidak diterima di mana-mana? Yang isi komentar media sosialnya lebih banyak komentar buruknya?

Di era digital, satu unggahan bisa menyebar ke ribuan bahkan jutaan pengguna dalam waktu singkat. 

Hal ini membuat kesalahan atau kontroversi yang dilakukan seseorang juga lebih mudah diketahui orang yang lebih banyak. 

Tidak jarang, ketika seseorang dianggap melakukan sesuatu yang salah, muncul ajakan untuk berhenti mengikuti, memboikot, atau tidak lagi mendukung orang tersebut.

Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan istilah cancel culture

Istilah ini naik ketika seorang figur publik, influencer, selebritas, atau bahkan sebuah perusahaan tersandung kontroversi. 

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan cancel culture

Makna Cancel Culture

Sederhananya, cancel culture adalah tindakan menarik dukungan terhadap seseorang atau suatu kelompok karena dianggap melakukan sesuatu yang tidak dapat dimaafkan oleh masyarakat.

Kata “cancel” sendiri berarti “membatalkan”. 

Dalam konteks ini, bukan berarti seseorang benar-benar dihapus dari keberadaannya, tetapi lebih kepada “membatalkan” dukungan publik terhadap orang tersebut.

Bentuk cancel culture bermacam-macam, mulai dari berhenti mengikuti akun media sosial, berhenti membeli produk, mengajak orang lain untuk melakukan boikot, hingga meminta pihak tertentu mengambil tindakan terhadap orang yang dianggap melakukan kesalahan.

Fenomena ini biasanya muncul karena adanya penolakan terhadap tindakan, perkataan, atau perilaku seseorang.

Media sosial memegang peran besar sebagai tempat bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik dan menentukan apakah mereka masih ingin memberikan dukungan atau tidak.

Cara Kerja Cancel Culture 

Cancel culture biasanya dimulai dari munculnya suatu tindakan atau pernyataan yang dianggap bermasalah.

Informasi mengenai hal tersebut kemudian dibagikan di media sosial dan mendapatkan perhatian dari semakin banyak orang.

Setelah kontroversi viral, warganet mulai memberikan tanggapan yang bervariasi. 

Ada yang mengkritik, meminta klarifikasi, berhenti mengikuti akun, bahkan mengajak orang lain untuk tidak lagi mendukung pihak tersebut.

Jika tekanannya semakin besar, dampaknya bisa meluas ke kehidupan profesional seseorang, seperti pembatalan kerja sama atau pembatalan acara.

Ironisnya, proses ini tidak selalu berjalan berdasarkan informasi yang lengkap. 

Karena media sosial bergerak sangat cepat, seseorang bisa saja langsung dicancel sebelum konteks sebenarnya diketahui. 

Inilah yang membuat cancel culture menjadi fenomena yang cukup kompleks.

Lantas, Apakah Cancel Culture Hal yang Baik?

Di satu sisi, cancel culture dapat menjadi bentuk penghakiman sosial. 

Ketika seseorang yang memiliki pengaruh melakukan tindakan yang merugikan, masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan memilih untuk tidak lagi memberikan dukungan. 

Dalam situasi tertentu, tekanan publik bahkan dapat membuat seseorang lebih bertanggung jawab atas tindakannya.

Namun, cancel culture juga bisa menjadi masalah ketika dilakukan tanpa mempertimbangkan fakta dan konteks. 

Informasi yang belum terbukti bisa terlanjur dipercaya, sementara kesalahan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki justru berujung pada hukuman sosial yang berlebihan.

Selain itu, viralnya suatu kasus juga bisa membuat hukuman yang diterima seseorang tidak sebanding dengan kesalahannya. 

Orang yang awalnya hanya melakukan kesalahan kecil dapat menerima hujatan dari ribuan orang di berbagai belahan dunia karena kasusnya menyebar terlalu luas.

Karena itu, yang menjadi persoalan bukan sekadar “boleh atau tidak meng-cancel seseorang”, tetapi bagaimana masyarakat merespons kesalahan tersebut.

Kritik, boikot, dan menarik dukungan bisa menjadi bentuk konsekuensi yang wajar. 

Namun, sebelum ikut melakukan cancel, penting untuk Tribunners memastikan informasi yang diterima benar, memahami konteksnya, dan membedakan antara meminta seseorang bertanggung jawab dengan ikut menghukum karena FOMO.

Pada akhirnya, cancel culture menunjukkan betapa besarnya kekuatan masyarakat di media sosial.

Dengan ini, seseorang dapat lebih berhati-hati dan bertanggung jawab lagi dalam melakukan hal apapun semasa hidupnya.

(MG Hasna Aulia Syafitri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.