Prabowo: Tidak Boleh Lagi Ada Anak Sekolah yang Bertaruh Nyawa Menyeberang Sungai
GH News August 14, 2026 03:08 PM

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa melalui konektivitas antardesa, tidak boleh lagi ada siswa yang bertaruh nyawa menyeberang sungai untuk ke sekolah. Hal ini ia sampaikan dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR Tahun 2026 hari ini, Jumat (14/8/2025).

"Tidak boleh lagi ada anak-anak kita yang harus bertaruh nyawa hanya untuk menyeberang sungai untuk ke sekolah, karena tidak ada jembatan. Berangkat ke sekolah harus berjalan berjam-jam. Berangkat basah, di kelas basah, pulang basah. Tidak boleh terjadi," ucap Prabowo.

Prabowo mengatakan bahwa pada 2026, jembatan desa yang sudah dibangun berjumlah lebih dari 3.000. Target pada akhir tahun akan ada lebih dari 5.000 jembatan desa.

"Tahun ini kita telah menyelesaikan 2.500 jembatan desa yang dibangun oleh TNI dan 872 jembatan desa yang dibangun oleh Kepolisian RI. Target kita pada akhir tahun ini selesai 5.000 lebih jembatan desa," lanjut Prabowo.

Prabowo berharap para gubernur, bupati, hingga kepala desa bisa mengecek kondisi konektivitas antardesa di wilayahnya. Nantinya, jika pihak daerah tidak bisa mengatasi, maka akan ditangani pemerintah pusat.

"Kita berharap para gubernur, para bupati, para camat, para kepala desa, semuanya mengecek desa-desanya: di mana lagi dibutuhkan jembatan desa. Laporkan. Kalau gubernur, bupati, kepala desa, tidak bisa bisa mengatasi. Pemerintah pusat akan turun dan mengatasi. Kita tidak bisa membiarkan rakyat kita terlantar," imbuhnya.

Bertekad Teruskan MBG, Tapi....

Dalam pidatonya, Prabowo menyebutkan pembangunan manusia, yang dimulai dari gizi yang terpenuhi. Bahkan menurutnya, banyak kenyataan bahwa anak-anak tidak makan pada pagi hari.

"Kita memulai dari hal paling dasar yaitu gizi. Tidak boleh ada anak-anak kita belajar dalam keadaan lapar. Tidak ada anak yang dapat belajar dengan baik apabila ia lapar," ucapnya.

"Mungkin sebagian di antara kita tidak akan pernah melihat, merasakan anak-anak yang tidak makan pada pagi hari. Tapi itulah kenyataan yang kita hadapi," tambahnya.

Dengan alasan ini, kata Prabowo, pemerintah ingin melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Terlebih, kondisi stunting di beberapa tempat di Indonesia mencapai 25 persen.

Menurut Prabowo, jika anak-anak mengalami stunting, saat dewasa mereka akan kesulitan untuk bekerja.

"1 dari 4 anak di Indonesia ada yang mengalami stunting. Sel otak tidak berkembang dengan baik, sel otot tidak berkembang dengan baik, sel tulang tidak berkembang dengan baik. Untuk jadi buruh pelabuhan saja, ia mungkin tidak akan sanggup. Untuk jadi buruh petani saja mungkin juga dia tidak akan sanggup," tuturnya.

"Kita tidak boleh menerima 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting. Kita tidak boleh menerima itu. Dan karena itu saya bertekad teruskan program MBG tapi dengan perbaikan, dengan efisiensi," imbuhnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.