TRIBUNBEKASI.COM- Menjadi aparatur sipil negara (ASN) bukan perkara mudah. Persaingan untuk mendapatkan posisi sebagai PNS sangat ketat.
Namun, setelah berhasil menjadi ASN, sebagian orang justru memilih meninggalkan status tersebut.
Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat, sebanyak 384 orang benar-benar keluar dari ASN tanpa hak pensiun sepanjang Semester I 2026.
Jumlah itu terdiri dari 233 ASN dan 151 CASN.
Sebanyak 384 orang tersebut merupakan bagian dari 2.722 orang yang masuk dalam data pengunduran diri ASN pada Semester I 2026.
Namun, tidak seluruhnya benar-benar meninggalkan status ASN.
Sebanyak 1.147 orang merupakan PPPK paruh waktu yang beralih menjadi PPPK penuh waktu di instansi baru. Mereka mengundurkan diri secara administratif dari instansi lama, tetapi tetap berstatus ASN.
Sementara 962 PNS lainnya masuk kategori pensiun dini yang berkaitan dengan penerbitan surat keputusan pensiun pada Semester I 2026.
Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, alasan ASN yang benar-benar mengundurkan diri cukup beragam.
Mulai dari persoalan keluarga, ingin fokus pada pekerjaan atau bidang lain, lokasi kerja terlalu jauh, kondisi sakit, hingga keinginan mengembangkan usaha.
"Namun yang terpenting, kami dari BKN meluruskan pandangan bahwa jumlah mayoritas murni karena perubahan status kepegawaian, dan telah memenuhi syarat pensiun," ujar Zudan.
Di sisi lain, minat masyarakat untuk menjadi PNS masih sangat tinggi.
Zudan mengatakan rata-rata hanya sekitar 7 persen peserta yang berhasil masuk menjadi PNS.
"Peminat ke PNS tinggi sekali. Rata-rata yang masuk ke PNS hanya 7 persen dari seluruh peserta, jadi sangat tinggi persaingannya," kata Zudan.
Artinya, seseorang harus melewati persaingan ketat untuk mendapatkan status sebagai PNS.
Namun, setelah berhasil masuk, sebagian orang justru memilih keluar.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI) Eko Prasojo menilai perubahan cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan menjadi salah satu faktor.
Menurutnya, sebagian anak muda kini tidak hanya mempertimbangkan keamanan dan kepastian kerja, tetapi juga mencari tantangan serta ruang untuk berkembang.
"Menurut saya karena bekerja sebagai ASN tidak kompetitif, selain insentifnya mungkin di bawah standar swasta, pekerjaannya juga tidak men-challenge anak-anak muda," ujar Eko.
Pilihan pekerjaan di sektor swasta maupun ekonomi digital juga semakin beragam dan menawarkan fleksibilitas.
Karena itu, status ASN tidak selalu menjadi alasan seseorang untuk bertahan hingga masa pensiun.
Fenomena 384 ASN yang mengundurkan diri pun tidak berarti profesi ASN sudah kehilangan peminat. Tingginya persaingan masuk PNS menunjukkan pekerjaan tersebut masih banyak diburu masyarakat.
Namun, bagi sebagian orang, kondisi setelah menjadi ASN ternyata tidak selalu sesuai dengan harapan sehingga mereka memilih melanjutkan karier di luar birokrasi.