TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Medan tebing yang terjal serta minimnya sumber air sempat menyulitkan tim gabungan saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bukit Solok Bio-Bio, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Kamis (13/8/2026) sore.
Beruntung, hujan yang turun di kawasan tersebut membantu petugas hingga api akhirnya berhasil dipadamkan.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Ferdinal Asmin, mengungkapkan bahwa kondisi geografis menjadi kendala utama petugas di lapangan.
"Usai menerima laporan tim, Brigade SDH bersama BPBD dan Damkar Kabupaten Limapuluh Kota sudah berada di lokasi untuk proses pemadaman saat itu. Api saat ini sudah padam," ujar Ferdinal saat diwawancarai TribunPadang.com Jumat (14/8/2026).
Ferdinal menjelaskan, proses pemadaman sempat menghadapi kendala teknis.
Baca juga: Bukit Solok Bio-Bio Terbakar, Dinas Kehutanan Sebut Api Diduga Berawal dari Bakar Sampah
Kondisi medan berupa tebing bukit yang curam membuat titik api sulit dijangkau. Selain itu, lokasi kebakaran juga jauh dari sumber air.
"Karena yang terbakar adalah tebing bukit, sehingga sedikit menyulitkan tindakan. Pas tim datang sedang penanganan, namun karena kondisi lapangan jauh dari sumber air, petugas harus menunggu suplai air menggunakan mobil damkar," kata Ferdinal.
Akibat keterbatasan tersebut, upaya pemadaman sempat terkendala.
Sehingga petugas kemudian memfokuskan penanganan dengan menyekat pergerakan api agar tidak merambat turun menuju permukiman warga.
Baca juga: Update Kebakaran Tugboat Symphony di Padang: Satu Korban Meninggal, Operasi SAR Ditutup
Upaya tersebut dilakukan tim gabungan bersama Babinsa TNI setempat. Sementara penanganan karhutla di kawasan Bukit Solok Bio-Bio juga terbantu kondisi cuaca.
Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang turun di kawasan Harau saat proses pemadaman berlangsung. Hujan tersebut membantu meredakan kobaran api di kawasan perbukitan.
"Info terakhir api sudah tidak terlihat lagi, terbantu oleh hujan meskipun tidak lebat," ungkap Ferdinal.
Berdasarkan laporan sementara, luas area perbukitan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai satu hektare. Meski api telah padam, petugas tetap bersiaga memantau lokasi guna mengantisipasi munculnya titik api susulan.
Terkait penyebab kebakaran, Ferdinal mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman. Namun, dugaan sementara kebakaran berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merembet ke tebing bukit.
"Dugaan yang sedang didalami karena ada yang membakar sampah sehingga merembet ke tebing bukit. Namun penyebab pastinya masih didalami," tambah Ferdinal.
Ia menegaskan penyebab pasti kebakaran masih dalam proses pendalaman.
Ferdinal mengatakan kejadian di Bukit Solok Bio-Bio menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap aktivitas pembakaran lahan di tengah potensi karhutla.
Sebelumnya, Dinas Kehutanan Sumbar telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal tahun.
Salah satunya melalui surat Gubernur Sumbar kepada bupati dan wali kota untuk mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas membakar lahan.
"Ya, kita sudah antisipasi. Dari awal tahun kita sudah lakukan antisipasi karhutla, termasuk secara administratif melalui surat gubernur kepada bupati dan wali kota," kata Ferdinal.
Baca juga: Polresta Padang Bagikan Bendera Merah Putih ke Pengendara Usai Upacara Pecat Personel
Ia mengatakan imbauan tersebut diharapkan diteruskan hingga ke tingkat bawah agar masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka maupun mengelola lahan.
Selain itu, Dinas Kehutanan Sumbar telah menggelar apel siaga kebakaran hutan dan lahan pada Mei 2026 untuk mengecek kesiapan pengendalian karhutla.
Koordinasi juga dilakukan bersama Polda Sumbar dan TNI untuk memastikan kesiapsiagaan penanganan karhutla dari tingkat pusat hingga daerah.
Dalam penanganan karhutla, Dinas Kehutanan Sumbar memiliki 12 unit Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Masing-masing KPH memiliki brigade pengendalian kebakaran hutan yang dapat dikerahkan ketika terjadi kebakaran.
Selain brigade, Dinas Kehutanan juga melibatkan Masyarakat Peduli Api dan lembaga masyarakat perlindungan hutan berbasis nagari.
Masyarakat menjadi bagian dari penanganan awal apabila menemukan kebakaran di wilayahnya.
Jika api tidak mampu dikendalikan, masyarakat akan melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kehutanan sehingga brigade dapat turun ke lokasi.
Baca juga: Sumbar Raih Dua Penghargaan Pemda Berprestasi 2026, Dapat Insentif Fiskal Rp3,5 Miliar
"Nanti brigade kita akan turun. Nanti dalam koordinasi kita juga dengan BPBD, Polri dan juga TNI," ujar Ferdinal.
Menurutnya, penanganan karhutla memang membutuhkan koordinasi lintas sektor. BPBD juga dapat memobilisasi kekuatan dari TNI, Polri, masyarakat hingga pihak swasta.
Ferdinal berharap kebakaran di Bukit Solok Bio-Bio tidak meluas dan kejadian serupa tidak kembali terjadi di wilayah Sumbar.
"Kita tetap hati-hati, kita berharap memang benar-benar tidak terjadi kebakaran di Sumatera Barat yang meluas," pungkasnya.(*)