TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di sebagian besar keluarga Indonesia, urusan mengasuh anak kerap kali masih dianggap sebagai tugas domestik ibu. Sementara itu, sosok ayah lebih banyak diposisikan sebatas pencari nafkah.
Padahal, absennya keterlibatan ayah secara emosional atau fenomena fatherless dapat membawa dampak signifikan bagi perkembangan mental serta perilaku anak.
Konselor Dr. Heru Mugiarso, Kons, menegaskan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan memiliki dampak yang sangat vital, dengan bentuk pendekatan yang berbeda antara anak perempuan dan anak laki-laki.
Baca juga: Rahasia Mental Baja Asila Maisa Hadapi Hujatan Netizen, Tips Parenting Sang Ibu Avi Basalamah
Bagi anak perempuan, sosok ayah adalah sumber utama kasih sayang dan tempat mendapatkan validasi. Kebutuhan psikologis ini sebenarnya dapat dipenuhi lewat tindakan sederhana sehari-hari, seperti memberikan pujian tulus atau pelukan hangat.
Sayangnya, Heru menilai gestur kasih sayang semacam ini masih sering dianggap canggung dalam budaya banyak keluarga. Padahal, ketika anak perempuan tidak mendapatkan penerimaan dan rasa berharga dari sang ayah di rumah, ia rentan mencari sosok pengganti dari luar.
"Jika anak tidak menemukan validasi di rumah, ia akan mencari perhatian dari luar. Risikonya, ia bisa terjebak dalam hubungan yang toksik karena dimanfaatkan atau dimanipulasi oleh orang yang salah," ungkap Heru dalam acara Momspiration "Ramai Isu Fatherless: Tantangan Ayah LDM dan Single Mom" di kanal YouTube Tribun Health, Kamis (13/8/2026).
Berbeda dengan anak perempuan, bagi anak laki-laki ayah berperan sebagai cermin utama atau role model. Anak laki-laki belajar memahami gambaran ideal tentang cara bersikap, bertanggung jawab, dan bertindak sebagai seorang pria melalui perilaku ayahnya sehari-hari.
"Kalau ayahnya tidak bisa memberikan role model yang positif, anak berisiko tidak mendapatkan gambaran yang utuh tentang sosok pria sejati," jelas Heru.
Oleh karena itu, Heru mendorong keluarga modern untuk mulai menerapkan pola pengasuhan bersama (co-parenting). Budaya yang menganggap tugas ayah selesai setelah memenuhi kebutuhan finansial harus dikikis.
Kedekatan emosional tidak harus dibangun melalui aktivitas rumit. Komunikasi sederhana, meluangkan waktu untuk bermain, serta mendengarkan cerita anak sudah cukup menjadi sarana bagi anak untuk merasakan kehadiran dan kepedulian seorang ayah.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)