Enam Mahasiswa FK UNAIR Dalami Terapi Musik untuk Pasien Paliatif di Thailand
Wiwit Purwanto August 14, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA - Enam mahasiswa kedokteran FK UNAIR mengikuti program “Music in Healthcare” di Fakultas Kedokteran Rumah Sakit Siriraj, Universitas Mahidol, Thailand, memadukan seni musik dengan pembelajaran kedokteran holistik dan adaptif dalam kesehatan global.

Selama hampir tiga pekan, para mahasiswa menjalani rangkaian kegiatan secara hybrid, mulai sesi daring pada 13–18 Juli 2026 hingga kegiatan onsite di Bangkok pada 31 Juli–9 Agustus 2026.

Program ini mempertemukan minat mereka di bidang musik dan paduan suara dengan pendekatan pelayanan kesehatan yang menempatkan aspek humanis sebagai bagian dari perawatan.

Dekan FK UNAIR beserta jajaran pimpinan memberikan dukungan terhadap keterlibatan mahasiswa dalam program internasional tersebut.

Annette d'Arqom, dr., M.Sc., Ph.D., selaku Deputy of Student Mobility di Office of International Affairs (OIA) FK UNAIR, menilai partisipasi internasional penting untuk mengembangkan karakter dan keahlian mahasiswa.

Baca juga: FK Unair Datangkan Dua Pakar Belanda, Peneliti Muda Berpeluang Tembus Jurnal Dunia

"Selain memperluas cakrawala akademik, program ini menjadi wujud nyata upaya FK UNAIR dalam mengintegrasikan keahlian klinis dengan pemahaman kedokteran holistik yang berstandar internasional," ungkap dr. Annette.

Musik Jadi Bagian dari Pendekatan Penyembuhan

Program “Music in Healthcare” dirancang untuk memadukan minat seni mahasiswa dengan praktik medis. Selama berada di Thailand, delegasi FK UNAIR mendalami peran terapi musik dalam layanan kesehatan, terutama perawatan paliatif (palliative care), kesejahteraan pasien, dan peningkatan kualitas hidup lansia.

Di bawah bimbingan langsung Puchong Chimpiboon, Terapis Musik Tingkat Profesional Senior di Siriraj Palliative Care Center, mahasiswa melakukan observasi klinis di dua unit unggulan.

Di Siriraj Palliative Care Center, mereka mengamati penggunaan terapi suara dan musik untuk mengurangi kecemasan sekaligus mendampingi pasien dalam fase paliatif. Sementara di Siriraj Applied Thai Traditional Medicine, mahasiswa mempelajari integrasi pengobatan tradisional dengan pendekatan holistik dalam pelayanan kesehatan modern.

Pengalaman tersebut membawa mahasiswa melihat langsung bagaimana seni musik dapat ditempatkan dalam konteks pelayanan kesehatan, bukan sekadar sebagai aktivitas rekreasi.

Baca juga: Banyak Salah Kaprah soal Vertigo, Mahasiswa FK Ubaya Ajak Warga Lebih Waspada

Pada 2 Agustus 2026, para delegasi juga mengamati penerapan terapi medis dan rekreasi di pusat perawatan lansia di Bangkok. Mereka mengunjungi SPLA Elderly Medical Center serta Ilada Health Care yang berada di wilayah Bangkok Noi.

Di kedua fasilitas tersebut, mahasiswa mengamati sesi terapi musik, bernyanyi bersama, serta kegiatan interaksi sosial bagi penghuni lansia dan pasien rehabilitasi pasca-stroke.

Suci Rahmawati, perwakilan mahasiswa FK UNAIR, menyampaikan antusiasmenya mengikuti pengalaman tersebut.

"Kami berenam berkesempatan mengunjungi SPLA Elderly Medical Center serta Ilada Health Care yang berlokasi di wilayah Bangkok Noi. Di kedua pusat perawatan medis berfasilitas modern tersebut, kami mengamati serta berinteraksi secara langsung dalam sesi terapi musik, bernyanyi bersama, dan kegiatan sosial bagi para penghuni lansia maupun pasien rehabilitasi pasca-stroke," ungkap Suci.

Kehadiran delegasi FK UNAIR mendapat sambutan hangat dari manajemen SPLA Elderly Care Center dan Ilada Health Care. Penyelenggara juga mengapresiasi antusiasme dan kepedulian mahasiswa Indonesia dalam mempelajari sistem perawatan lansia berbasis multidisiplin.

Pendekatan tersebut melibatkan berbagai tenaga kesehatan, mulai dari spesialis geriatri, fisioterapis, okupasi terapis, hingga praktisi akupunktur.

Perkuat Jejaring dan Wawasan Kedokteran Global

Keterlibatan enam mahasiswa dalam program tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran kedokteran tidak hanya berkaitan dengan literasi akademis dan keterampilan klinis dasar. Pengalaman lintas negara juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami pendekatan penyembuhan yang lebih humanis dan berbasis seni atau integrative healthcare.

Baca juga: Awas Bahaya Mengintai di Kamar Mandi, Pakar FK Unesa Beberkan Pemicu Stroke Perdarahan

Melalui program ini, FK UNAIR memperkuat kolaborasi internasional sekaligus mendorong mahasiswa mengenali praktik pelayanan kesehatan dari perspektif yang lebih luas. Pengalaman di Thailand menjadi bagian dari upaya membentuk calon dokter yang empati, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu kedokteran.

Partisipasi tersebut sekaligus menegaskan keterlibatan FK UNAIR dalam jejaring kolaborasi global dan upaya mencetak tenaga medis yang siap menghadapi tantangan kesehatan di tingkat dunia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.