SURYA.CO.ID - PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), operating company PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom), terus memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur digital wholesale connectivity yang netral, andal, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan.
Penguatan tersebut dilakukan setelah Spin-Off InfraCo Tahap 1 efektif sejak Januari 2026. Seiring transformasi itu, InfraNexia mencatat pertumbuhan bisnis positif, memperluas kolaborasi dengan pelanggan eksternal, serta meningkatkan operational excellence melalui penguatan tata kelola, kualitas layanan, dan efektivitas model operasi.
Capaian pada tahap pertama menjadi fondasi bagi Telkom untuk melanjutkan transformasi melalui Spin-Off InfraCo Tahap 2 dengan nilai transaksi mencapai Rp49,9 triliun.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, Spin-Off InfraCo Tahap 2 menjadi tonggak penting untuk mempercepat transformasi bisnis TelkomGroup sekaligus sejalan dengan inisiatif Danantara Asset Management dalam mengonsolidasikan aset BUMN.
"Melalui langkah ini, Telkom berupaya mempertajam fokus pengelolaan aset infrastruktur digital agar lebih lincah dalam menangkap peluang pasar, memperluas kolaborasi, serta menciptakan nilai jangka panjang," kata Dian, Jumat (14/8/2026).
TelkomGroup juga mendorong akselerasi strategi TLKM 30, khususnya pilar unlock value melalui percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi, seperti data center, tower, dan jaringan fiber.
Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan.
“Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis guna mendukung percepatan konektivitas digital nasional," jelas Dian.
Setelah seluruh proses pengalihan portofolio bisnis dan aset rampung, InfraNexia akan memiliki lebih dari 90 persen total aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya dimiliki Telkom.
Aset tersebut mencakup jaringan akses ke pelanggan hingga core backbone serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
Secara keseluruhan, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di seluruh Indonesia. Total jaringan tersebut hampir setara tiga kali keliling bumi.
"Dengan kepemilikan aset ini, InfraNexia akan memperkuat perannya sebagai penyedia layanan wholesale connectivity yang berfokus pada pengembangan infrastruktur konektivitas digital nasional," ungkap Dian.
Dian menegaskan, Spin-Off InfraCo Tahap 2 tidak hanya berorientasi pada optimalisasi aset, tetapi juga peningkatan pengalaman pelanggan.
"Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan strategic initiative dari TelkomGroup yang tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih fokus, agile, dan berdaya saing. Dengan kehadiran InfraNexia kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan," lanjutnya.
Langkah ini menjadi bagian dari implementasi strategi transformasi TLKM 30 untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital melalui optimalisasi aset strategis, peningkatan efisiensi operasional dan investasi, serta pengembangan bisnis melalui kemitraan strategis.
Inisiatif tersebut sekaligus mendukung transisi Telkom menuju strategic holding dengan struktur organisasi yang lebih fokus pada penciptaan nilai dan sinergi antarentitas.
"Melalui pemisahan ini, TelkomGroup diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan," terang Dian.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan implementasi strategi penataan portofolio TelkomGroup untuk membangun bisnis infrastruktur digital dengan proposisi nilai yang lebih kuat.
"Melalui pembentukan InfraNexia, Telkom tidak hanya mengoptimalkan pemanfaatan aset dan meningkatkan fleksibilitas dalam mengembangkan peluang kemitraan, tetapi juga menciptakan fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan bagi seluruh portofolio bisnis TelkomGroup," tambah Seno.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi TelkomGroup dalam mendukung pengembangan ekosistem infrastruktur digital Indonesia yang lebih terbuka, kompetitif, dan berdaya saing global.
Meski kepemilikan saham mayoritas berada di tangan Telkom dengan porsi lebih dari 99 persen, InfraNexia akan tetap beroperasi secara profesional dalam melayani seluruh pelanggan.
"Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan layanan konektivitas yang lebih andal, berkualitas tinggi, dan mendukung upaya TelkomGroup dalam memperluas penetrasi fixed broadband guna mendukung percepatan pemerataan konektivitas digital di Indonesia," beber Seno.
Transformasi InfraNexia sejalan dengan praktik sejumlah operator telekomunikasi global dalam memperkuat bisnis infrastruktur digital. Pembentukan entitas infrastruktur yang lebih fokus dinilai dapat membantu perusahaan mengoptimalkan aset, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kemitraan strategis, dan menciptakan nilai jangka panjang.
Pendekatan serupa telah diterapkan oleh sejumlah operator internasional, seperti Telstra, Telecom Italia (TIM), CETIN, Telenor, Telefónica, dan KPN, dalam mengembangkan bisnis wholesale connectivity yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf menegaskan, penyelesaian spin-off menjadi fondasi penting bagi perusahaan.
“Kami optimistis penyelesaian spin-off ini semakin memperkokoh InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur konektivitas wholesale yang netral dan andal," papar Lukman.
Dengan integrasi aset yang semakin matang, InfraNexia akan memperkuat layanan mulai dari 5G backhaul, wholesale network, FTTx, hingga passive infrastructure sharing.
"Lebih jauh, kami sudah melakukan akselerasi program network modernization dan mendorong implementasi autonomous network guna menghadirkan infrastruktur konektivitas yang lebih cerdas, efisien, dan adaptif. Upaya strategis ini akan memperkuat kesiapan kami dalam pengembangan konektivitas mendukung pertumbuhan AI, cloud, dan data center di Indonesia. Semua ini kami jalankan dengan fokus utama kepada pertumbuhan bisnis dan kepuasan pelanggan,” imbuh Lukman.
Spin-Off InfraCo Tahap 2 menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memberikan nilai tambah bukan hanya bagi pelanggan wholesale, tetapi juga bagi ekosistem digital nasional secara keseluruhan.
Proses transaksi akan berlangsung secara seamless sehingga tidak berdampak pada layanan pelanggan.
"TelkomGroup juga memastikan seluruh proses transaksi dilakukan secara transparan dengan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) serta memenuhi ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku, termasuk peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," pungkas Dian.